23 May 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Dari Sabang Sampai Merauke

...

  • PORTALSATU
  • 13 May 2018 13:01 WIB

Foto: Dokumen pribadi Makmur Ibrahim
Foto: Dokumen pribadi Makmur Ibrahim

Kebahagian tersendiri, berkesempatan berkunjung ke pulau-pulau besar dan beberapa pulau kecil, nyaris semua provinsi di Indonesia, dalam melaksanakan tugas kedinasan abdi negara sebagai pegawai negeri sipil. Sehingga lengkaplah sudah wilayah dari Sabang sampai menginjakkan kaki di Merauke.

Adalah Instruksi Presiden yang ditandatangani Presiden Joko Widodo dengan  Nomor 9 Tahun 2017, mencanangkan Percepatan Pembangunan Kesejahteraan di Provinsi Papua dan Papua Barat, yang mengantarkan penulis menginjakkan kaki di Papua, yang kaya akan sumber daya alam dan sumber devisa negara. 

Berdasarkan Inpres tersebut, Kepala Badan Kepegawaian Negara, Bima Haria Wibisana menindaklanjuti dengan membentuk tim Pendekatan Pelayanan Kepegawaian (P2K) Papua dan Papua Barat, tibalah penulis di Merauke, Kota Rusa ini.

Sebagaimana bait lagu yang diciptakan R. Soeharjo, dengan judul aslinya, "Dari Barat Sampai ke Timur”, judulnya diubah pada tanggal 6 Mei 1963 oleh Presiden Soekarno, menjadi "Dari Sabang Sampai Merauke.

Dari Sabang sampai Merauke // berjajar pulau-pulau// sambung menyambung menjadi satu // itulah Indonesia // Indonesia tanah airku // aku berjanji padamu // menjunjung tanah airku // Tanah airku Indonnesia.

Bila kita simak lirik lagu wajib tersebut, sarat dengan pesan persatuan, agar dari pulau yang satu mendukung pulau yang lain baik secara ekonomi maupun sosial budaya, pertahanan dan keamanan, yang pada gilirannya timbul rasa korsa kenusantaraan.

Sebagai putra Indonesia kelahiran Aceh yang nun jauh di sana, menginjakkan kaki di Merauke adalah cita-cita sedari kecil. Sejak di bangku SD saat menyanyikan lalu-lagu wajib di ruang kelas, termasuk lagu dari Sabang sampai Merauke, selalu terngiang kapan dapat tiba di Bumi Cendrawasih ini, khususnya kota Merauke.

Pucuk dincinta ulam tiba, berkah program P2K BKN, Selasa, 8 Mei 2018, pagi, dengan GA658 mengantarkan penulis dari Jayapura ke Merauke. Jelang landing di Kota Merauke, penulis menoleh ke bawah, ternyata kelihatan jelas hamparan sawah yang cukup luas sebagai daerah penghasil padi, sehingga cukup beralasan Presiden Joko Widodo menetapkan Merauke sebagai lumbung padi nasional dengan kesediaan lahan padi seluas 4,6 juta hektare (bisnis.com, 11/5/2015).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melakukan kunjungan kerja ke lokasi lahan pertanian untuk memastikan kesiapan Merauke menjadi lumbung padi nasional, dan direalisasikan dengan catatan harus dengan mekanisme modern. Pada kunker tersebut langsung diberi target 1,2 juta hektare harus diselesaikan dalam tiga tahun, katanya dalam sambutan peresmian jaringan optik SMPCS di Kantor PT Telkom Manokwari, Minggu (10/5/2015).

Daya dukung untuk ini memang terlihat saat penulis berkunjung ke Distrik Merauke termasuk bila kita melewati jalan Trans Irian menuju Kabupaten Boven Digoel. Dengan sumber airnya dari Sungai atau Kali Maro, lebar sungai ini mencapai 500 meter, yang cabang hulu sungai/kali Moro juga dari negara tetangga Papua Nugini.

Merauke adalah salah satu kabupaten di Provinsi Papua, kabupaten ini adalah kabupaten terluas (45.072 km2) sekaligus paling timur di Indonesia, dengan jumlah penduduk 278.200 jiwa (sumber: Dinas Kependudukan dan Capil Kab. Merauke 2017/Merauke.go.id), mendiami 20 Distrik/Kecamatan, 160 kelurahan. Mempunyai moto: “Izakod Bekai Izakod Kai” (Satu Hati Satu Tujuan), dengan julukan Kota Rusa, karena populisi rusa di sini sangat tinggi walaupun perburuan besar-besaran juga terus terjadi untuk diolah menjadi makanan berupa dendeng rusa, yang menjadi oleh-oleh utama Merauke.

Kota ini juga dijuluki Kota Injil, tetapi kehidupan umat beragama di sini sangat rukun dan damai serta saling menghormati. Suara azan yang sahut menyahut dari menara-menara masjid saat waktu shalat tiba membahana di angkasa kota Merauke. Penulis menyaksikan jamaah shalat Zuhur bergegas menuju Masjid Al-Aqsa yang berdiri megah di tengah kota Merauke di atas hamparan lahan tanah seluas 24.350 m2. Luas bangunannya 6.000 m2, dengan arsitektur gaya Timur Tengah, seluruh dindingnya dibalut dengan marmar berwarna coklat muda menambah asri dan anggunnya masjid yang menjadi kebanggaan 41,17% pemeluk agama Islam di kota ini, hidup rukun dan damai bersama 58,41% pemeluk Kristen, Hindu 0,27% dan Budha 0,15%. 

Di depan Masjid Raya Al-Aqsa Merauke yang megah ini, berdiri sebuah tugu penanda kota Merauke, tugu Lingkaran Brawajaya namanya. Tugu dengan angka 969 memiliki arti Merauke umur panjang, 9 berarti damai dan sejahtera, sedangkan angka 6 memiliki arti keseimbangan, dan puncak tugu terdapat replika bola dunia yang berarti Merauke harus mendunia serta tulisan 1902 sebagai tahun lahir kota Merauke, tepatnya pada tanggal 12 Februari 1902 yang ditemukan  oleh pegawai pemerintah Belanda (nn).

Dilihat dari kondisi geografis, sejarah, ekonomi dan budaya, kota Merauke memiliki beberapa keistimewaan dibandingkan dengan kota-kota lain di Pulau Papua. Secara geografis, kota Merauke adalah salah satu kota paling timur di Indonesia, berbatasan dengan negara Papua Nugini (Papua New Guinea).

Di wilayah Kota Merauke, dengan penduduk yang ramah ini, terdapat sebuah tugu yang merupakan kembaran dari tugu yang terdapat di Sabang, yaitu Tugu Sabang-Merauke. Tugu ini dibangun sebagai simbol Kesatuan Negara Republik Indonesia, dari Sabang (Aceh) sampai Merauke (Papua). Tugu Sabang-Merauke ini bisa kita jumpai di Distrik Sota, yaitu sebuah daerah yang terletak di timur Kota Merauke. Untuk menuju ke sana, kita bisa menggunakan kenderaan roda empat, yang di kiri dan kanan jalan sepanjang 75 km dari kota Merauke terlihat jelas rumah semut, tumbuh dengan arsitektur indah menjulang ke langit, yang menurut keterangan Ketua Adat Kampung Sota, Daud Dimar Ndiken, bisa tumbuh 20 cm dalam semalam, menambah pesona alam anugerah tuhan ini.

Dan terlihat juga pondok-pondok masyarakat Sota penyuling minyak kayu putih di sepanjang jalan, sebagai sumber mata percaharian utama dari masyarakat Sota yang sangat mencintai alam sekitar di tanah kelahirannya.

Nun jauh dari timur ke paling barat, sejarak 5.245 km dari kota Merauke, terdapatlah Kota Sabang, Aceh. Gugusan pulau terdepan pemersatu Indonesia dari Sabang sampai Merauke, merupakan pengikat dan pemersatu 17.504 buah pulau wilayah nusantara, baik pulau yang sudah bernama (7.870), maupun pulau yang belum bernama (9.634), (sumber: Kementerian Dalam Negeri).

Kota Sabang berupa kepulauan di seberang Pulau Sumatera, dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar, tempat letaknya Kota Sabang, dengan luas hanya 153 km2, berpenduduk 30.000 jiwa.

Kota Sabang sebelum perang dunia kedua adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkan Tamasek (sekarang Singapura), yang dikenal dengan pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh Pemerintah Kolonial Belanda sejak tahun 1881.

Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Era pelabuhan bebas Sabang yang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola oleh Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station, yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij.

Perang dunia kedua ikut memengaruhi kondisi Sabang, di mana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibom pesawat sekutu dan mengalami kerusakan fisik, hingga kemudian terpaksa ditutup.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Semua aset pelabuhan Sabang Maatschaappij dibeli Pemerintah Indonesia. 

Pada Tahun 1965 dibentuklah Pemerintah Kotapraja Sabang berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1965 dan dirintisnya gagasan awal untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas Sabang.

Seiring dengan ini Pelabuahan Bebas Sabang sebgai pintu masuk ke Selat Malaka dan merupakan jalur memperlancar arus orang dan barang ke seluruh gugusan pulau di nusantara. Inilah titik taut penghubung dan pemersatu dari Sabang sampai Merauke. …Berjajar pulau-pulau // sambung menyambung menjadi satu // itulah Indonesia....

Di Desa Iboh, Sabang, juga terdapat tugu Nol Kilometer Indonesia, yang dibangun lebih megah berdasarkan hasil survei Badan Pengembangan dan Penerapan Teknolagi (BPPT), saat berlangsung Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) pada tahun 1997 dan telah direhab kembali oleh Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS) tahun 2017, berdiri megah di atas bukit dengan panorama indah Lautan Hindia yang airnya sangat bening.

Tampak jelas ikan-ikan berenang bak bersenda gurau. Ikan yang menghiasi keluar masuk ke wilayah taman laut Iboh yang saban tahun padat dengan kunjungan wisata mancanegara, terutama pada musim dingin di Eropa,  wisatawan  menetap di sana dalam kurun waktu lama, sampai tiga bulan.

Kembaran Tugu Nol Kilometer Sabang, terdapat pula Tugu Nol Kilometer di Desa/Distrik Sota Kabupaten Merauke, Tugu Nol Kilometer ini tidak semegah yang ada di Sabang. Maka harapan kita agar pemerintah pusat, dalam hal ini Menteri Dalam Negeri selaku Kepala Badan Pengelola Perbatasan (BNPP), membangun baru tugu perbatasan beserta fasititas pendukungnya, selengkap dan seindah pos lintas batas yang ada di Skouw, Jayapura.

Sebab tugu ini juga menunjukkan eksistensi negara dengan negara tetangga Papua Nugini, lantaran ini merupakan ikon negara sehingga menambah kebanggaan penduduk khususnya penduduk di Distrik Sota, Merauke. Juga pada tempatnya pula, perlu digagas pertemuan dua Pemda yang membingkai NKRI antara Pemerintah Kota Sabang dan Pemerintah Kabupaten Merauke, sebagai wujud rasa persatuan. IZAKOD BEKAI IZAKOD KAI.

Penulis: Makmur Ibrahim, S.H., M.Hum., Kepala Kantor Regional XIII Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Banda Aceh 

Editor: portalsatu.com


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.