18 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Rahasia Satelit Amerika Sehingga Tak Hancur Saat Tiba di Matahari

...

  • PORTALSATU
  • 03 June 2017 23:00 WIB

Matahari dan Bumi terlihat dari luar angkasa (Shutterstock).
Matahari dan Bumi terlihat dari luar angkasa (Shutterstock).

Badan antariksa Amerika Serikat (NASA) berencana mengirim sebuah wahana penelitian ke Matahari pada sekitar Juli - Agustus tahun depan.

Satelit bernama Parker Solar Probe itu rencananya akan ditempatkan di corona, salah satu bagian atmosfer Matahari yang bisa terlihat dari Bumi dengan mata telanjang saat terjadi gerhana Matahari total.

Wahana itu akan akan mengorbiti Matahari dalam jarak 6,4 juta km dari permukaan bintang yang suhunya mencapai 5.505 derajat Celcius tersebut. Belum ada wahana buatan manusia yang berada sedekat itu dengan Matahari.

"Ini adalah sebuah misi ekstrem," kata Nicola Fox, peneliti dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, yang terlibat dalam proyek itu.

"Kedengarannya memang tak cukup dekat. Tetapi jika dibuat perbandingan, misalnya jarak antara Matahari dan Bumi cuma 1 meter, maka wahana antariksa kami cuma berjarak 4cm dari Matahari," terang Fox, yang bertugas mengawasi pembangungan wahana tersebut.

Lalu bagaimana wahana Parker bisa bertahan dari sengatan panas dan radiasi ekstrem Matahari di jarak sedekat itu? Apalagi corona diketahui punya suhu yang bisa 300 kali lebih panas dari permukaan Surya itu sendiri.

Menurut Fox, wahana Parker dirancang sedemikian rupa, sehingga bisa bertahan dari sengatan panas serta radiasi Matahari. Belum ada manusia yang pernah menciptakan wahana dengan daya tahan tinggi seperti itu sebelumnya.

Wahana parker sendiri panjangnya sekitar 3 meter dan berbobot sekitar 685kg. Moncongnya dilapisi dengan tameng penahan panas berdiameter 2,3 meter dan setebal 11cm.

Tameng itu terbuat dari busa karbon khusus, yang diapit oleh dua lapisan tipis. Permukaan tameng itu terbuat dari alumunium oksida, yang berfungsi untuk memantulkan kembali cahaya dan panas yang dipancarkan oleh Bumi.

Dengan demikian, meski permukaan tameng ini terpapar oleh suhu ekstrem, instrumen penelitian di dalamnya masih akan berada dalam suhu kamar, sekitar 20-25 derajat Celcius.

"Misi ini dicetuskan pada 1958 dan butuh waktu sangat lama untuk mengembangkan teknologinya, agar misi ini bisa diwujudkan," tukas Fox.[] Sumber: suara.com

Editor: IRMANSYAH D GUCI


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.