23 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia

Arafat Bin Ali
Pernah Sareng Kupi Hingga Tarek RBT, Ekskombatan yang Jadi Dewan Periode Kedua

...

  • PORTALSATU
  • 02 September 2019 12:00 WIB

Arafat Ali di sela-sela geladi bersih pengucapan sumpah dan janji anggota DPRK Aceh Utara periode 2019-2024 di gedung dewan, 1 September 2019. Foto: istimewa
Arafat Ali di sela-sela geladi bersih pengucapan sumpah dan janji anggota DPRK Aceh Utara periode 2019-2024 di gedung dewan, 1 September 2019. Foto: istimewa

Arafat Bin Ali mendapat undangan masuk UGM Yogyakarta setelah tamat SMA Kuta Makmur, Aceh Utara, tapi gagal duduk di bangku kuliah akibat faktor ekonomi keluarga tak mendukung. Putra petani miskin Gampong Blang Ara ini kemudian menjadi pekerja sareng kupi, mengoperasikan mesin perontok padi hingga tarek RBT. Pahit getir hidupnya membuat ekskombatan pasukan Siwah GAM tersebut berjuang menjadi orang yang memiliki kedudukan penting untuk dapat membantu masyarakat.

Mantan striker PS Kuta Makmur yang kini menjadi presiden klub sepak bola itu, hari ini, 2 September 2019, kembali mengucap sumpah dan janji sebagai anggota DPRK Aceh Utara periode kedua. Bahkan, kader Partai Aceh yang meraih suara terbanyak hasil Pemilu 2019 ini dikabarkan dipersiapkan menjadi calon Ketua DPRK masa jabatan 2019-2024.

***

Tampil elegan dalam balutan kemeja putih lengan pendek dipadu celana hitam lengkap dengan peci, Arafat baru selesai shalat Zuhur saat portalsatu.com menemuinya di Lhokseumawe, Ahad, 1 September 2019. Sebelum mengikuti geladi bersih pengucapan sumpah dan janji anggota DPRK Aceh Utara periode 2019-2024, Ahad sore, mantan anggota dewan masa jabatan 2014-2019 ini berbagi kisah perjalanan hidupnya.

Lahir di Gampong Blang Ara, Kecamatan Kuta Makmur, 5 Mei 1979, Arafat adalah anak keempat dari enam bersaudara dari pasangan (almarhum) Ali dan Helmiah. Semasa hidupnya, Ali adalah petani kecil. “Selain bertani, beliau juga membeli pisang dan daun pisang dari warga lain. Dari Blang Ara usai Subuh dibawa dengan sepeda ke Pasar Inpres di kota Lhokseumawe untuk dijual lagi. Beliau kemudian meninggal dunia tahun 2011,” kenang Arafat.

Ibu kandung Arafat, Helmiah, hanya ibu rumah tangga. Lima saudara Arafat saat ini masing-masing sebagai juru foto pengantin, PNS guru agama, mantan geuchik, anggota Satpol PP, dan pegawai Sekretariat Batul Mal.

Arafat menikah dengan gadis Gampong Cot Reu, Kuta Makmur, Julina, sebelum diberlakukan Darurat Militer masa konflik Aceh. Saat ini Julina berprofesi guru PNS SD Kuta Makmur. Mereka sudah dikarunia tiga anak, Tanasa Mahira, Muhammad Mulki Nahar, dan Muhammad Danis Fayazi.

***

Arafat melewati masa remaja dengan membantu orang tuanya bertani setelah pulang sekolah. “Menanam cabai, jagung dan tanaman muda lainnya di glee (gunung), selain padi di sawah,” ujarnya.

Di sela-sela membantu orang tuanya bertani, Arafat menyalurkan hobi bermain sepak bola. Dia bergabung dengan Persiba yang kini berubah nama menjadi PS Kuta Makmur. Dalam kesebelasan itu, posisi Arafat sebagai penyerang yang kerap “merobek” jala gawang klub lawan. “Kita sering juara turnamen,” ucap mantan striker PS Kuta Makmur yang sekarang dipercayakan menjadi presiden klub sepak bola tersebut.

Arafat menamatkan SD, SMP dan SMA di Kuta Makmur. Hasil Ebtanas terakhir, dia meraih nilai tertinggi, sehingga mendapat undangan masuk Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1996.  “Saat itu (yang mendapat undangan) diambil tiga SMA dengan nilai terbanyak di Aceh Utara. Kebetulan SMA Kuta Makmur nomor tiga terbanyak, dan siswa itu adalah saya. Namun, karena faktor ekonomi, saya gagal duduk di bangku kuliah kampus ternama di Indonesia itu,” tuturnya.

Dia pun menjadi pengangguran setelah tamat SMA. Dia kemudian bekerja sareng kupi di warung kopi milik orang lain, 1997-1999. “Setelah dua tahun meukat kupi (jualan kopi), karena Aceh sedang bergejolak (konflik bersenjata), saya bergabung dengan GAM. Pertama, menjadi anggota pasukan Siwah GAM, kemudian dipercaya sebagai Danru (Komandan Regu) Siwah GAM,” ujar Arafat.

Pelatih Arafat dalam pasukan GAM antara lain (almarhum) Ayah Saridin, yang merupakan pamannya. “Selain itu, Bang Razali atau dikenal dengan sebutan Mie-ong. Panglima Sagoe GAM Tgk. Chik di Buloh saat itu (almarhum) Adnan atau Toke Adnan alias Kofi Anan, lalu (almarhum) Pak Abu, mantan guru. (Panglima Sagoe) sekarang, Saiful Bahri atau Pon Yahya (anggota DPRA Dapil Lima dari PA terpilih hasil Pemilu 2019),” katanya.

***

Pascadamai Aceh tahun 2005, Arafat yang baru turun gunung kemudian bekerja mengoperasikan mesin perontok padi milik orang lain. “Selain itu, pernah tarek RBT (tukang ojek) di Kuta Makmur,” ujar Arafat.

Beberapa tahun berikutnya, Arafat dipercayakan menjabat Mukim GAM Lampoh Raya Sagoe Tgk. Chik di Buloh Daerah II Wilayah Pase. Saat itu, dia menjadi salah satu penghubung untuk menjembatani aspirasi masyarakat Kuta Makmur, baik kebutuhan fasilitas umum maupun pemberdayaan ekonomi, agar mendapat perhatian dari Pemerintah Aceh Utara.

“Mungkin karena dianggap berhasil membantu masyarakat, dari situlah timbul inisiatif dari jajaran GAM untuk diusung kita sebagai perwakilan (caleg) PA dari Kuta Makmur pada Pemilu 2014 lalu. Saat Pileg 2014 itu, Alhamdulillah, saya meraih 3.700 lebih suara, sehingga menjadi anggota DPRK,” kata Arafat.

Selama DPRK periode 2014-2019, Arafat pernah menjabat Wakil Ketua Komisi C (bidang keuangan), Sekretaris Komisi D (pembangunan), dan Ketua Panitia Anggaran Dewan. Sedangkan di internal partai, dia menjabat Sekretaris PA Kuta Makmur, sekitar 2014-2017, dan saat ini sebagai Tuha Peut PA kecanatan itu.

“Kesan di periode pertama, Alhamdulillah, berhasil memperjuangkan, terutama sarana ibadah hampir merata di Kuta Makmur, sudah sekitar 70 persen. Juga sarana jalan, jembatan, dan kebutuhan lainnya untuk masyarakat,” ujar Arafat.

Arafat menyebutkan, “Selama lima tahun itu, saya sering duduk dengan gure-gure atau ulama di Kuta Makmur. Saya minta ditegur kalau salah langkah, minta diingatkan kalau kinerja saya kurang maksimal. Jadi, saya membuka diri menerima kritik, saran dan masukan”.

Arafat diusung kembali sebagai caleg PA pada Pemilu 2019. Dia merupakan caleg PA yang meraih suara terbanyak, mencapai 5.231 suara, disusul Jirwani alias Nek Jir dari Kecamatan Nisam pada posisi kedua, dan Tgk. Nazaruddin asal Kecamatan Simpang Kramat di urutan ketiga. Ketiga kader PA itu terpilih dari Daerah Pemilihan yang sama, Kecamatan Kuta Makmur, Simpang Kramat, Syamtalira Bayu, Nisam, Nisam Antara, Geureudong Pase, dan Banda Baro. PA meraih empat kursi dari alokasi delapan kursi Dapil III Aceh Utara.

Lihat pula: Inilah 45 Anggota DPRK Aceh Utara 2019-2024

Menurut sejumlah sumber, PA Aceh Utara akan memberikan kepercayaan kepada Arafat untuk memanggul jabatan Ketua DPRK periode 2019-2024. Namun, Arafat menundukkan kepalanya saat ditanyakan terkait informasi tersebut. Dia hanya mengatakan, dirinya sangat bersyukur mendapatkan kembali kepercayaan rakyat untuk menjadi anggota DPRK periode kedua.

Arafat berkomitmen untuk tetap amanah dan istikamah.  “Karena sejak awal nawaitu dan tujuan PA untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat dalam segala aspek,” ucap pria yang mengaku jiwanya “galak keumanfaat keu ureung rame, karna tanyoe berasal dari ureung peudeh (ingin menjalani hidup yang bermanfaat bagi banyak orang, karena ia berasal dari keluarga miskin”.

Lantas, apa fokusnya di periode kedua ini? “Insya Allah, kita akan melanjutkan yang tertunda, terutama memperjuangkan pembangunan infrastruktur untuk kepentingan masyarakat, seperti irigasi dan jalan. Selain itu, sarana rumah ibadah yang memadai. Kita juga akan terus mendorong pemerintah daerah agar memfasilitasi pemasaran komoditas-komoditas hasil panen petani Aceh Utara, sehingga memberikan nilai tambah dan meningkatkan perekonomian rakyat,” kata Arafat yang kini tercatat sebagai mahasiswa semester lima Jurusan Manajemen Universitas Al-Muslim Bireuen.[](*)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.