24 March 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


7 Kecanggihan Teknologi yang Buat Sifat Manusia Makin Buruk

...

  • MERDEKA
  • 24 December 2016 23:30 WIB

Ilustrasi.@merdeka.com
Ilustrasi.@merdeka.com

Kita hidup di era kecanggihan teknologi tersedia dalam kejapan mata saja. Segala kehidupan kita jauh lebih mudah dengan kehadiran teknologi di tengah-tengah kita. Meski demikian, harus disadari bahwa sebenarnya ada dampak yang dibawa oleh kemudahan tersebut.

Ketika teknologi sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang kita jalani, tentu dampak negatif yang dibawa bisa jadi tak kita sadari keberadaannya. Padahal ini bisa mengubah perilaku kita, kepribadian kita, dan segala hal yang awalnya baik, jadi lebih buruk.

Berikut beberapa kecanggihan teknologi yang buat sifat manusia makin buruk.

Punya opini sempit karena media sosial

Media sosial adalah platform yang baik untuk lepas sejenak dari dunia nyata, dan bercengkrama dengan teman-teman dengan berbagai opini dan perspektif di sana. Meski hal ini merupakan sesuatu yang positif, makin ke sini, media sosial adalah tempat berputarnya segala sesuatu yang negatif.

Facebook bisa jadi contoh yang tepat untuk hal ini. Berbagai berita palsu memenuhi feed Facebook, dan parahnya lebih banyak orang yang percaya akan kontennya ketimbang yang rajin mengecek fakta di dalamnya. Lebih buruk lagi, algoritma Facebook yang selalu mendorong konten yang banyak diminati untuk naik ke atas, membuat berita palsu makin laris manis dikonsumsi.

Opini masyarakat jadi terputar-putar dan sebagian besar jadi opini yang ekstrem tanpa dasar.

Dalam dunia digital, hal ini disebut sebagai 'gelembung filter,' di mana masyarakat seakan-akan terjebak dalam sebuah gelembung besar karena hanya dapat sumber informasi dari sosial media dan tak punya perspektif pribadi yang menarik.

Obesitas karena teknologi yang memanjakan

Obesitas kini sudah jadi masalah dunia, dan tak hanya di negara maju saja. Dari berbagai studi, sudah ditarik kesimpulan bahwa yang berkontribusi untuk tingginya angka obesitas adalah teknologi. Benar, adanya smartphone, tablet, TV cerdas, game konsol, dan banyak teknologi lainnya adalah alasan mengapa kita malas bergerak.

Bahkan dalam studi yang dihelat oleh Milken Institute di AS terhadap 27 negara, menyebutkan hal yang relevan dengan hal ini. Jadi di setiap 10 persen kenaikan sebuah negara dalam konsumsi gadget dan barang elektronik, ada satu persen kenaikan rasio obesitas.

Tak mengherankan. Semenjak ada gadget, kita bisa duduk berjam-jam di sofa atau bahkan rebahan di tempat-tidur tanpa seharian bangkit.

Berbagai konten digital membuat manusia susah konsentrasi

Semuanya yang serba mobile dan serba digital, secara tak disadari ternyata menurunkan kualitas konsentrasi kita. Segala hal yang cepat muncul serta cepat berlalu dan berganti adalah penyebabnya.

Sebuah riset Microsoft yang dilakukan lembaga di Kanada, menyebutkan bahwa 'rentang perhatian' atau kemampuan manusia untuk berkonsentrasi telah turun signifikan semenjak era mobile. Dibandingkan antara hasil survei menggunakan alat pemindai otak di tahun 2000 dan 2015, rata-rata kemampuan konsentrasi manusia turun dari 12 detik ke hanya 8 detik saja.

Ini adalah hal yang buruk karena hanya dalam 15 tahun saja rasio kemampuan manusia berkonsentrasi ternyata turun sejauh itu. Meski demikian, ada hal positif tersirat berupa manusia kini makin mampu dalam multitasking.

Layanan on-demand membuat kita tak sabar

Boomingnya YouTube dan juga munculnya banyak sekali aplikasi streaming on-demand seperti Netflix dan Amazon Prime, ternyata berkontribusi dalam budaya menunggu. Karena konten yang bisa ditonton kapanpun, ketika tontonan habis kita akan berang karena konten selanjutnya tersedia masih dalam jangka waktu lama.

Salah satu studi dari UMass Amherst menilik perilaku menikmati hiburan dari enam juta pengguna internet. Dari data tersebut mereka menganalisa berapa lama rata-rata para pengguna internet mau menunggu videonya untuk loading. Jawabannya? Dua detik saja. Lebih dari itu, mereka akan marah.

Efek ini bahkan menular ke dunia nyata, karena di Amerika Serikat, retailer bahkan menawarkan delivery barang di hari yang sama. Berbagai aplikasi mobile pun juga berusaha keras untuk mereduksi waktu menunggu bagi pengguna.

Pola tidur yang rusak gara-gara smartphone

Sebuah survei dari majalah TIME menanyakan ribuan respondennya soal masalah tidur, dan pada akhirnya mendapati bahwa ribuan orang setuju bahwa era teknologi membuat tidur mereka lebih tak berkualitas. Bahkan di survei lain, 25 persen dari masyarakat berumur 18-24 tahun ternyata mengalami masalah tidur.

Ternyata, memang banyak alasan ilmiah dibalik penggunaan smartphone saat malam dan hubungannya dengan rusaknya pola tidur. Sebenarnya manusia secara tidak langsung 'terprogram' untuk tidur maupun bangun hanya dengan kualitas cahaya sekitar. Cahaya merah yang kita lihat waktu senja menandakan itu waktu kita beristirahat, dan cahaya biru di pagi hari adalah sinyal untuk bangun.

Masalahnya, cahaya biru ini juga dipancarkan oleh smartphone dan tablet. Hal ini menekah jumlah melatonin, senyawa kimia yang mengatur keinginan kita untuk tidur. Bahkan menurut studi dari Harvard, cahaya biru yang dipancarkan smartphone ini juga mereduksi jam tidur di fase REM secara keseluruhan. Padahal fase REM adalah fase yang krusial untuk fungsi mental.

Berita palsu membuat kita manusia makin sulit cerna informasi yang benar

 Facebook adalah sarang dari banyak sekali berita palsu. Tak cuma di Amerika Serikat yang notabene jadi masalah besar karena tingginya jumlah 'share' berita palsu, di Indonesia ternyata juga demikian keadaannya.

Hal ini ternyata jadi masalah yang sangat-sangat besar, mengingat opini seseorang ternyata sangat mudah disetir menggunakan media sosial. Walhasil, Facebook jadi lahan basah untuk kampanye hitam, asal judul mengandung umpan bernada SARA atau hal sensitif lainnya. Banyaknya orang yang malas mencari tahu fakta yang sebenar-benarnya dari sumber selain Facebook adalah akar dari semua ini.

Tentu Anda ingat dulu Jokowi pernah diberitakan sebagai keturunan Cina, dan beberapa waktu lalu Hillary Clinton dituduh pemuja setan. Anda mungkin tak percaya dan menganggap itu lelucon, namun di luar sana banyak orang percaya dan menyebarluaskannya. Memilukan bukan? Untung Facebook sudah bertindak untuk memberantasnya.

Google secara ironis justru buat kita makin bodoh

 Informasi adalah hal yang sangat mudah kita dapat, terima kasih pada mesin pencarian Google.

Namun meski punya fungsi yang sangat tinggi, ternyata Google juga menyebabkan permasalahan yang juga tinggi pula. Dari studi yang dihelat Harvard University dan Wisconsin University, ada sebuah kesimpulan yang disebut 'Efek Google.' Ini adalah tendensi kita untuk memperlakukan internet seperti 'otak kedua' kita, dan membuat otak kita sendiri tak terasah.

Beberapa eksperimen yang dilakukan terkait studi ini adalah partisipan ditanya soal opini mereka terhadap sesuatu, serta kemampuan mereka dalam mengingat sesuatu. Kesimpulan dari eksperimen ini adalah mereka yang mencari informasi lewat internet, mempunyai kepercayaan diri seakan-akan mereka tahu informasi tersebut dari wawasan personalnya. Jadi, kepercayaan dirinya makin tinggi namun tak diimbangi wawasan tinggi.[] merdeka.com

Editor: IRMANSYAH D GUCI

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.