20 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mengenal Pembaca Hikayat Aceh Tgk. Ibrahim PMTOH

...

  • CUT ISLAMANDA
  • 22 April 2017 10:25 WIB

Tgk. Ibrahim PMTOH. @Istimewa
Tgk. Ibrahim PMTOH. @Istimewa

LHOKSUKON – Saat ini, jumlah pembaca hikayat Aceh dapat dihitung dengan jari. Tidak banyak yang tertarik dengan warisan indatu itu. Salah satu pembaca hikayat Aceh saat ini adalah Teungku Ibrahim PMTOH. Lelaki paruh baya itu merupakan salah satu sosok yang berjasa membangun peradaban budaya Aceh dengan hikayat.

Di era tahun 1980-an, Teungku Ibrahim belajar memperdalam kepiawaian bermain “PMTOH” melalui Teungku Adnan PMTOH. Bisa dikatakan, Teungku Adnan merupakan guru Teungku Ibrahim, baik secara langsung atau pun tidak langsung. Karena figur yang diidolakan Teungku Ibrahim dalam berkesenian ketika itu adalah Teungku Adnan.

Masa itu, semarak hikayat meriah dibaca di kampung-kampung dan radio. Tgk. Ibrahim sering tampil gemilang menuturkan hikayat dari panggung ke panggung. Hikayat yang dibaca pada waktu itu rata-rata bertema sejarah Aceh dan hikayat yang bernafaskan Islam, seperti hikayat berkisah tentang syuhada, aulia, dan pahlawan.

Tgk. Ibrahim PMTOH merupakan pelaku seni tutur kelahiran Gampong Paya Kambuek, Kecamatan Meurah Mulia, Aceh Utara, sekitar 56 tahun silam. Ia merupakan pembaca hikayat Aceh andalan kontingen Kabupaten Aceh Utara dalam even pameran pendidikan, kebudayaan, dan pembangunan. Ia juga sering mewakili Aceh Utara dalam arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) di Ibu Kota Serambi Mekkah, Banda Aceh.

“Ketika tampil di pentas saat menuturkan hikayat, ayah (Teungku Ibrahim PMTOH), selalu berpenampilan sederhana. Ia juga meniup bansi (seruling) dan menabuh rapa’i dengan suara beralun dan bertalu-talu. Menambah keasyikan suara di sela lantunan hikayat Aceh. Mendapat gemuruh suara kegirangan penonton saat menyaksikan adegan baca hikayat sebagai salah satu khazanah tamadun kejayaan budaya indatu Aceh,” ujar Hamdani Mulya, 38 tahun, anak kandung Tgk. Ibrahim PMTOH kepada portalsatu.com, Kamis, 20 April 2017.

Hamdani menjelaskan, sekitar tahun 1990-an, ayahnya sering mendapat dukungan dan arahan dari H. Dahlan, pegawai Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, untuk mengembangkan hikayat sebagai tradisi masyarakat Aceh yang mengandung pesan-pesan moral.

“Adakalanya hikayat juga dibacakan di hadapan masyarakat Aceh untuk memberi nasehat dengan ungkapan-ungkapan yang halus. Ayah juga mengoleksi Hikayat Raja-raja Pasai, hikayat yang sudah langka dan dicari-cari kolektor naskah hikayat saat ini. Namun, naskah yang ada di rumah ayah hanya berupa naskah fotokopi yang didapatkan dari gurunya Tgk. Adnan para tahun 1990-an,” ujar Hamdani yang juga mengikuti jejak seni sang ayah.

Menurut Hamdani, semasa kecil ia sering diejek dan dicemooh teman-temannya karena sering menemani sang ayah saat manggung membaca hikayat Aceh. “Saya dulu sering diejek teman-teman karena sering ikut saat ayah manggung membaca hikayat Aceh. Namun, saya tidak malu, saya bangga memiliki ayah seorang pembaca hikayat Aceh,” kata pria yang kini mengajar di MAN Lhokseumawe.

Hikayat Aceh merupakan karya sastra Aceh berbentuk puisi atau syair. Hikayat berasal dari bahasa Arab  ‘hikayah’ yang berarti ‘cerita’. Dalam bahasa Melayu, hikayat merupakan naratif prosa (serupa haba dalam bahasa Aceh dan novel dalam sastra modern). Sementara dalam bahasa Aceh, hikayat berbentuk puisi atau syair.

Hikayat ialah salah satu warisan kebudayaan indatu (nenek moyang) orang Aceh yang sudah dikenal sejak masa Kesultanan Aceh. Hikayat merupakan rumpun sastra Nusantara yang dipengaruhi unsur Islam, dan salah satu karya sastra berasal dari Timur Tengah yang kental dengan pengaruh Arab.[]

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.