26 November 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem akan Terjadi Hingga Oktober, Masyarakat Harus Waspada

...

  • BBC Indonesia
  • 25 September 2020 12:40 WIB

Hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir dan tanah longsor di wilayah Aceh Barat Daya, Rabu (23/09). Foto: BNPB via BBC Indonesia
Hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir dan tanah longsor di wilayah Aceh Barat Daya, Rabu (23/09). Foto: BNPB via BBC Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi cuaca ekstrem akibat peralihan musim akan terjadi hingga Oktober dan curah hujan akan lebih tinggi dan basah dibanding tahun sebelumnya.

Masyarakat diimbau agar berhati-hati dan waspada serta mulai menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalisir bahkan dapat menghindari potensi bencana akibat cuaca ekstrim, kata Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dalam sepekan terakhir, bencana alam seperti banjir yang merenggut korban jiwa hingga kerusakan infrastruktur dan harta benda terjadi di sejumlah daerah.

Selain banjir yang menerjang Sukabumi, Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat, serta sebagian Jakarta, banjir yang disertai longsor terjadi pula di Kabupaten Aceh Barat Daya.

Dilaporkan pula terjadi angin puting beliung di Cirebon, hingga air bah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyatakan bencana-bencana tersebut disebabkan curah hujan tinggi akibat cuaca ekstrim di peralihan musim (pancaroba) yang berlangsung dari September hingga Oktober mendatang.

Tahun ini, menurut BMKG, curah hujan diprediksi akan lebih banyak dan basah dibandingkan tahun kemarin, namun masih dalam kategori normal karena tidak dipengaruhi fenomena El Nino maupun La Nina.

Bencana hidrometeorologi - yang dipengaruhi faktor cuaca seperti hujan yang tinggi menyebabkan banjir, longsor dan puting beliung - menjadi penyumbang terbesar (98%) dari total bencana yang terjadi selama satu dekade di Indonesia, menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BNPB dan BMKG mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk waspada akan potensi terjadinya bencana akibat cuaca ekstrim, dengan tetap taat pada protokol kesehatan Covid-19.

Mengapa terjadi banjir di sejumlah daerah?

Dalam sepekan terakhir, bencana banjir akibat curah hujan yang tinggi menghantam beberapa wilayah barat Indonesia.

Senin lalu (21/09), fenomena hidrometeorologi yang berujung pada banjir bandang dan longsor terjadi di Kabupaten Sukabumi, Jabar.

Laporan resmi menyebutkan, curah hujan disertai es dengan intensitas tinggi hingga 110 mm dalam periode empat jam itu dipicu kondisi atmosfer yang labil dan diperkuat dengan fenomena gelombang Rossby ekuatorial serta adanya daerah petemuan angin (konvergensi).

Fenomena hidrometeorologi ini menyebabkan dua orang tewas, satu hilang dan ratusan rumah rusak.

Pada waktu bersamaan, banjir juga mengenang hingga setinggi 30 sentimeter sebagian wilayah di Jakarta dan menyebabkan 104 jiwa mengungsi.

Angin puting beliung juga melanda wilayah Kabupaten Cilacap yang menyebabkan satu rumah roboh.

Keesokan harinya, Selasa (22/09), angin puting beliung disertai hujan intensitas tinggi terjadi di Desa Karangmalang, Kabupaten Cirebon yang menyebabkan dua orang terluka.

Masih di hari yang sama, banjir menggenangi 15 desa di Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Berat akibat intensitas hujang tinggi yang berlangsung cukup lama. Tinggi air genangan mencapai hingga 2,5 meter.

Pada Rabu (23/09), banjir disertai tanah longsor yang dipicu hujan intensitas tinggi melanda beberapa kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Banjir dan longsor juga terjadi di Aceh Barat Daya, hari yang sama. Enam kecamatan terdampak akibat bencana ini dan mengakibatkan beberapa rumah warga terendam dengan ketinggian hingga 50 sentimeter.

Mengapa rentetan bencana itu terjadi? Menurut BMKG disebabkan karena Indonesia tengah memasuki pancaroba yang menciptakan cuaca ekstrim dan berpotensi akan terjadi hingga Oktober mendatang.

"Sekarang di masa pancaroba yang memunculkan cuaca ekstrim seperti hujan sporadik hingga hujan es, angin puting beliung, dan menjadi bencana atau diperparah apabila jatuh di kondisi lingkungan yang rusak, tidak mampu menapung curah hujan, seperti bantaran sungai tidak bagus, perbukitan yang tidak hijau, termasuk daerah perkotaan," kata Deputi bidang Meteorologi BMKG Guswanto.

Pada masa peralihan musim tersebut, masyarakat perlu mewaspadai adanya potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai petir, angin kencang, angin puting beliung, bahkan fenomena hujan es.

"Curah hujan tahun ini dilihat dari prakiraan cuaca, akan lebih lebat dan sedikit basah di bandingkan tahun kemarin. Namun masih dalam posisi normal karena tidak dipengaruhi El Nino maupun La Nina. Puncaknya terjadi kira-kira Februari tahun depan," katanya.

BNPB: Anggaran bencana alam telah tersedia

BNPB menegaskan anggaran untuk bencana alam tidak terpengaruhi oleh wabah virus corona yang menguras tenaga dan uang negara.

"Kami punya dana siap pakai yang bisa dimanfaatkan bila terjadi bencana dan pemerintah menyatakan masa tanggap darurat, anggaran itu bisa dilaksanakan," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati.

Kementerian Keuangan telah mengalokasikan anggaran kebencanaan selama 2020 hingga Rp5 triliun.

Selain dana, memasuki musim hujan, Raditya meminta pemerintah daerah mewaspadai wilayahnya yang berpotensi menimbulkan resiko banjir dan longsor karena menurutnya sekitar 98% bencana yang terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir dipicu oleh faktor hidrometeorologi.

Guna menanggulangi potensi bencana di tahun 2020, ia juga meminta penguatan sinergitas dan integritas di antara pihak-pihak terkait dari pusat hingga daerah dalam melakukan pencegahan, mitigasi serta penanggulangan bencana di Indonesia yang mungkin terjadi kembali ke depan akibat cuaca ekstrim.

"Hampir seluruh wilayah di Indonesia memiliki sungai, pesisir dan perbukitan yang rawan bencana banjir dan longsor dan berpotensi resiko cukup tinggi terjadi bencana hidrometeorologi," katanya.

Raditya juga menegaskan penanggulangan bencana juga harus mematuhi protokol kesehatan. Seperti di Sukabumi, petugas melakukan pengawalan dengan pengeras suara agar masyarakat tidak berkerumun dan juga membagikan masker.

"Di dalam tenda juga diatur jumlahnya, disediakan masker, dan cuci tangan, cek suhu, dan pemberian vitamin," katanya.

Masyarakat diminta waspada

BMKG dan BNPB mengimbau masyarakat untuk hati-hati dan waspada serta mulai menjaga kebersihan lingkungan sekitar guna meminimalisir bahkan dapat menghindari potensi bencana akibat cuaca ekstrim.

"BMKG meminta ke masyarakat untuk membersihkan lingkungan yang kurang bagus dan siap memasuki musim hujan, seperti membersihkan saluran air, pemda mengeruk sungai.

"Kedua selalu pantau prakiraan cuaca yang dikeluarkan BMKG di situs ini agar kita semua terus waspada.

"Dan terakhir, tetap terapkan protokol kesehatan, jangan sudah jatuh [terdampak bancana alam] tertimpa tangga [kena virus corona]," kata Guswanto.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan lingkungan, dan mengetahui informasi akan potensi bencana di daerahnya masing-masing, serta selalu waspada," kata BNPB Raditya Jati.

Sepanjang tahun 2020, terjadi 2.080 bencana di Indonesia, yang mayoritas disebabkan hidrometeorologi seperti banjir (779 kasus), puting beliung (552 kasus) dan tanah longsor (380 kasus).

Seluruh bencana yang terjadi menyebabkan 285 meninggal dunia, 26 orang hilang, dan lebih dari 4,3 juta orang menderita dan mengungsi.

Selain bencana alam tersebut, Indonesia juga dilanda oleh bencana nasional virus corona dengan kasus positif lebih dari 250 ribu orang dan lebih dari 9.000 meninggal dunia.[]Sumber: bbc.indonesia

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.