13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Makam Tertua dan Pemukiman Muslim Terawal di Asia Tenggara

...

  • PORTALSATU
  • 19 April 2018 19:35 WIB

Nisan bertarikh tertua di Asia Tenggara, di Leubok Tuwe, Meurah Mulia, Aceh Utara. Pemilik makam ini tokoh penting bergelar 'Mahbub qulub al-khala'iq' Ibnu Mahmud, wafat 622 Hijriah/1226 Masehi. @CISAH
Nisan bertarikh tertua di Asia Tenggara, di Leubok Tuwe, Meurah Mulia, Aceh Utara. Pemilik makam ini tokoh penting bergelar 'Mahbub qulub al-khala'iq' Ibnu Mahmud, wafat 622 Hijriah/1226 Masehi. @CISAH

Tanggal 18 April 2018, bertepatan dengan peringatan Hari Warisan Dunia (World Heritage Day), saya bersama kawan-kawan dari Pusat Informasi Warisan Pusaka Samudra Pasai atau CISAH (Center of Information for Samudra Pasai Heritage) melakukan penyusuran dan pendataan ulang di pedalaman Aceh Utara. Titik fokus sebelah barat aliran lama Sungai Pasai, yang secara administrasi berada di Gampong Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara. 

Beberapa bukit kecil dan lembah-lembah Sungai Pasai tidak luput dari penyusuran kali ini, untuk menemukan tinggalan dan tapak sejarah yang masih terkubur maupun terbengkalai. Karena kawasan ini adalah wilayah penting untuk kita catat bersama sebagai titik nol peradaban Islam di Asia Tenggara dalam arti yang sebenar-benarnya. Betapa tidak, di pedalaman yang hening ini ada dua tokoh yang beristirahat dengan tenang. Makam keduanya memuat epitaf yang tercantum tarikh atau penanggalan tertua di seluruh kawasan Asia Tenggara.

Namun jangan berharap di sini ada peringatan upacara yang megah layaknya di pulau sana dalam peringatan 'World Heritage Day', hari ini (18 April 2018), karena tempat ini tidak banyak yang mengenalnya. Kedua makam ini sampai sekarang belum dijadikan situs cagar budaya oleh pihak yang selama ini “menepuk dada” sebagai Balai Pelestarian Cagar Budaya. Atau mungkin karena ini dipandang hanya sebagai seonggok batu tanpa nilai, dan menafikan informasi yang terpahat di permukaannya?

Benar memang, kawasan ini tidak terdapat bangunan batu bertingkat-tingkat yang terpahat relief-relief tokoh kuno layaknya Kuil Borobudur. Kita akui juga tempat ini tidak meninggalkan bangunan batu menjulang ke langit layaknya Kuil Prambanan. Karena masyarakat pendukung kawasan ini dahulu bukanlah penganut budaya materi, masyarakat di sini sekadar berperan menyempurnakan tatanan hidup masyarakat Asia Tenggara, untuk dikembalikan pada tujuan asli menyangkut hajat hidup manusia melalui wahyu yang diterima manusia terpilih.

Kawasan inilah yang mengubah wajah Asia Tenggara seperti saat ini. Karena peran besar kawasan ini (Samudra Pasai) dahulunya lah, pada abad ke-21 sekarang ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Ya, hanya sekadar itu saja warisan pusaka dari tanah ini.

Hari Warisan Pusaka Dunia tidak pernah sampai di kawasan ini, walau kami berusaha mengglobalkan diri untuk ikut memperingatinya. Namun rasa dari peringatan hari ini tak sanggup untuk mengeluarkan tempat ini dari keterasingan. Ada air mata yang mendorong kami agar masyarakat dunia tahu bahwa induk Warisan Pusaka Islam Asia Tenggara sesungguhnya ada di sini, di balik rumput tropis yang udaranya tak lagi sejuk.

Sekadar untuk berbagi bagaimana rasanya sesuatu yang sangat penting menjadi terasing, kiranya ada sedikit sajian tentang apa yang tertulis di salah satu batu nisan ini.

Berikut hasil kajian dari tim ahli epigrafi CISAH: (Terjemahan):

1. Inilah kubur

2. orang yang berbahagia, yang syahid, orang yang dicintai oleh hati banyak orang

3. putra Mahmud, diwafatkan pada tanggal hari setelah kedua dari [?] Ahad (yakni, Rabu),

4. akhir Dzul Hijjah tahun enam ratus (600)
5. dan (tambah) dua puluh dua (22) dari hijrah Nabi.

Pemilik makam ini adalah tokoh (syuhada) penting yang bergelar “Mahbub qulub al-khala'iq” Ibnu Mahmud, wafat 622 Hijriah/1226 Masehi.[]

Pasai, Rabu 18 April 2018.

Penulis: Arya Purbaya/Koordinator Ekspedisi CISAH

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.