21 August 2018

Kabar Aceh Untuk Dunia


Pesona Masjid Raya Tokyo

...

  • REPUBLIKA
  • 09 August 2018 23:00 WIB

Tokyo Camii atau Masjid Tokyo di Jepang. @Tokyocamii
Tokyo Camii atau Masjid Tokyo di Jepang. @Tokyocamii

Rumah ibadah ini sudah berdiri sejak 12 Mei 1938

PADA 24 Juli - 9 Agustus 2020, Jepang akan menyelenggarakan Olimpiade Musim Panas. Sebagai tuan rumah yang baik, negara berjuluk Negeri Matahari Terbit itu terus mengupayakan pelbagai fasilitas penunjang, baik untuk para at let maupun turis mancanegara. Tidak ketinggalan perhatiannya kepada para pelancong Muslim.

Sebagai contoh, pemerintah setempat memperkenalkan sejumlah mushala berjalan (mobile) yang dibuat dari modifikasi truk kontainer. Namun, Jepang jauh sebelumnya su dah mewujudkan suasana yang ramah Muslim. Sebagai contoh, Kompleks Masjid Raya Tokyo (Tokyo Camii) di ibu kota negara tersebut.

Rumah ibadah ini sudah berdiri sejak 12 Mei 1938 sebagai bagian dari sekolah Islam setempat, kini Sekolah Islam Internasional Yuai. Pendirinya berasal dari suku Bashkir dan Tatar di Rusia. Mereka hijrah ke Jepang setelah Revolusi Oktober 1917 yang memunculkan rezim komunis.

Perancang masjid tersebut pada mulanya adalah Adurrepid Ibrahim, yang kelak menjadi imam setempat. Dia dibantu koleganya, Abdülhay Kurban Ali. Sejak 1938, pusat aktivitas dakwah Islam itu terus berkembang di Tokyo hingga pembongkarannya pada 1986. Alasannya, masjid tersebut mengalami sejumlah kerusakan yang mengharuskannya direnovasi besar-besaran. Pada 1998, rencana yang lama dinanti-nanti akhirnya dapat mulai terlaksana.

Pemulihan itu berlangsung dengan sokongan Departemen Urusan Agama Turki. Negara yang beribu kota di Ankara itu memiliki perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan Islam di wilayah-wilayah minoritas Muslim.

Untuk membangun Masjid Raya Tok yo, lembaga ini mendatangkan Muharrem Hilmi Senalp (lahir 1957), seorang arsitek yang telah memiliki banyak pengalaman dalam membangun mas jid-masjid besar. Selain itu, didatangkan pula lebih dari 70 ahli kesenian ukir asal Turki. Mereka bertugas mem buat ornamen-orna men yang akan menghiasi seluruh masjid ini.

Bahan-bahan bangunan, termasuk batu-batu marmer berkualitas tinggi, juga diimpor dari Turki. Tujuannya me mang agar corak arsitektur khas Turki Utsmaniyah mendominasi pembangunan rumah ibadah tersebut.

Dua tahun kemudian, proyek yang menelan dana hingga 1,5 miliar yen ini se agai salah satu sentra peribadatan umat Islam di Jepang, masjid ini cukup akomodatif. Luasnya mencapai 734 meter persegi. Bila ditambah dengan total tiga lantai secara keselu ruhan, masjid ini memiliki luas 1.477 meter persegi. Ada pula ba gian ruang bawah tanah (ba se ment) untuk tempat parkir. Ka pasitas Masjid Raya Tokyo dapat menampung sekira 1.200 orang jamaah.

Terindah

Menurut data Asosiasi Muslim Je pang, jumlah masjid di negara tersebut mencapai 80 unit masjid (Republika, 25/5/2015). Masjid Raya Tokyo termasuk yang terbesar dan terindah di antaranya. Dilihat dari bentuknya, masjid ini mirip dengan Masjid Sultan Ahmed alias Masjid Biru di Istanbul, Turki.

Rupa kubahnya yang setinggi 23,25 meter jelas terinsipirasi dari gaya bangunan Utsmani yah. Kubah besar itu ditopang enam pilar yang terlihat men julang megah dari sisi interior masjid ini. Di dekat kubah ter sebut, ada menara setinggi 41,48 meter. Penampakannya menyerupai pensil raksasa. Hal itu, sekali lagi, menandakan corak khas Utsmaniyah, meskipun menara di Masjid Raya Tokyo hanya berjumlah satu.

Masjid Raya Tokyo terlihat lebih ramping dengan adanya bentuk dinding yang datar. Dinding-dinding ini diberi lubanglubang ventilasi dengan pola yang melingkar. Pada sejumlah bagian di dalam dan luar masjid ini terdapat lukisan-lukisan kaligrafi yang indah.

Sayangnya, di sekitar rumah ibadah ini didominasi kompleks gedung-gedung perkantoran. Letaknya juga berada tepat di pinggir jalan raya, sehingga kurang menyediakan lahan untuk taman-taman asri.[]Sumber:republika

Editor: THAYEB LOH ANGEN


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.