25 November 2017

Kabar Aceh Untuk Dunia


Menyelamatkan Burung-burung Papua dengan Ekowisata

...

  • KOMPAS
  • 28 October 2017 09:20 WIB

APA yang Anda pikirkan saat menyebut kata Papua? Tentu salah satu yang terlintas adalah kekayaan alamnya.

Di antara banyak kekayaan alam Papua, salah satunya adalah burung-burung indah yang mendiami pulau paling timur di Indonesia itu.

Sayangnya, burung-burung tersebut saat ini dalam ancamankepunahan. Bahkan melihat burung-burung indah tersebut sekarang tak lagi mudah.

Dikutip dari AFP, Kamis (26/10/2017), perkebunan dan pertanian disebut-sebut sebagai sarana untuk meningkatkan peluang ekonomi, berkembang pesat di Papua.

Namun, beberapa penduduk desa dan ahli konservasi memperingatkan hal ini akan mengakibatkan hutan hancur dan burung-burung yang menghuni hutan berada diambang kepunahan.

Jumlah burung cendrawasih, atau yang sering disebut sebagai bird of paradise, sudah menyusut saat ini. Mereka dijadikan makanan, dibunuh, dan bahkan dijual sebagai hiasan.

Pihak berwenang memang sudah lama melarang penjualan cendrawasih. Tapi masih banyak perdagangan ilegal yang berkembang karena permintaan internasional yang tinggi.

"Saat ini ancaman bukan hanya perburuan satwa liar, tapi pembalakan liar. Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan coklat merupakan ancaman terbesar," kata Charles Roring, seorang pemandu burung.

Menurut Roring, hutan hujan Indonesia sendiri adalah rumah bagi 41 spesies burung. 37 di antaranya dapat ditemukan di hutan-hutan Papua.

Keragaman terdiri dari burung yang lebih kecil dari cendrawasih, yang dikenal dengan bulu kuning dan putihnya.

Karena warna mencoloknya, burung cendrawasih memiliki sejarah panjang terjebak dan diperdagangkan sebagai hiasan.

Burung-burung itu memikat orang-orang Eropa setelah penjelajah pada abad ke-16 kembali dengan kulit yang dikeringkan. Mereka juga memotong kaki burung tersebut untuk dipadang pada tongkat.

Tak hanya itu, bulu burung yang berwarna-warni populer sebagai dekorasi tradisional suku Papua seperti hiasan kepala.

Serene Chng, seorang petugas program di LSM lingkungan hidup mengatakan, burung-burung liar diselundupkan ke daerah lain di Indonesia dan Asia Tenggara.

"Kapasitas penegakan hukum sangat terbatas, katanya.

"Tantangannya termasuk permintaan dari konsumen, korupsi, pengawasan yang buruk, serta kurangnya dukungan dari lembaga non-penegak hukum yang dapat membantu maskapai penerbangan, pengirim barang, layanan kurir bandara," sambung Chng.

Wisata alam bisa jadi solusinya

Di Sorong, seorang penjual souvenir mengatakan bahwa gelang tradisional yang dibuat dengan bulu burung ini bisa menghasilkan 1,5 juta rupiah.

Inilah yang membuat makin banyaknya perburuan burung cendrawasih.

Selain itu, Papua yang merupakan rumah bagi sepertiga hutan hujan di Indonesia ditebang dengan cepat.

Max Binur, ahli lingkungan dari LSM Belantara Sorong menyebutkan perusahaan kelapa sawit mulai beroperasi di dekat desa malagufuk sekitar tiga tahun lalu.

Binur yang tahu bahwa warga khawatir perusahaan tersebut akan menghancurkan hutan dan kehidupan desa tradisional itu mengajukan solusi yang diyakini dapat melindungi burung dan hutan sekaligus.

Ia membantu mengubah Malagufuk menjadi sebuah desa wisata, di mana penduduknya bisa bekerja sebagai pemandu wisata dan menyediakan akomodasi bagi pengunjung.

Hingga saat ini, 20 wisatawan berkunjung setiap bulannya untuk melihat burung cendrawasih serta spesies burung laiinnya seperti kaswari dan burung enggang.

Pengunjung harus menempuh perjalan dua jam melalui hutan untuk mencapai pemukiman di dusun terpencil yang memiliki listrik terbatas ini.

"Sepertinya wisata alam ini adalah sesuatu yang bagus untuk kami gunakan. Ibuku suka dengan burung dan kami mengenal burung cendrawasih melalui film dokumenter," kata Lisa von Rabenau, seorang turis dari Jerman.

Binur berencana untuk meluncurkan usaha desa wisata serupa di seluruh Papua. Ia berharap pariwisata ini akan mengarah pada konservasi burung-burung yang terkenal di dunia dan memberikan keuntungan bagi warga lokal.

Ia menjelaskan, "Wisatawan dapat mendatangkan sedikit uang untuk para penduduk desa menghidupi keluaganya, mengirim anaknya ke sekolah, membeli seragam, dan mereka juga akan sadar untuk menyelamatkan alam."[]Sumber:kompas

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.