22 January 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Muzakarah Ulama Tingkat Dunia di Palembang

  • PORTALSATU
  • 06 December 2016 15:15 WIB

Muzakarah ulama tingkat dunia yang dilaksanakan pada 4-8 Rabi’ul Awal 1438 H/4-8 Desember 2016 diprakarsai Yayasan Pendidikan dan Dakwah Amanat Kesejahteraan Ummat Islam (AKUIS) Palembang sudah dirancang dan direncanakan sejak tahun 2006/2007.

Tanggal 25 Februari 2007 lahir Dewan Perancang dan Panitia Persiapan Muzakarah Ulama tingkat Dunia (DP3MUD). Sejak tahun 2008 panitia tersebut mensosialisasikan Muzakarah Ulama Serumpun Melayu dan terlaksana pada tanggal 27-31 Desember 2010 di Palembang. Salah satu hasil Muzakarah Ulama Serumpun Melayu adalah menetapkan kembali Ustaz Muhammad Bardan Kindarto sebagai Ketua Dewan Perancang dan Ustaz Arbani Al Semuntuli sebagai Ketua Panitia Pelaksana.

Muzakarah Ulama tingkat Dunia ini dirancang dan dilaksanakan berdasarkan pemikiran yang diramu dari beberapa ayat Al-Qur’an yang menetapkan manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi yang Allah berikan kekuasaan untuk menjalankan titah perintah Allah yang terkandung dalam agama Islam. Umat Islam harus berusaha keras untuk menjemput janji-janji Allah dalam Al-Qur’an agar hukum Allah wujud di muka bumi ini, demikian tutur pendiri dan perancang muzakarah ulama ini, Ustaz Muhammad Bardan Kindarto kepada penulis tahun 2010 lalu.

Jadi muzakarah yang berlangsung 4-8 Rabi’ul Awal 1438 H/4-8 Desember 2016 di Asrama Haji Palembang tersebut secara operasional sudah dirancang dan dilaksanakan dengan sangat bersahaja oleh panitia yang sudah dipersiapkan sepuluh tahun lalu. Alhamdulillah kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas panitia yang dikomandani Ustaz Arbani Al Semuntuli tersebut sudah sampai kepada titik pusat pelaksanaan muzakarah yang dihadiri 120 orang peserta. Di antaranya seorang dari Lebanon, seorang dari Kamboja, seorang dari Timur Leste, dan dua orang dari Malaysia. Selebihnya dari dalam negeri yang menyebar dari Sumatera sampai Irian Jaya. Dari Aceh hadir tiga orang, yaitu: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., MA (Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh), Ustaz Mahyuddin (pimpinan Hidayatullah Aceh, dan Ustaz Baharuddin dari Aceh Tenggara). Awalnya panitia pelaksana telah mengundang 313 orang ulama dari seluruh dunia terdiri dari 300 orang dari Asia, dua orang dari Australia, lima orang dari Eropa, tiga orang dari Afrika, dan tiga orang dari Amerika. Namun sebagian mereka tidak sempat hadir.    

Perjalanan Operator Muzakarah   

Perjalanan Muzakarah Ulama tingkat Dunia ini terasa sangat luar biasa dan unik karena ia dirancang, digarap dan dilaksanakan satu panitia yang dibentuk sebuah yayasan yang berdiri pada tahun 1990, bernama Yayasan Pendidikan dan Dakwah AKUIS bermarkas di Banyuasin Palembang. Biasanya program besar yang menghadirkan ulama seluruh dunia semacam ini dilaksanakan suatu pemerintah dari sebuah negara di dunia. Namun kali ini ia mampu dialaksanakan hanya oleh sebuah yayasan pendidikan dan dakwah yang secara material tidak memiliki dana memadai untuk keperluan tersebut.

Namun berkat kerja serius dilandasi keikhlasan seorang ulama pergerakan asal pulau Jawa bernama Muhammad Bardan Kindarto, memompa semangat dan ilmu lewat pengajian tafsir kepada para jama’ah pengajiannya di kota Palembang sehingga wujud yayasan pendidikan dan dakwah AKUIS. Maka berhasillah pelaksanaan Muzakarah Ulama tingkat Dunia (MUTD) ini. Karena sosok pionir ulama kharismatik ini sangat sederhana dan khusyuk maka para jama’ah rela berkorban untuk Islam dan umat Islam sebagai agama dan saudaranya sehingga perjalanan MUTD ini dapat berjalan dengan sukses atas biaya ditanggung para jama’ah pengajian tersebut.

Ini merupakan sebuah usaha dalam perjalanan hidup seorang ulama tafsir bernama Muhammad Bardan Kindarto yang sudah banyak makan asam garamnya perjuangan Islam mulai dari pergerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) sampai kepada pergerakan Komando Jihad yang dituduh rezim Soeharto terhadap dirinya. Berbekal perjalanan hidup semisal itulah tampaknya beliau di penghujung kehidupannya berhijrah dari pulau Jawa ke pulau Sumatera tepatnya ke kota Palembang untuk membuka lahan perjuangan baru lewat jalur pendidikan dan dakwah yang diwujudkan dalam bentuk yayasan pendidikan dan dakwah AKUIS.

Sayang seribu kali sayang, rancangan yang dipersiapkan dari awal perjuangan tidak sempat dilaksanakan berhubung Allah sudah memanggilnya tiga minggu sebelum pelaksanaan MUTD tersebut. Beliau meninggal dunia setelah mengalami sesak nafas ringan selama dua hari dua malam dan diantarkan ke rumah sakit di mana beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Namun demikian rancangan yang sudah matang menuju MUTD tidaklah terganjal dengan keberangkatan beliau untuk selama-lamanya. Para penerus perjuangan beliau melanjutkan pelaksanaan MUTD sehingga sampai ketujuan yang telah ditetapkan.

MUTD

Muzakarah Ulama Tingkat Dunia yang disingkat MUTD ini dilaksanakan selama lima hari, 4-8 Rabi’ul Awal 1438 H/4-8 Desember 2016 M di Asrama Haji Palembang Sumatera Selatan yang terlaksana atas inisiatif para pengurus yayasan pendidikan dan dakwah AKUIS.

Panitia pelaksana, Ustaz Arbani Al Semuntuli melaporkan bahwa MUTD ini terlaksana atas inisiatif yayasan pendidikan dan dakwah AKUIS dengan bantuan keuangan murni dari para jama’ah pengajian yang selama ini dipimpin ketua perancang Allahyarham Muhammad Bardan Kindarto.

Dilaporkan juga bahwa panitia pelaksana kegiatan ini terdiri dari para pengurus yayasan, para guru di yayasan, dan para peserta dari jama’ah pengajian yang dengan ikhlas berbakti untuk kemajuan dan kejayaan Islam dalam rangka menjemput janji Allah dalam Al-Qur’an. Selama lima hari pelaksanaan muzakarah para peserta diberikan konsumsi dan akomodasi yang memuaskan di asrama haji Palembang. Ketua panitia juga melaporkan bahwa pelaksanaan muzakarah ini lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta untuk memberikan pikiran dan pemikiran untuk mewujudkan satu lembaga yang disebut dengan nama AHLUL HALLI WAL ‘AQDI, lembaga ini disusuli dengan pembentukan beberapa dewan sesuai dengan kebutuhan.

Ketua yayasan pendidikan dan dakwah AKUIS, Ustaz Wahadi dalam sambutannya menjelaskan bahwa yayasan yang lahir tahun 1990 itu sudah memiliki empat cabang di seluruh Sumatera Selatan. Bidang garap yayasan adalah pendidikan dan dakwah, pendidikan diwujudkan dalam bentuk pendirian lembaga pendidikan seperti taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan pendidikan-pendidikan informil seperti seminar, muzakarah dan seumpamanya.

Sementara dakwah digerakkan melalui dakwah billisan seperti ceramah, khuthbah jumat dan dua hari raya, pengajian-pengajian dan sejenisnya serta dakwah bil hal dan bil risalah wal maqalah. Alhamdulillah lewat jalur pendidikan dan dakwah yang digerakkan yayasan AKUIS sudah banyak kader yang lahir dan berkiprah baik di Sumatera Selatan maupun diluarnya yang bertugas di wilayah-wilayah di luar sumatera Selatan. Ini merupakan hasil kerja nyata yang tidak terlepas dari usaha keras serius dan ikhlas para pengurus yayasan tersebut, demikian jelas Ustaz Wahadi dalam sambutannya.

Gubernur Sumatera Selatan diwakili Asisten III Ahmad Najib dalam sambutannya menggambarkan bahwa Sumatera Selatan terdiri dari 17 kabupaten/kota dengan jumlah penduduknya delapan juta jiwa, kerukunan ummat beragama terjamin sampai sekarang, dan pembangunan infra struktur berjalan lancar sampai hari ini, asrama haji di Palembang merupakan salah satu yang terbaik di Indonesia. Keunggulan Sumatera Selatan lainnya yang sedang berlanjut adalah akan segera dibangun masjid terindah di Asia Tenggara yang diberi nama Masjid Sriwijaya, demikian tegas Ahmad Najib.

Muzakarah yang awalnya dimintakan Presiden RI untuk membukanya kemudian dialihkan kepada Menteri Agama. Namun karena Menteri Agama berhalangan maka muzakarah dibuka Dirjen Pendidikan Diniyah dan Pesantren, Dr. Soewendi, M.Ag. Dalam sambutannya Soewendi mengatakan, Indonesia yang tidak kurang dari 70.000 pulau terdiri dari berbagai keragaman hidup bangsa yang dilandasi berbagai harapan, peluang dan tantangan seperti radikalisme, sentiment kesukuan, sentiment khilafiah dan sebagainya.

Ia mengharapkan para ulama yang bermuzakarah harus mampu menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin yang sejuk, aman, damai dan muslihat dalam hidup dan kehidupan. Ia juga berucap: ulama Indonesia harus menjunjung tinggi kebinnekaan yang mempersatukan semangat keagamaan dengan keindonesiaan karena kebangsaan dan ke-Islaman modal kemerdekaan negara. Ia juga berharap muzakarah dapat menghasilkan gerakan dakwah yang rahmatan lil ‘alamin, kompentensi ulama harus didorong menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan eksistensi negara, dan bagaimana menerjemahkan ayat-ayat Al-Qur’an secara praktis sehingga mudah dipahami dan dimengerti oleh ummah untuk diamalkan dalam kehidupannya. Namun terjemahan tersebut tidak boleh sembarangan, harus dilakukan oleh ualama-ulama yang berkapasitas dan berkompeten untuk itu, demikian tegas Soewendi.

Ada nilai lebih yang perlu ditauladani dan diikuti  umat Islam lain di bumi ini dari pelaksanaan MUTD adalah; keikhlasan, keseriusan, kesigapan insan-insan mukhlis dari yayasan pendidikan dan dakwah AKUIS yang tidak mengenal lelah mewujudkan MUTD sehingga berhasil dilaksanakan. Tanpa bantuan pemerintah, tanpa bantuan aghniya yang lazim terjadi terhadap even-even bertahab dunia lainnya AKUIS mampu melaksanakannya dengan baik dan sukses, Alhamdulillah. Semoga usaha mulya ini juga dapat dilaksanakan oleh ummat Islam lain di berbagai wilayah dunia raya untuk mengembangkan Islam dan menegakkan hukum Islam di muka bumi ini yang diamanahkan Allah kepada para khalifahNya.[]

Penulis: Dr. Tgk. Hasanuddin Yusuf Adan, MCL., M.A. (Ketua Umum Dewan Dakwah Aceh & Dosen Siyasah Fak. Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry)

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2015. All Rights Reserved.