24 February 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mengenal Lebih Dekat Sosok Multitalenta Nanda Feriana

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 11 November 2016 16:05 WIB

Nanda Feriana. @istimewa
Nanda Feriana. @istimewa

CANTIK, muda, dan berbakat melekat pada gadis ini. Lulusan Universitas Malikussaleh ini aktif dalam sejumlah organisasi dan komunitas. Ia juga mendapat sederet penghargaan dalam bidang menulis dan kepemudaan. Inilah Nanda Feriana, 22 tahun, asal Gampong Tambon Tunong, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara.

Nanda menjadi pribadi mandiri dan tidak manja atas didikan ibunya, Syarkiah yang berprofesi sebagai guru. Sementara ayahnya, Hamdani meninggal dunia karena sakit ketika ia masih berusia empat tahun. Dari sosok sang ibu, Nanda belajar, wanita itu tidak boleh manja dan cengeng. Wanita harus bisa menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah yang datang.

"Saya belajar banyak hal dari ibu yang berjuang keras membesarkan saya dan kakak. Dulu, ibu harus naik turun gunung dengan menumpang mobil pengangkut kayu untuk mengajar di salah satu sekolah pedalaman. Ibu saya tipikal perempuan yang kuat dan berprinsip. Didikan itulah yang ditanamkan ke saya agar mandiri, tidak manja, apalagi cengeng," ujar Nanda kepada portalsatu.com, Jumat, 11 November 2016.

Anak bungsu dari dua bersaudara itu mengawali pendidikannya di SD 1 Yapena PT. Arun, berlanjut ke SMPs Al-Alaq PT. AAF dan SMA Negeri 1 Dewantara. Tahun 2011 setelah lulus SMA, ia melanjutkan studi di Universitas Malikussaleh (Unimal) Lhokseumawe dan berhasil meraih gelar Sarjana Komunikasi (2016).

Nanda juga telah melewati beberapa pendidikan nonformal dan aktif di berbagai komunitas. Di antaranya, Sekolah Menulis dan Kajian Media (SMKM), DE-RE Indonesia Kota Lhokseumawe, Sekolah Menulis dan Apresiasi Sastra, Dewan Kesenian Aceh (DKA) Bidang Sastra Cabang Lhokseumawe, Sekolah Demokrasi Aceh Utara (SDAU), Komunitas Indonesia Untuk Demokrasi (KID)-LSM Sepakat Kota Lhokseumawe.

Selain itu, anggota Teater UKM Seni Meurah Silue Unimal, Sekretaris Komunitas  Perfilman Ilmu Komunikasi (2012), anggota Bidang Informasi dan Komunikasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unimal (2013), Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Komunitas Demokrasi Aceh Utara (KDAU) 2014 hingga kini, Founder/inisiator Jaroe Aceh Youth Community (JAY-C) 2015 hingga saat ini, dan Volunteer serta Bendahara Gerakan Mari Sekolah  (Maret 2015-April 2016).

"Saya menyukai dunia media dan juga hobi cuap-cuap. Saya mengidolakan sosok Najwa Syihab. Saya ingin menjadi penulis novel dengan tema budaya dan perempuan. Intinya, saya ingin memiliki karya yang bisa menginspirasi orang lain," kata Nanda.

Impian terbesar lainnya bagi Nanda mengembangkan komunitas JAY-C agar menjadi wadah positif dan tempat lahirnya  pemimpin-pemimpin muda pilihan untuk Aceh. Dalam waktu dekat, pihaknya akan membuka rekrutmen generasi kedua JAY-C dan pelatihan. Ia berharap banyak anak muda ikut berpatisipasi.

"Ketika duduk di bangku kuliah semester enam, saya sempat menjadi jurnalis di salah satu media on line selama enam bulan dan fokus pada feature bertema human interest. Bagi saya belajar itu tidak cukup hanya teori. Kampus sebagai tempat menyerap teori, sedangkan praktiknya ada di kehidupan nyata," ucap Nanda.

Nanda melihat profesi jurnalis itu penuh tantangan, identik maskulin, menuntut kritis dan skeptic, dan harus multitasking tentunya. Namun sejauh ini, ia belum memutuskan, apakah akan kembali terjun ke dunia jurnalistik atau tidak.

"Awalnya ibu meragukan keaktifan saya di luar kampus karena khawatir kuliah terbengkalai. Tapi saya membuktikan ke ibu, IPK tidak mengecewakan, di atas 3,5. Saya sering berkata ke adik-adik mahasiswa lainnya agar jangan pernah menjadi mahasiswa miskin yang hanya merasa kaya dengan IPK. Carilah ilmu dan pengalaman di luar pintu kelas. Itulah cara memperkaya diri dalam hal pengetahuan, pengalaman dan cara bersikap (kedewasaan)," beber Nanda yang juga hobi bernyanyi.

Nanda aktif pula dalam berbagai kegiatan sosial. Baginya, kegiatan sosial itu obat penenang jiwa dan banyak memberi pelajaran dalam hidup yang mampu mengikis keegoan diri. Bertemu banyak orang dengan berbagai kondisi, khususnya kondisi sulit sehingga mampu menumbuhkan jiwa kemanusiaan, mematangkan cara berpikir dan bertindak, dan mengajarkan diri menjadi pribadi humble dan membumi.

"Semoga dalam waktu dekat saya bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Jika ada beasiswa tentunya," pungkas Nanda yang pernah meraih juara I lomba menulis artikel tentang Investasi Aceh tingkat mahasiswa se-Aceh dan Delegasi Aceh untuk Indonesia Youth Dream Camp 2015 di Yogyakarta Indonesian Youth Dream /IYD 2015.

Berikut beberapa prestasi lainnya yang pernah diraih Nanda:

Badan Promosi dan Investasi Aceh+Atjehpost.com+MIFA 2013, juara 2 Lomba Menulis Opini tentang Kearifan Lokal Aceh tingkat Mahasiswa se-Aceh Utara, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Malikussaleh 2013, Juara 1 Lomba menulis essay tentang perjuangan hidup Sultan Malikussaleh kategori umum wilayah Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, DPD KNPI Aceh Utara 2014, Juara 2 Lomba Debat Pesta Demokrasi Indonesia 2014.

Juara 2 Lomba menulis essay tentang Multikulturalisme di Aceh tingkat mahasiswa se-Aceh, The Aceh Institute 2013, Juara 2 lomba debat Bahasa Inggris MTQ mahasiswa ke 4, tentang Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme di Indonesia, Juara 3 Pembacaan Puisi tingkat mahasiswa dan umum se-Kota Lhokseumawe, Juara 3  Lomba Penulisan Kreatif tentang Kependudukan BKKBN Aceh 2014, Juara 2 Lomba menulis opini tentang pembangunan Aceh tingkat Mahasiswa se-Aceh Public Expenditure Analysis and Capasity Strengthening  Program (PECAPP) Aceh 2014, dan Duta Propinsi Aceh untuk Forum Indonesian Youth Conference 2014 di Jakarta, Sinergi Muda 2014.

Nanda juga pernah meraih penghargaan KNPI Aceh Award Kategori Pemuda Berprestasi dalam Dunia Kepemudaan dan Gerakan Sosial DPD KNPI Aceh 2015, dan  penghargaaan ‘Communication Science Award’ Kategori Mahasiswa Berprestasi Pekan Ilmu Komunikasi (Pimikom) Fisip Unimal 2016. []

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2015 - 2017 All Rights Reserved.