26 April 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Sepucuk Surat untuk Para Mantan Kombatan GAM Pidie

...

  • portalsatu.com
  • 05 October 2016 11:15 WIB

Ilustrasi. @atjehcyber
Ilustrasi. @atjehcyber

BEBERAPA jam sebelum saya menuliskan tulisan ini, saya tengah duduk di balai bambu yang beratapkan daun nipah, yang menghadap ke ladang-ladang warga di kaki gunung. Di bawah sana, di jalan raya yang berkelok-kelok serupa anakonda yang tengah melilit mangsanya, beberapa truk pengangkut barang lalu-lalang, meninggalkan deru mesin yang menggantung di udara.

Saya memandang kosong pada hamparan hutan yang diam di hadapan saya. Ketika itu, pikiran saya terbawa pada hari-hari saat sepucuk senjata laras pendek, yakni “colt tanpa pelatuk”, tersampir di pinggang saya. Saat itu adalah hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun tatkala Pidie adalah sebuah medan perang. Setidaknya, medan perang bagi saya sendiri.

Melalui tulisan ini, saya ingin bercerita tentang beberapa peristiwa penting dalam hidup saya pada tahun-tahun 2000-an.

Ketika itu, saya adalah salah satu anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tergabung dalam Kelompok Agam Pidie. Itu nama sandi “radio kami”. Jumlah anggota di dalam kelompok kami berkisar 100-an orang. Setiap harinya, kami menjelajahi hutan belantara Pidie. Kunyet, Padang Tijie, hingga perbatasan Aceh Besar, adalah “medan tempur” kami. Wilayah I.

Tiga kilometer berjalan kaki, bahkan tak jarang pula, kami berjalan menelusuri jalan setapak di dalam hutan Tuhan itu dari pagi hingga sore hari. Pada malam hari, kami tidur di atas terpal (plastik) hitam. Kadang, kami tidur di atas rumput. Ketika persediaan makanan mulai menipis atau kadang telah habis total, sesekali, kami mencari pisang dan ubi.

Saat saya dan kawan-kawan saya kehabisan rokok, kami mencabut salah satu jenis rumput di dalam hutan. Lalu, kami mengeringkan rumput tersebut hingga akhirnya mereka bisa kami linting dengan kertas koran. Itulah rokok kami.

HARI-HARI itu tidaklah mudah. Tidak hanya desing peluru yang mengancam nyawa kami, tapi juga penyakit malaria tropika juga ikut merenggut nyawa kawan-kawan seperjuangan. Penyakit itu bukan hanya membikin meriang seluruh tubuh melainkan juga membikin orang yang terjangkit penyakit celaka itu menjadi gila. Setidaknya, kesimpulan itu saya tarik, berdasarkan perkataan-perkataan yang meracau, yang keluar dari mulut penderita penyakit itu.

Ada satu kejadian yang takkan pernah bisa saya lupakan seumur hidup, di mana seorang dari kawan seperjuangan saya terserang penyakit mematikan itu. Ia lari dari pasukan. Menghilang lebih dari dua minggu. Saat “bergerak” di dalam hutan untuk mencari tempat yang baru, di tengah perjalanan, kami menemukannya telah terkapar di atas dipan bambu yang sudah lapuk. Yang kami dapatkan di dekatnya, adalah tumpukan boh reum, yang ternyata menjadi makanannya dalam masa-masa pelariannya, yang disebabkan penyakit mematikan itu.

Mendapati pemandangan yang menyedihkan seperti itu, saya lantas merogoh tas untuk mengambil roti dan botol air putih, lalu memberikan mereka kepada kawan seperjuangan saya itu. Kami memapahnya dengan tandu yang kami buat alakadar dari benda-benda yang tampak di sekitar kami. Beberapa hari kemudian, ia menghembuskan napas terakhir.

Tidak ada di antara kami yang meninggalkan kawan yang dalam keadan sakit seorang diri di dalam hutan. Kami saling membantu satu sama lain. Seakan kami ini adalah saudara kandung.

Pada satu waktu yang lain, seorang kawan yang sedang sakit malaria berkata pada kami dengan suara parau, “Tembak saya! Tolong tembak saja saya! Sudah cukup saya menyusahkan kalian!”

Seorang kawan lainnya, yang kakinya sebenarnya juga sakit, berkata, “Jangan kuatir, sebentar lagi kau akan sembuh. Yang penting, jangan tidur! Ayo bergerak.”

Kawan seperjuangan saya yang kakinya sedang sakit itu, kemudian menggendong kawan seperjuangan yang sakit malaria.

Beberapa hari berikutnya, kawan seperjuangan saya yang sakit malaria itu menghembuskan napas terakhir. Ia kami kuburkan di dalam hutan belantara. Seperti yang menimpa beberapa kawan seperjuangan lainnya, baik yang meninggal dunia saat kontak senjata maupun yang sakit, kami memberi tanda pada kuburan mereka.

Suatu hari yang malang, seorang anggota dalam kelompok kami, pemuda bertubuh pendek yang memiliki selera humor yang tinggi, tertembak di bagian kepala dalam sebuah kontak senjata di kawasan “rumah putih”. Awalnya, setelah kontak senjata itu reda, kami mundur. Dari jarak beberapa meter, saya melihat tubuhnya dengan hati yang tersayat. Ia telah rebah di atas tanah.

Kemudian, seminggu setelahnya, begitu mendapat informasi dari “intelejen kami” bahwa tempat itu sudah “bersih”, kami mengambil jenazahnya untuk kami kuburkan. Saya menatapnya lekat-lekat. Seminggu kami tinggalkan dia, tapi keadaannya masih seperti semula. Tubuhnya tidak membusuk. Padahal, belakangan, ia juga dibakar dengan bensin.

ADALAH pasca-reformasi 1998, pasukan elite yang mendapat pendidikan politik  langsung dari Almarhum Wali Neugara Aceh, Teungku DR Hasan Muhammad di Tiro dan mendapat pelatihan militer di Libya, pulang ke Aceh. Yang mereka lakukan mula-mula adalah memberi ceramah politik di kampung-kampung—kedai kopi, pos jaga, bahkan di meunasah-meunasah.

Kala melakukan tugas politik mereka itu, pembawaan mereka sangat tenang, meskipun di dalam jaket jins besar yang mereka kenakan tersampir senjata AK-47.

Waktu berlalu, perang masih berkecamuk. Komando Tiro, tempat pusat komando kami, di Teupin Raya, semakin matang dalam mengatur strategi perang dan propaganda.

Saya masih mengingat dengan jelas, bagaimana Panglima GAM Wilayah Pidie, yang juga Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafii, merespon semua masalah dan kebutuhan kami. Beliau tegas dan bijak.

Saya juga masih ingat, hari ketika Teungku Haji Sarjani Abdullah dengan sandi “Awan”, Teungku Aiyub Abbas dengan sandi “Polda”, dan Teungku Kamaruddin Abubakar dengan sandi “Abu Razak” berjalan kaki dari pusat komando Teupin Raya ke Wilayah I. Mereka memberi arahan dan strategi perang pada kami. Mereka disegani para prajurit, sekaligus, begitu ditakuti oleh lawan.

HANDAI-TAULADAN, kawan-kawan seperjuangan saya yang saya hormati dan saya banggakan. Hari ini, setelah sepuluh tahun lebih penandatangan kesepakatan damai antara GAM dengan Pemerintah Republik Indonesia pada 2005 silam berlalu, perjuangan kita belumlah selesai. Perjuangan dari medan tempur, masih berlanjut hingga hari ini lewat “medan politik”. Perjuangan untuk mensejahterakan dan memajukan Aceh dalam kerangka MoU Helsinki dan UUPA masihlah berjalan. Kembalilah ke rumah kita. Pintu kantor DPW Partai Aceh (PA) Pidie terbuka lebar untuk kita semua saban waktu. Untuk melanjutkan perjuangan tersebut, kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, tapi kita membutuhkan “kendaraan politik”, yakni Partai Aceh (PA).

Adakah semangat awal perjuangan, walau sedikit, yang bisa kita petik kembali dari almarhum kawan-kawan kita yang telah beristirahat (tersebar) di dalam hutan-hutan belantara Pidie dan di pelosok-pelosok kampung guna menjadi bahan renungan kita semua: di mana posisi kita sekarang dan apa yang seharusnya kita lakukan?

Dalam perjuangan ini, saudara-saudara saya sekalian, kita membutuhkan kesabaran dan kecerdasaan dalam menyikapi pelbagai persoalan. Dalam berumah-tangga sekalipun, ada masalah yang kadang menerpa, apalagi untuk sebuah organisasi seperti PA dan KPA. 

Sekali lagi, pulanglah ke rumah kita!  []

Sigli, 4 Oktober 2016

Hormat saya
Jailani HM Yakob

Penulis adalah Mantan Kombatan GAM (Agam Pidie).

Editor: BOY NASHRUDDIN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.