13 November 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Joel Pasee Meriahkan Pembukaan ACIRAF 2018

...

  • Fazil
  • 06 November 2018 11:00 WIB

@Fazil/portalsatu.com
@Fazil/portalsatu.com

LHOKSEUMAWE - Pembukaan Aceh International Rapai Festival (ACIRAF) 2018, di Stadion Tunas Bangsa, Lhokseumawe, Senin, 5 November 2018, malam, dimeriahkan pertunjukan rapai dikolaborasi dengan musik modern.

Hentakan musik kolosal dengan dinyanyikan lagu "Keuneubah endatu bak mata donya" oleh artis Aceh, Joel Pasee, memukau ribuan penonton. Penonton pun bertahan di muka panggung utama hingga pertunjukan terakhir memeriahkan acara pembukaan menjelang Selasa dini hari.

Rapai dimainkan berkolaborasi dengan alat musik modern yang diaransemen oleh tim kompesor. Tim komposisi musik kolosal Aceh itu diketuai Mulyadisjah akrab disapa Cek Ko.

Wali Kota Lhokseumawe, Suaidi Yahya, dan Ketua DPRK Lhokseumawe, M. Yasir, ikut menabuh rapai secara bersama-sama dengan tim musik kolosal tersebut.

Selain penampilan musik kolosal tersebut, juga ikut tampil tim Marawis Hajar Aswad dari Jakarta, dan Dendang Anak Malaysia.

Ada pula atraksi debus yang dimainkan dua orang untuk menghibur masyarakat saat menyaksikan serangkaian acara pembukaan ACIRAF 2018. Warga tampak memadati lapangan depan panggung utama maupun di tribun stadion tersebut.

Di sela-sela  penampilan seniman Aceh, Joel Pasee, dalam komposisi musik kolosal itu, hujan pun mengguyur deras beberapa saat. Penonton  depan panggung terpaksa mencari tempat berteduh agar tetap bisa menyaksikan acara pembuakaan ACIRAF hingga berakhir.

ACIRAF 2018 dibuka oleh Staf Ahli Gubernur Bidang Keistimewaan Aceh, SDM dan Hubungan Kerja Sama, Dr. Iskandar AP., S.Sos., M.Si., mewakili Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dengan cara menabuh rapai bersama-sama dengan sejumlah pejabat yang hadir.

Turut hadir Perwakilan Kementerian Parawisata RI, Tasbir, S.H., M.Hum., anggota DPR RI, Muslim, pihak Kejaksaan Agung RI, Anwar Hoesein, S.H., Wakil Wali Kota Lhokseumawe, Yusuf Muhammad, Bupati Pidie, Roni Ahmad atau Abusyik, Wakil Bupati Aceh Tengah, H. Firdaus, Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan, Sekda Aceh Utara, Abdul Aziz, pihak Dinas Parawisata Aceh dan beberapa pejabat lainnya di kabupaten/kota di Aceh.

"Sejak dulu, rapai menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya Aceh. Alat musik tradisional ini, kerap pula dijadikan sebagai media seni dalam menyebarkan Islam ke berbagai daerah. Maka seiring perjalanannya waktu, rapai kian berkembang dengan berbagai bentuk serta modern dengan cara dimainkan yang beragam," kata Staf Ahli Gubernur Bidang Keistimewaan Aceh, Iskandar.

Pemerintah Aceh berharap event itu dapat menebarkan daya tarik wisatawan, lanjut Iskandar, sehingga branding Aceh sebagai tujuan wisata dunia semakin menguat. "Dengan demikian, target kita mendatangkan lebih dari 3 juta wisatawan pada tahun 2018 dapat tercapai. Kita berharap kepada masyarakat  Lhokseumawe agar bersama-sama menyukseskan pagelaran budaya ini dengan menjaga ketertiban dan keamanan," ujar Iskandar.

Kemudian, kata Iskandar, mari menghormati tamu yang berhadir dari negara Malaysia, Thailand, India, dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia. "Bagaimana kita menunjukkan kepada dunia betapa indahnya semangat perdamaian yang ada di Aceh, dan betapa menariknya seni budaya tradisional kita," ungkap Iskandar.

Sementara itu, Perwakilan Kementerian Parawisata RI, Tasbir, menyebutkan, alat musik tradisional rapai itu merupakan aset dan warisan indatu atau nenek moyang orang Aceh yang harus dilestarikan dengan baik sampai kapanpun. Bahkan masyarakat luar sangat mengapresiasi terhadap alat musik tradisional (rapai) Aceh ini, maka jangan sampai membiarkan begitu saja tanpa pelestarian.

"Kesenian Aceh ini sudah sangat mendunia, seperti tari seudati, tari saman, ratoh jaroe, rapai, dan begitu banyak seni Aceh lainnya yang telah berhasil menunjukkan kepada masyarakat dunia atas keunggulan tersebut," ungkap Tasbir.

Tasbir menjelaskan, sebagian sekolah di Pulau Jawa, juga mulai mempelajari tari saman, ratoh jaroe, maka jangan sampai Aceh yang mempunyai kesenian itu menjadi ketinggalan, apabila terjadi demikian maka cukup berbahaya dari segi kebudayaan.

Oleh karenanya, sebut Tasbir, terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan dalam melestarikan seni budaya Aceh tersebut. Karena melalui aset ini bisa menggerakkan ekonomi rakyat. ACIRAF 2018 itu menjadi salah satu dari 100 event nasional, maka bersyukurlah Kota Lhokseumawe mendapat dari bagian event tersebut.

"Karena ini baru pertama dilaksanakan event besar seperti ini, tentu harus ada perbaikan-perbaikan untuk lebih baik lagi ke depan," ujar Tasbir.[]
 

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.