15 December 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Temukan Kerangka Putri Pukes Dalam Goa di Aceh Tengah, Ini Kata Arkeolog

...

  • KOMPAS
  • 06 August 2019 18:00 WIB

Foto: kompas.com
Foto: kompas.com

Sebuah cerita rakyat di Dataran Tinggi Gayo, Aceh, yang berkisah tentang Putri Pukes, seorang pengantin wanita yang menjadi batu karena tidak mendengarkan amanah ibunya, kini menjadi obyek penelitian tim arkeolog.

Peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan, Sumatera Utara tak meneliti batu yang berdasarkan legenda merupakan tubuh dari Putri Pukes.

Tim peneliti menemukan kerangka manusia berjenis kelamin perempuan dalam penelitian yang dilakukan di Goa Putri Pukes atau Loyang Peteri Pukes, dengan perkiraan usia lebih dari 3.000 tahun.

"Karena masyarakat secara tradisional menjadikan cerita Putri Pukes sebagai cerita rakyat. Pada akhirnya pembuktian arkeologis menemukan kerangka Putri Pukes di goa tempat batu yang selama ini dikira merupakan tubuh Putri Pukes yang telah menjadi batu," Kata Ketut Wiradnyana, Ketua tim peneliti dari Balai Arkeologi (Balar) Medan, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu.

Para peneliti, lanjutnya, menemukan kerangka yang meninggal di goa itu. Ia mengatakan dugaan awal saat itu adalah kerangka Putri Pukes.

"Kerangka Putri Pukes ditemukan bersama kerangka lain yang sudah dianalisis di Oxford University. Sudah selesai, tetapi mereka belum dapat dipublikasikan," kata Ketut.

Menurutnya, kerangka Putri Pukes agak berbeda dengan kerangka lain yang sudah diteliti di sekitar Ceruk Mendale. Perbedaanya kerangka tersebut adalah dari sisi ras.

"Ras Putri Pukes lebih tua daripada temuan kerangka di Loyang Mendale," terangnya.

Loyang Mendale adalah sebuah obyek penelitian prasejarah yang sebagian besar telah diungkap oleh Balai Arkeologi Sumatera Utara selama sepuluh tahun, Lokasi penelitian Loyang Mendale berada kurang lebih 2 kilometer dari Loyang Puteri Pukes.

Kondisi goa Putri Pukes yang memprihatinkan lanjut Ketut, menjadi penyebab banyak data arkeologis yang hilang dan rusak, sehingga sempat menyulitkan penelitian.

Berdasarkan hasil penelitian yang melibatkan sejumlah peneliti asing, Ketut menganggap telah terjadi pembauran antara manusia di sejumlah lokasi di Takengon, Aceh Tengah, sejak 5000 tahun yang lalu. Dengan demikian, perbedaan budaya dan agama sudah ada sejak dulu kala.

"Tidak heran ketika masa selanjutnya, banyak budaya masyarakat disini yang terbuka," sebutnya.

Temuan ini tambah Ketut, membuktikan dugaan bahwa cerita Putri Pukes itu memang ada, yakni berupa kehidupan pada masa lalu.

"Artinya, secara turun temurun masyarakat sudah tahu bahwa disana sudah ada yang tinggal sejak dahulu, kalau cerita itu menjadi legenda merupakan hal yang biasa. Namun yang pentin sudah ada orang yang menghuni pada masa lalu, itu yang sudah pasti," ujarnya.

Menurutnya, cara menjelaskan orang-orang pada masa lalu yaitu dengan bercerita. Metode bercerita, lanjutnya, sudah berlaku sejak dahulu kala dan kearifan lokal itu sudah ada.

Penelitian yang dilakukan di Loyang Putri Pukes menurut Ketut, dilakukan pada durasi Mei hingga Juli 2019.

Meski demikian pihaknya sudah pernah menyambangi Loyang Peteri Pukes pada tahun 2018. Sampel saat itu sampel DNA dibawa oleh sejumlah peneliti asing untuk mengetahui ras dan perkiraan usia dari kerangka Putri Pukes yang hidup pada masa lampau tersebut.

"Yang dikirimkan ke Oxford University adalah bagian daripada tulang, yang dianalisis DNAnya. itu sudah kita kiriam sejak setahun lalu. Menariknya, setelah kita ambil DNA Putri pukes, ternyata berbeda dengan DNA kerangka manusia purba yang kita ditemui disekitar Ceruk Mendale," jelas Ketut.

Selain Oxford University, tes DNA Putri Pukes itu dilakukan di Kopenhagen Denmark, dan di California, Amerika Serikat.

Hasil penelitian ini sebut Ketut, semakin memperkuat bukti bahwa telah terjadinya asimilasi budaya manusia pada masa lalu. Hal itu diperkuat dengan temuan beragam benda yang digunakan dalam kehidupan pada masa lalu.

"Yang pasti diduga lebih tua dari temuan yang ada di Loyang Mendale, tetapi budayanya orang Mendale. Seolah perbauran manusia dan budaya terjadi dengan ditemukannya Kapak batu, kapak lonjong, kapak persegi, pecahan tembikar," ujarnya.

Menurutnya, temuan kerangka di Loyang Mendale mencerminkan pembauran tetapi lebih dominan mongoloid. Sementara, kerangka di Puteri Pukes adalah ras austromelanesoid atau rumpun bangsa melanesoid/negroid yang menetap di beberapa benua.

"Sementara yang di Loyang Mendale lebih dominan dengan ras mongoloid, ciri australomelanosoid ini seperti di Nduga, atau Papua," ucapnya sembari menambahkan, ras australomelanosoid umumnya memiliki kulit yang lebih gelap.

Tes DNA Puteri Pukes itu dilakukan di Kopenhagen, Oxford, dan California.

Legenda Putri Pukes jadi batu

Pasangan suami istri bernama Puteri Pukes (Peteri Pukes) menggelar pernikahan di rumahnya di pinggiran Danau Laut Tawar, Takengon, Aceh Tengah.

Setelah prosesi pernikahan selesai, sang ibu merasa berat melepaskan Putri Pukes yang akan berangkat ke rumah suaminya. Sang ibu memberikan pesan agar tidak melihat kebelakang apabila Puteri Pukes bersama rombongan sedang berjalan menuju rumah pengantin laki-laki.

Singkat cerita, penganti pria berangkat menunggangi kuda di atas gunung yang tidak jauh dari pinggiran Danau Laur Tawar.

Sementara karena pada saat itu pengantin pria dan wanita tidak boleh berduaan dalam perjalanan. Rombongan Putri Pukes berangkat melewati lereng gunung yang berada tidak jauh dari Danau Laut Tawar.

Di tengah perjalanan, Putri Pukes merasa ada suara yang mirip dengan suara ibunya terus memanggil dari kejauhan. Tak tahan menahan kerinduan dengan sosok ibu, Puteri Pukes akhirnya melanggar amanah ibunya dengan menoleh ke arah belakang.

Tak lama, hujan badai petir tiba-tiba muncul, akhirnya Puteri Pukes dan suaminya menjadi batu di lokasi yang berbeda.

Kini sebuah batu Putri Pukes dengan tinggi kurang lebih 1, 5 meer berada di sebuah goa yang disebut Loyang Peteri Pukes atau Goa Puteri Pukes di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah.

Loyang Puteri Pukes itu saat ini telah menjadi kunjungan wisata di daerah berhawa sejuk itu, dan biasanya dibuka pada hari Sabtu dan Minggu atau saat waktu libur tiba.

Reporter: Iwan Bahagia.[] Sumberkompas.com

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.