19 September 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Es di Himalaya Semakin Mencair, Kehidupan 800 Juta Orang di Asia Terancam

...

  • NATIONAL GEOGRAPHIC
  • 04 June 2019 15:00 WIB

Bentang alam Himalaya. (NASA)
Bentang alam Himalaya. (NASA)

Jutaan orang akan kehilangan akses air bersih saat kerusakan iklim membuat gletser-gletser di wilayah Asia semakin menyusut.

Ketika hujan tidak turun dalam waktu lama, gletser di area pegunungan di sekitar Himalaya menjadi penyelamat–melepaskan 36 kilometer kubik air yang setara dengan 14 juta kolam renang Olympic. Ini bisa mengatasi masalah di daerah-daerah rentan kekeringan selama musim panas.

Namun sayangnya, Himalaya terus kehilangan esnya dan angkanya terus mengalami peningkatan. Antara 2000-2016, gletser telah menyusut 1,6 kali lebih cepat dari periode 1951-2007.

“Ketika kekeringan terjadi, akan ada kegagalan panen dan hilangnya ternak. Itu akan membuat orang-orang bermigrasi. Dan sekalipun tidak bermigrasi, kekeringan dapat menyebabkan konflik antartetangga karena mereka saling bertengkar untuk mendapat makanan,” papar Dr Hamish Pritchard, glasiolog dari British Antartic Survey (BAS), kepada The Independent.

Wilayah yang paling rentan adalah Lembah Indus yang telah dihuni oleh peradaban manusia selama ribuan tahun. Kini, ada sekitar 237 juta orang yang tinggal di sana.

Selain itu, populasi yang tinggal di wilayah pegunungan tinggi Asia, kemungkinan juga akan rentan terhadap kekurangan air.

Menurut Dr Pritchard, perubahan pada pencairan gletser “bisa sangat mengganggu kestabilan wilayah tersebut”. Kehidupan 800 juta orang bisa terancam. Kekeringan sendiri telah menyebabkan enam juta kematian.

Wilayah pegunungan tinggi di Asia, yang dikenal sebagai Kutub Ketiga, meliputi pegunungan Himalaya, Karakoram, Pamir, Hindu Kush, Tien Shan, Kunlun Shan, dan Alai.

Area ini merupakan rumah bagi 95 ribu gletser dan memenuhi sebagian besar kebutuhan air sehari-hari serta industri tahunan Pakistan, Afghanistan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgistan.

Studi yang dipublikasikan pada jurnal Nature ini, menggunakan dataset iklim dan model hidrologi untuk menghitung jumlah volume air gletser yang meninggalkan daerah aliran sungai (DAS) utama di wilayah tersebut.

Penulis: Gita Laras Widyaningrum.[]Sumbernationalgeographic.grid.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.