17 July 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


'Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih akan Dipugar Kembali, Dibangun Pusat Informasi Budaya'

...

  • Fazil
  • 22 May 2019 15:30 WIB

Foto: Fazil/portalsatu.com
Foto: Fazil/portalsatu.com

ACEH UTARA - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara akan memugar kembali Makam Sultan Al-Malik Ash-Shalih, pendiri Kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara. Kompleks makam Sultan Kerajaan Samudra Pasai yang sering disebut Sultan Malikussaleh di Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, itu dipugar kembali supaya terlihat bagus dan nyaman dikunjungi wisatawan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara, Nurliana, mengatakan, untuk tahun ini (2019) pihaknya mendapatkan dana bersumber dari APBA senilai Rp500 juta untuk melebarkan pagar makam tersebut di bagian dalam. Nantinya pagar tersebut tidak sesempit sekarang ketika masyarakat datang untuk berziarah atau berdoa, dan bisa duduk di pelataran yang akan dikeramik semuanya.

"Untuk tahun depan (2020) itu usulan kita dari dana Otonomi Khusus (Otsus) juga berjumlah Rp500 juta guna membuat pusat informasi budaya yang dijadikan objek di kawasan makam tersebut. Supaya ketika wisatawan atau pengunjung datang bisa mendapatkan edukasi yang benar mengenai sejarah Sultan Malikussaleh, karena sejarah itu merupakan pengetahuan masa silam. Jadi ke depan kita akan membangun pusat informasi dengan baik, serta menata area parkir kenderaan supaya tertata dengan rapi," kata Nurliana, kepada portalsatu.com, Rabu, 22 Mei 2019.

Selain itu, lanjut Nurliana, pihaknya juga tetap berusaha untuk pemugaran kembali Makam Sultanah Nahrasiyah di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, dan akan diusulkan ke APBN. "Karena di manapun bisa didapatkan anggaran untuk memugar makam itu maka terus diupayakan. Di samping itu ada beberapa situs sejarah yang di luar ini tentu kita akan melengkapi dengan cungkup makam untuk memelihara kaligrafi di batu nisan agar masyarakat dapat lebih mudah mengenal tokoh sejarah tersebut, karena sebagian sudah hilang bentuk kaligrafinya".

"Karena untuk menata ini perlu juga ahlinya. Pada dasarnya kita terus berupaya untuk memugar kembali situs sejarah dengan mencari anggaran yang memadai dalam memperbaikinya. Tentu kita semua tidak mau kehilangan sejarah, kita harus menjaga situs-situs sejarah yang sangat berharga ini agar generasi penerus ke depan dapat mengenal tokoh sejarah itu sendiri," ujar Nurliana.[]

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.