20 October 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Orang Aceh di Batam, dari Zaman Samudra Pasai Sampai Kini

...

  • THAYEB LOH ANGEN
  • 22 September 2018 09:45 WIB

Bersama Teuku Hamzah, pengusaha dan politisi Batam asal Aceh, Ketua Permasa (Persatuan Masyarakat Aceh) di Batam dan anggota DPRD Kota Batam, di Nagoya, Batam, Rabu, 19 September 2018. @Istimewa
Bersama Teuku Hamzah, pengusaha dan politisi Batam asal Aceh, Ketua Permasa (Persatuan Masyarakat Aceh) di Batam dan anggota DPRD Kota Batam, di Nagoya, Batam, Rabu, 19 September 2018. @Istimewa

Rabu, 19 September 2018, merupakan hari keenam aku di Batam. Aku menghubungi lagi Yusnaidi Kammaruzzaman, saudara Teuku Hamzah. Kutanyakan kembali, apakah Teuku Hamzah sudah pulang ke Batam dari Vietnam (Kambodia)?

Ia mengatakan, akan menanyakan kembali. Yang mengenalkan aku pada Yusnaidi adalah Syeh Zul Anshary, ketika aku mengatakan padanya akan mewawancarai pengusaha Aceh yang di Batam, akan lebih baik lagi jika ia pengusaha kapal. Maka katanya, itu Teuku Hamzah, yang juga anggota DPRD Batam. Ia asal Nagan Raya. Ada saudaranya di sini, kawan kita, Yusnaidi.

Setelah pulang dari Batam Center, sekira pukul sembilan malam, aku tiba di rumah singgah. Kulihat ada panggilan tidak terjawab dari Yusnaidi. Kemudian ia menelpon lagi. Ia mengatakan, Teuku Hamzah sudah tiba di Batam, dan disuruh bicara langsung melalui handphone-nya yang dihubungkan langsung sehingga terhubung tiga telepon seklaigus. Teuku Hamzah pun berbicara. Ia meminta aku menjumpainya malam ini, pukul sebelas. Sementara saat itu pukul sembilan. Ia sendiri akan ke Nagoya dekat tempatku menginap.

Sekira pukul sebelas, Teuku Hamzah menelepon. Ternyata ia sudah sampai di kedai depan, disi lain kios yang jualan mie di depan rumah singgah, di kedai tomyam. Itu sekira tiga puluh meter dari tempat tinggal. Kami pun berjumpa dan berbicara sampai satu jam lebih. Ia orang yang ramah dan menghargai siapapun.

Ia pun menceritakan tentang diaspora orang Aceh di Batam.

Migrasi besar-besaran orang Aceh ke Batam sekira tahun 2000-an. Saat itu ada sekira 18 ribu orang Aceh di Batam. Setelah MoU Helsinki, sebagian besar mereka pulang ke Aceh. Sekarang masyarakat Aceh di Batam sekira 6-8 ribu orang.

Orang Aceh di Batam memiliki profesi beragam, dari kecil sampai besar. Di Batam dan Natuna ada yang jadi Wakil Ketua DPRD. Ia sendiri, dan ada satu lagi di Kepulauan Natuna. Selain itu, orang Aceh di Batam dan sekitarnya ada yang berprofesi sebagai dokter, juga ada yang jadi camat. Ada juga yang jadi pengusaha, pedagang, sopir, pelaut, penulis, dan sebagainya.

Selain itu, ada orang Aceh juga menjadi penghuni penjara di Batam. Di sana, polisi pernah mengadakan acara seni orang Aceh di penjara. Mereka sudah pandai dalam penjara, dengan berbagai keahlian baru. Kasus mereka hanya satu saja.

Hal lain yang mengejutkanku, saat Teuku Hamzah mengatakan, ada sebuah pulau di sana memiliki kompleks makam berbatu nisan Aceh. Itu Pulau Tanjungkubu, dekat Pulau Belakang Padang. Ada makam orang Aceh yang lama, berbatu nisan Aceh. Di sana ada Selat Aceh (Selat Sepiu). Dulu saat orang Aceh ke sana, untuk membantu kerajaan Lingga dari serangan Portugis.

“Dulu, kita pernah membikin acara pelantikan pegurus Permasa (Persatuan Masyarakat Aceh) di Batam, kita mengundang semua pejabat di Aceh ke Batam. Gubernur, bupati, ketua MAA, dan wartawan,” kata Teuku Hamzah, Ketua Permasa di Batam.

Kuliner Aceh sudah terkenal di Batam. Mie Aceh dan bandrek Aceh tersebar di seluruh bagian pulau Batam. Bagi orang luar negeri, terutama orang Korea dan Jepang, mereka mengenal Batam, seperti Bali, nama Batam lebih terkenal daripada nama Indonesia.

Setelah pembicaraan sekira satu jam, malam pun larut. Kami bubar dari tempat itu, pertemuan pertama dengan ketua Permasa selesai.

Paginya, Teuku Hamzah mengatakan, ketika ada luang waktu, ia akan mengajakku dan beberapa tokoh di sana untuk mengunjungi pulau sekitar Batam yang punya kompleks makam berbatu nisan Aceh. Aku senang mendapat ajakan itu.

Setelah itu, kutelepon Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, tentang kemungkinan mengundang peneliti sejarah dan kebudayaan Islam di Asia Tenggara, Taqiyuddin Muhammad, untuk melihatnya pula. Maka, ia mengirim data dari jurnal Prancis.

Di Bukit Batu, Pulau Bintan ada kompleks makam berbatu nisan Aceh lengkap dengan foto dan datanya. Ada nisan Pasai tahun 1400-an Masehi, ada nisan Aceh Darussalam abad 17-18 Masehi, di Pulau Bintan itu.

Yang semakin seru, kemudian kuterima kabar bahwa di Bukit Bintan tengah diadakan lomba menulis puisi tentang Hang Tuah untuk beberapa negara serumpun, pengumuman pemenang pada 29-30 Nopember 2018. Maka, kubaca cerita, Kisah Hang Tuah di pulau itu pula.

Ini semakin menarik, seperti hikayat dongeng Malem Diwa atau Raja Pasai dengan sejarah asli Kesultanan Samudra Pasai. Begitu tentang cerita Hang Tuah dan sejarah para kesatria dan ulama yang terbaring di makam berbatu nisan Aceh di Pulau Bintan, dan sekitar Batam lainyan. Bahwa orang Aceh sudah lama menjelajahi pulau-pulau di sekitar Laut Cina Selatan ini, sebagai kesatria. Tentang itu, akan kutulis di kali lain.[]

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025, jurnalis di portalsatu.com, dan aktivis kebudayaan di PuKAT (Pusat Kebudayaan Aceh-Turki), mengikuti Residensi Penulis Indonesia 2018 dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, tujuan Batam, selama dua bulan. Penelitiannya tentang perkembangan sosial budaya masyarakat Aceh dan penduduk asli dan lainnya di Batam, sebagai pulau industri yang bebatasan dengan Singapore. Pihak BPNB (Balai Pelestarian Nilai Budaya) Aceh turut membantu, juga beberapa orang secara pribadi, di antaranya Zahraini, Yulianda, Razali Ismail, Muharuddin, Zul Anshary, Firman Saputra, dan handai taulan lainnya.

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.