26 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mengenal Beda Penanggalan Hijriah dan Masehi

...

  • portalsatu.com
  • 04 June 2019 22:00 WIB

Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Ada dua sistem penanggalan yang dikenal dan dipakai hingga kini yaitu kalender menggunakan patokan lunar atau qomariah dan sistem kalender Gregorian.

Pergantian hari pada sistem kalender lunar menggunakan perhitungan astronomi dengan menjadikan petang atau batas perpindahan sore ke malam sebagai titik awal pergantian hari. Kalender Hijriah atau sistem penanggalan Islam menjadikan bulan sebagai patokan perhitungannya.

Sementara penanggalan Masehi menggunakan sistem rotasi Bumi terhadap matahari dengan menetapkan pergantian hari pada pukul 00.00.

Dihimpun dari berbagai sumber, perhitungan hari selama setahun untuk kedua sistem penanggalan juga berbeda. Jika Masehi mencatat ada 365-366 hari dalam setahun, maka Hijriah hanya menghitung sekitar 354-355 hari atau lebih pendek 11 hari. Perbedaan ini lantaran adanya konsistensi perhitungan hari dalam sistem kalender Hijriah.

Kalender hijriah dibangun berdasarkan rata-rata siklus siondik bulan yang memiliki 12 bulan dalam setahun. Jumlah ahri dalam kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari.

Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apogee (jarak terjauh antara bulan dan bumi). Pada saat yang bersamaan, Bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Apabila satu bulan berlangsung selama 29 hari yang bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perigee (jarak terdekat Bumi dengan bulan) dan Bumi berada di titik terjauh dari matahari (apheion).

Dengan kata lain, usia bulan tidak tetap karena berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari) sesuai dengan kedudukan bulan, Bumi, dan matahari.

Penentuan awal bulan pada kalender Hijriah ditandai dengan munculnya bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Fase ini menampakkan bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.

Jika hilal tidak terlihat pada hari ke-29, jumlah hari pada bulan berjalan dibulatkan menjadi 30 hari. Penetapan ini tergantung pada penampakan hilal.[]Sumber:cnnindonesia.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.