19 May 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Saat Revolusi Pertanian, Pakar Botani Muslim Unjuk Kemampuan

...

  • REPUBLIKA
  • 13 May 2019 12:00 WIB

Ilustrasi. @Hortikulturaprojec.blogspot.co.id
Ilustrasi. @Hortikulturaprojec.blogspot.co.id

Tak melulu dari sisi geografis, botani dibahas pula dari sisi teologi. Seperti yang diterapkan Al-Ghazali (1111 M). Dia menyebutkan, berbagai bentuk tumbuhan menjadi gambaran tanaman surga yang diturunkan ke bumi oleh Allah SWT.

Pakar ilmu tumbuhan yang sealiran dengan Al-Ghazali adalah Ibnu al-Nafis'. Dia menjelaskan, keanekaragaman tumbuhan berasal dari benih yang berbeda-beda.

Dari hasil perjalanan ke berbagai tempat, para ilmuwan Muslim di bidang tumbuhan ini kemudian menggabungkan hasil penelitian mereka. Hal ini menghasilkan survei botani yang sistematis mencakup berbagai kawasan dengan kekhasannya masing-masing.

Seperti yang diterapkan ahli fisika, Al-Ghafiqi. Dia terlahir di Kota Ghafiq, dekat Cordoba pada 1165 M. Saat melakukan perjalanan melintasi Spanyol dan Afrika Utara, dia mengumpulkan tumbuh-tumbuhan. Tak lupa, ia menamakannya dalam bahasa Arab, Latin, dan Berber.

Lain lagi dengan pakar tanaman dari Sevilla, Abu Zakariya, yang hidup pada abad ke-12. Kemampuan berbahasa Arab dan Yunani membuatnya bisa mempelajari ilmu hingga ke Spanyol.

Dia mampu menemukan sekitar 585 jenis tumbuhan serta menjelaskan cara mengembangbiakkan 50 jenis pohon buah. Pengetahuan bercocok tanam serta bagian-bagian tanah dan cara penyuburannya turut dikembangkan Abu Zakariya.

Pengelana asal Maroko, Ibnu Battuta (1377 M), juga menemukan tanaman dalam pengembaraannya. Dalam bukunya, Rihla, dia menyebut beberapa jenis buah-buahan dari kawasan Isfahan, seperti aprikot, markisa, anggur, semangka, dan kelapa. Sementara saat singgah di India, dia menemukan sirsak dan jeruk manis.

Berkelana di Malabar, ia tertarik pada kayu manis. Di negara lainnya, seperti Brasil, Battuta melihat kacang-kacangan. Sementara di Maldives, ia meneliti jenis pepohonan, seperti kelapa, jeruk, dan lainnya. Bahkan di Jawa, dia menemukan pohon damar, kamper, dan tembakau.

Data tentang temuan botani secara lengkap bisa ditemukan di ensiklopedia Al-Qazwini dan Al-Nuwayri. Ada pula yang terselip di buku karya Al-Biruni and Al-Idrisi. Khusus karya Al-Idrisi yang berjudul Materia Medica masih bisa ditemukan di Konstantinopel. Buku ini mendeskripsikan secara singkat 360 jenis tumbuhan, mulai dari tanaman obat, sayuran, hingga rempah.

Studi tentang botani mencapai puncak kejayaannya di Spanyol. Tak heran, bila sumbangan terbesar dalam botani diberikan umat Islam di Spanyol. Peradaban Islam di tanah Eropa itu telah melahirkan sejumlah ahli botani yang amat terkemuka. Para ilmuwan Muslim Spanyol ini mampu mengembangkan ilmu botani jauh sebelum Barat melakukannya.

Howard R Turner dalam Science Medieval Islam mengungkapkan, sebagian besar penelitian botani yang dilakukan umat Islam memberi manfaat langsung bagi farmakologi dan farmasi. Bapak sejarah sains Barat, George Sarton, menyatakan, perkembangan pertanian dan hortikultura merupakan salah satu harta warisan paling berharga dari umat Islam di bidang botani.

Ketika revolusi pertanian Islam bergulir, para ahli botani Muslim unjuk kemampuan. Mereka menguasai berbagai bidang ilmu pertanian, seperti agronomi, agroteknik, meteorologi, klimatologi, hidrologi, penguasaan lahan, serta manajemen usaha pertanian. Mereka juga sudah menguasai beragam pengetahuan lainnya, seperti ekologi, pertanian, irigasi, serta pengetahuan penunjang pertanian lainnya. Berkat penguasaan pengetahuan itulah, revolusi hijau yang dikembangkan dunia Islam mencapai puncak kesuksesan.[]Sumber:republika.co.id

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.