15 October 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Kata Sutradara dan Fotografer di Aceh Tentang Perkembangan Kamera

...

  • Jamaluddin
  • 10 September 2018 18:15 WIB

Sineas dan sutradara film Aceh, Teuku Abdul Malik bersama Amanda Yulvia. @Jamaluddin/portalsatu.com
Sineas dan sutradara film Aceh, Teuku Abdul Malik bersama Amanda Yulvia. @Jamaluddin/portalsatu.com

BANDA ACEH - Sineas dan sutradara film Aceh, Teuku Abdul Malik, mengatakan, setelah kamera analog hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dunia fotografi, kemudian muncul Digital Single Lens Reflex (DSLR) yang prioritas utama memang untuk foto. Lalu produsen DSLR sedikit menyelipkan kemampuan videography

"Ini disahuti baik oleh konsumen. Yang berefek pada hal serupa diikuti oleh beberapa brand yang lain. Namun dalam perjalanan DSLR tidak lagi dioptimalkan untuk video dan kembali kepada foto. Saat bersamaan, produsen seperti melimpahkan kemampuan video ke kamera mirrorless," kata Malik kepada portalsatu.com, Senin, 10 September 2018.

Malik mengatakan, ini dilakukan secara optimal, bahkan seperti menggantikan posisi handycam yang telah berpuluh tahun umurnya. Peningkatan kualitas pada mirrorless hari ini sudah bisa menggantikan kamera video profesional standar broadcast. Dan bisa menjadi entry level di kelas perfilman. 

Tahun 2018, beberapa produsen mengeluarkan seri baru mirrorless dengan peningkatan kualitas yang optimal untuk harga Rp50 juta ke bawah. Dengan fitur kualitas standar kamera video yang Rp100 jutaan. Color sampling 4:2:2 dengan resolusi 4K menjadi rujukan produsen sebagai standar kualitas mirrorless.

Bitrate video yang mencapai 400 Mbps serta kemampuan image stabilizer internal kamera serta flat color profile menjadi bahan utama pemilik brand menarik perhatian konsumen dunia.

"Dan itu menjadi alasan kenapa saya memilih menggunakan mirrorless daripada DSLR untuk kebutuhan videography," kata Malik.

Lain halnya dengan kamera Android. Seorang fotografer Aceh, Rizal Fahmi atau dikenal Fahmi Gembong, mengatakan di zaman ini, Android hadir dengan fitur fasilitas kamera megapiksel. Namun para pecinta fotografi masih setia menggunakan DSLR.

"Fasilitas yang terdapat di DSLR sangat sempurna bagi fotografer," katanya saat dijumpai portalsatu.com di seputaran Batoh, Banda Aceh.

Fahmi mengaku ia lebih merasa nyaman memakai DSLR, walaupun produk Android sekarang banyak yang terbaru dengan membenamkan kamera kualitas tinggi, karena fungsi kamera di handphone adalah sebagai pelengkap.

"Soal daya tahan, fungsi kamera DSLR diciptakan khusus untuk fotografi yang bisa digunakan sampai delapan tahun, bahkan lebih. Sedangkan fungsi handphone (Android) selain ke fungsi utamanya sebagai telepon, walau dibenamkan berbagai fitur ke dalamnya yang bisa mempersingkat usia pemakaian gadget tersebut," kata Fahmi.

Dia mengakui Android lebih praktis karena bisa upload langsung. Namun jika ingin hunting, umumnya para pecinta fotografi akan menggunakan DSLR," katanya.

Fahmi pertama mengenal kamera analog yang masih memakai media penyimpanan data menggunakan film. Sekitar tahun 2006, berbekal kemampuan berbicara bahasa Inggris dan memakai sebuah kamera analog, ia mendapat kesempatan bekerja pada salah satu NGO asing di Banda Aceh sebagai penerjemah.

Dalam perjalanannya sebagai penerjemah, ia kemudian bekerja untuk seorang wanita Australia yang menangani bidang kesehatan membantu korban tsunami Aceh. Wanita tersebut menggunakan DSLR. Karena mengetahui Fahmi menyukai fotografi, ketika kembali ke Australia pada akhir tahun 2006 kamera tersebut dihadiahkan untuknya.[]

Editor: Arman

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.