20 June 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Cantiknya Masjid Gifu dan Ramadhan di Jepang

...

  • DETIK
  • 26 May 2019 20:00 WIB

Masjid Bab Al Islam di Gifu, Jepang (Rachmad Adi Riyanto/Istimewa via Detik.com)
Masjid Bab Al Islam di Gifu, Jepang (Rachmad Adi Riyanto/Istimewa via Detik.com)

Gifu - Di Prefektur Gifu, Jepang, ada sebuah masjid yang cantik. Masjid ini pun menjadi pusat kegiatan Ramadhan dalam suasana hangat dan kekeluargaan.

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, tidak heran jika umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan untuk mendapatkan pahala maksimal dari Sang Pencipta. Salah satunya adalah dengan menyediakan berbuka puasa bagi orang yang sedang berpuasa. Dalam sebuah hadits Nabi bersabda bahwa siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.

Hal inilah yang menjadikan penyediaan buka puasa sedekah utama di bulan Ramadhan di mana pun umat Islam berada, termasuk umat muslim di Gifu, Jepang.
Tidak jauh dari kampus Universitas Gifu, tempat saya dan banyak mahasiswa Indonesia belajar, berdiri megah Masjid Bab Al Islam Gifu, yang dapat ditempuh hanya dengan 5 menit bersepeda dari kampus.

Masjid ini mulai dibangun pada 25 Oktober 2007 kemudian selesai pada 30 Juni 2008, ini merupakan masjid pertama di Prefektur Gifu, Jepang. Masjid ini bergaya khas masjid-masjid di Timur Tengah dengan kubah berwarna putih. Masjid ini tampak begitu cantik di malam hari.

Di sinilah setiap hari selama bulan Ramadhan diadakan buka puasa bersama. Umat Islam di Gifu yang umumnya berasal dari negara Timur Tengah, Pakistan, Bangladesh dan Asia Tenggara (Indonesia dan Malaysia) selalu meramaikan kegiatan berbuka puasa tersebut. Sesekali, ada juga muslim Jepang asli ikut buka puasa bersama kami di sini.

Agenda berbuka puasa bersama di Masjid Bab Al Islam Gifu sudah menjadi rutinitas setiap tahunnya di bulan suci Ramadhan. Setiap harinya sudah terjadwal donatur yang akan menyediakan makanan berbuka bagi jamaah masjid yang merupakan warga keturunan Pakistan. Sedangkan untuk komunitas warga lain seperti Indonesia, Malaysia, Arab dan Bangladesh mendapat jadwal menyediakan makanan berbuka untuk satu hari saja sesuai yang ditentukan oleh panitia.

Tahun 2019 ini, komunitas warga Indonesia mendapat jadwal untuk menyediakan makanan pada Ahad pekan ke-3 bulan Ramadhan. Setiap Ahad memang menjadi buka puasa yang berbeda, selain menu sajiannya dari komunitas lain selain Pakistan, panitia juga mengundang orang Jepang non muslim di sekitar masjid untuk ikut serta makan bersama.

Sejak awal Ramadhan tahun ini, saya tidak pernah absen berbuka puasa bersama di Masjid Gifu. Adanya sajian berbuka sangat membantu kami para mahasiswa yang waktu siangnya habis digunakan untuk penelitian di laboratorium dan tidak sempat untuk menyiapkan makanan berbuka puasa secara mandiri. Saya tidak sendiri, banyak mahasiswa Indonesia lain yang selalu datang ke masjid di waktu berbuka sekalian untuk mendirikan salat berjamaah.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 JST, artinya sekitar 15 menitan lagi waktu berbuka puasa. Saya bergegas meninggalkan laboratorium dan bersepeda menuju Masjid Bab Al Islam dengan sisa-sisa tenaga yang ada setelah berpuasa sambil penelitian seharian. Puasa di Jepang memang sedikit lebih panjang durasinya daripada di Indonesia, di sini puasa sekitar 15,5 sampai dengan 16 jam, berbeda dengan di Tanah Air yang hanya 13 jam saja. Meskipun demikian, alhamdulillah kami bisa menjalaninya dengan baik.

Sesampainya di masjid, di area parkiran belakang masjid terbentang alas terpal berwarna biru dan telah ramai jamaah laki-laki duduk di atasnya sambil berdoa, waktu menjelang berbuka puasa adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Sementara jamaah wanita berbuka di lantai 2 area dalam masjid. Saya pun bergabung bersama para jamaah yang lebih dahulu datang ke area masjid.

Di hadapan kami telah tersaji aneka buah-buahan segar seperti semangka, jeruk, anggur dan kurma untuk sekedar membatalkan puasa. Buka puasa di sini dilakukan dengan 2 tahap, setelah adzan maghrib kami hanya makan takjil untuk membatalkan puasa kemudian dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah di dalam masjid. Setelah selesai salat magrib barulah makan besar untuk berbuka puasa. Menu hari ini sama dengan hari-hari sebelumnya, roti nan khas Timur Tengah dengan lauk kari kambing, alhamdulillah.

Suasana pun makin hangat dengan obrolan ringan bersama jamaah lainnya, biasanya kami duduk berdampingan dengan sesama orang Indonesia dan tentunya berbicara dalam Bahasa Indonesia, hal ini yang membuat suasana makin seperti sedang di Tanah Air. Selesai makan besar untuk berbuka, sebagian dari kami tidak langsung pulang ke rumah untuk membantu bersih-bersih tempat dan peralatan makan.

Kegiatan ini juga dikoordinasikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Gifu (PPI Gifu) sebagai sumbangsih warga Indonesia untuk mensukseskan program buka puasa bersama di masjid ini. Alhamdulillah meskipun jauh dari tanah air, kami tetap bisa merasakan hangatnya Ramadhan di perantauan. Walaupun terkadang rasa rindu Ramadhan bersama keluarga juga sering membayangi, termasuk rindu dengan sajian-sajian khas Indonesia di bulan suci.[]Sumber:detik.com

*) Rachmad Adi Riyanto, adalah mahasiswa Gifu University, Jepang, Wakil I Pusat Kajian dan Gerakan PPI Dunia dan pegiat Media Sosial PPI Jepang
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.