24 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Guha Tujoh Laweueng Ruang Bilik Para Sufi yang Terabaikan

...

  • Jamaluddin
  • 17 February 2019 15:00 WIB

Suasana Guha Tujoh dengan stalaktit dan stalagmit bergelantungan menjulang, Laweung, Pidie Kamis, 14 Februari 2019 @Jamaluddin/portalsatu.com
Suasana Guha Tujoh dengan stalaktit dan stalagmit bergelantungan menjulang, Laweung, Pidie Kamis, 14 Februari 2019 @Jamaluddin/portalsatu.com

Di antara sekian banyak sebaran gua-gua di Aceh, di Laweung Pidie terdapat sebuah gua yang sering dipakai oleh para penganut tarikat tasauf untuk berkhalut selama Ramadhan, gua itu sering disebut bernama Gua Tujoh.

“Yang pertama kali khalut di sini dahulu Masyitah dari Madiun, sewaktu ke Aceh ia masih berusia 16 tahun,” kata penjaga gua Shalihin.

Mengenang kehadiran gadis sufi bercadar dari tanah Jawa itu, Shalihin menceritakankan, dari Jawa ke Aceh berjalan kaki menyusuri belantara. Saat tiba di Aceh ia berjumpa dengannya di sebuah rimba. waktu itu Shalihin sedang mencari madu lebah, menjumpai Masyitah kemudian membawanya menjumpai Keuchik setempat. Terkait dengan tujuannya ke Aceh Masyitah mengatakan ia datang ke Aceh diperintahkan oleh gurunya.

“Selain Masyitah, dari Aceh yang datang berkhalut ke Gua Tujoh di bulan suci Ramadhan umumnya adalah murid-murid Abu Tumin Blang Bladeh, “ katanya.

Orang yang datang ke Gua Tujoh untuk berkhalut, yang bertujuan berkhalut, mereka datang dengan masing-masing peraturan ritualnya yang berbeda.

“Ada yang datang dengan berbekal daging rusa, namun ada juga yang datang berpantang daging. Bila yang datang itu seorang wanita biasanya hanya makan eumping, dan bila lelaki biasanya lebih memilih roti, ada yang cuma makan nasi tiga kepal untuk berbuka dan tiga kepal sahur, serta bagi yang ingin berkhalut di sana, tentu harus dengan tarikat, dan harus melalui izin guru,” kata Shalihin kepada portalsatu.com pada Kamis, 14 Februari 2019.

Namun resiko memilih tempat berkhalut di sana adalah bila yang  datang ke sana bertujuan ingin mencari sesuatu yang bersifat duniawi umumnya mereka tidak akan bisa menyelesaikan khalutnya dan bahkan umumnya mereka berakhir jadi stress. ‘Kon jijak mita ileume Allah, jijak mita ileume itam keunoe’ kata Shalihin yang telah menetap di gua sudah 20 tahun.

Untuk para wisatawan, tempat itu dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dan para wisatawan bisa menyewa pemandu setempat jika ngin menjelajah ruang-ruang gua yang maha hening dan gelap, serta dari langit-langitnya tanpa henti menetis air lewat celah bebatuannya, serta suara kepakan sayap-sayap kelelawar gua yang beterbangan.

Terkait dengan kedisiplinan para pengunjung dalam mematuhi peraturan, Shalihin juga mengaku kewalahan terhadap pengunjung yang terkadang melanggar peraturan-peraturan dan batasan yang harus dipatuhi. Terkadang ada juga pengunjung yang marah saat diminta supaya mematuhi peraturan yang ada di sana, pelanggaran-pelanggaran yang terjadi dapat ditemui dengan adanya beberapa tulisan memakai cat semprot di batu-batu gua, dan sebagainya.

Terkait dengan sampah-sampah yang berserakan di dalam gua, Shalihin mengatakan itu adalah sampah-sampah yang terbawa air hujan.

Menurut pengakuan Shalihin kondisi lokasi Gua Tujoh kini terlibat dalam sengketa perebutan kausa kepemilikan tanah semenjak kehadiran pabrik semen, luas tanah lokasi gua di dalam surat yang sah tercatat 150 hektar saja, namun sekarang khabarnya cuma seluas 100 hektar.

“Bahkan belakangan ini sudah beredar lagi informasi bahwa adanya surat palsu yang menyatakan seluruh tanah Gua Tujoh sudah masuk dalam daftar kepemilikan,” kata Shalihin.[]

Editor: THAYEB LOH ANGEN

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.