06 August 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Mosaik Ayasofya Akan Ditutup ketika Waktu Salat

...

  • OKEZONE
  • 14 July 2020 10:00 WIB

Seorang wanita berpose di depan Hagia Sophia atau Ayasofya, setelah putusan pengadilan yang membuka jalan bagi bangunan itu dikonversi dari museum kembali menjadi masjid, di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020. Foto/REUTERS/Murad Sezer
Seorang wanita berpose di depan Hagia Sophia atau Ayasofya, setelah putusan pengadilan yang membuka jalan bagi bangunan itu dikonversi dari museum kembali menjadi masjid, di Istanbul, Turki, 10 Juli 2020. Foto/REUTERS/Murad Sezer

PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan telah resmi menandatangani dekrit perubahan status Ayasofya atau Hagia Sophia kembali menjadi masjid. Bangunan bersejarah itu pun akan kembali menggelar ibadah umat Islam, salah satunya salat berjamaah.

Pemerintah Turki menyatakan mosaik di Ayasofya akan ditutup menggunakan tirai atau laser selama kaum Muslimin menunaikan salat di sana. Kebijakan itu diumumkan Omer Celik, juru bicara Partai AKP yang berkuasa di Turki.

"Sejumlah ikon Kristen akan dibuka untuk semua pengunjung pada saat selain waktu salat, dan pengunjung tidak dikenakan biaya," ungkap Omer Celik, dikutip dari Sindonews, Selasa (14/7/2020).

Belum dijelaskan bagaimana laser itu akan diterapkan untuk menutupi mosaik Ayasofya. Pekan lalu, Pengadilan Turki menetapkan bahwa bangunan bersejarah ini diubah menjadi museum pada 1934 secara ilegal dan Erdogan mengembalikan fungsinya sebagai masjid. 

Erdogan mengatakan salat pertama di Ayasofya akan digelar dalam dua pekan ke depan. Langkah Turki ini mendapat kecaman internasional, termasuk dari Yunani, Amerika Serikat, Rusia, UNESCO, dan Paus Fransiskus yang merasa sedih akibat keputusan tersebut.

Yunani mengecam keputusan ini dan menyatakan tindakan tersebut dapat merusak hubungan kedua negara, serta hubungan Turki dengan Uni Eropa.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan kecewa dengan langkah Turki itu.

Ketua Partai Liga, sayap kanan di Italia, Matteo Salvini, memimpin unjuk rasa di depan Konsulat Turki di Kota Milan untuk menentang keputusan tersebut.

"Saya akan menghentikan semua jenis bantuan dana kepada rezim Turki dan saya akan menghentikan untuk semua hipotesis Turki masuk Uni Eropa karena kita telah memberi lebih dari 10 miliar euro untuk rezim yang mengubah gereja menjadi masjid dan saya pikir mereka telah melampaui batas," kata Salvini.

UNESCO menyatakan pihaknya akan meninjau ulang status monumen itu sebagai Situs Warisan Dunia setelah pengumuman Erdogan tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan pihaknya terkejut dengan reaksi UNESCO dan akan memberi tahu langkah selanjutnya yang akan diambil terkait Hagia Sophia. 

Pemerintah Turki menyatakan sangat sensitif dalam melindungi karakter sejarah bangunan itu.

"Kita harus melindungi warisan pendahulu kita. Fungsinya bisa seperti ini atau cara itu, itu tidak masalah," papar Cavusoglu.

Ayasofya merupakan gereja terbesar di dunia di era Bizantium yang didirikan pada tahun 532 dan diresmikan pada tahun 537 Masehi, di bawah arahan Bizantium kaisar Justinian I, dan menjadi gereja selama sembilan abad.

Pada tahun 1453 Masehi, Sultan Turki Utsmani (Ottoman) Fetih Sultan Mehmet menaklukkan benteng terbesar dunia, benteng kota Konstantinopel, pada 1453 Masehi. Alih-alih mengambil Ayasofya secara paksa, ia malah membelinya dengan uang pribadi, kemudian ia mengubahnya menjadi masjid dan mendirikan sebuah yayasan untuk mengurusnya. Ia hanya menunjuk Ayasofya sebagai satu-satunya icon penaklukannya.[]sumber:okezone

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.