26 November 2020

Kabar Aceh Untuk Dunia


Turki Bisa Jadi Contoh Bagi Indonesia dalam Pengembangan Pariwisata

...

  • ANADOLU AGENCY
  • 18 November 2020 22:00 WIB

Sebuah pemandangan pantai Konyaalti dan Lara pada siang hari di Antalya, Turki, pada 25 Oktober 2020. @Orhan Çiçek - Anadolu Agency)
Sebuah pemandangan pantai Konyaalti dan Lara pada siang hari di Antalya, Turki, pada 25 Oktober 2020. @Orhan Çiçek - Anadolu Agency)

Indonesia perlu belajar dari Turki dalam mengembangkan sektor pariwisata, terutama setelah terhantam pandemi Covid-19.

Duta Besar Indonesia untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal mengatakan Turki dan Indonesia sebenarnya tidak bisa dibandingkan secara langsung dalam segi pariwisata, namun bisa dijadikan pelajaran.

Dia mengatakan 70 persen daya tarik pariwisata Turki merupakan situs-situs bersejarah peninggalan peradaban terdahulu sementara 30 persennya adalah wisata alam.

Turki memiliki 16+2 situs UNESCO dan 83 situs masuk dalam daftar tentatif UNESCO.

Sementara pariwisata Indonesia 70 persen daya tariknya merupakan wisata alam dan sisanya situs-situs bersejarah dengan terdapat 5 situs UNESCO dan 19 situs dalam daftar tentatif UNESCO.

“Posisi geografisnya juga berbeda karena Turki merupakan hub ke Eropa, Balkan, Asia, dan Timur Tengah dengan jarak ke negara-negara sekitar paling jauh 3 sampai 4 jam dan ongkos perjalanannya lebih rendah,” ujar Iqbal dalam diskusi virtual, Rabu.

Sementara turis-turis asal Eropa dan Amerika membutuhkan waktu terbang hingga 8 jam lebih ke Indonesia sehingga memengaruhi performa pariwisatanya.

Iqbal mengatakan Turki pernah berada pada kondisi sektor pariwisata yang tertinggal dengan hanya dikunjungi 5 juta turis asing pada 1990.

Namun, kata dia, pada tahun 2000 sudah sebanyak 10 juta turis asing datang ke negara dua benua tersebut.

Lalu, pada 2010 jumlah kunjungan turis asing ke Turki mencapai 28 juta kemudian pada 2019 sudah mencapai 45 juta.

Sementara dua dekade lalu, Indonesia hanya dikunjungi 5 juta orang turis mancanegara dan pada 2010 bertambah menjadi 7 juta turis asing, kemudian pada 2019 mencapai16 juta turis asing yang datang berkunjung.

“Ada sesuatu yang bisa dipelajari dari Turki dalam menciptakan quantum leap dalam pariwisatanya,” tambah Iqbal.

Strategi Turki pulihkan pariwisata di tengah pandemi Covid-19

Iqbal mengatakan pada tahun ini sektor pariwisata Turki juga terhantam pandemi Covid-19.

Pada kuartal pertama 2020 Turki hanya dikunjungi 4 juta wisatawan sampai Maret sebelum ada penutupan semua akses penerbangan ke luar negeri.

Iqbal mengatakan pada Maret hingga Mei tidak ada kunjungan wisatawan ke Turki kemudian pada akhir Mei terdapat 29 ribu turis asing yang datang berkunjung.

“Setelah Turki resmi membuka akses pariwisatanya pada 10 Juni, kunjungan langsung melonjak menjadi 295 ribu turis pada bulan tersebut,” jelas Iqbal.

Dia mengatakan Turki tidak mengharuskan turis asing yang datang untuk melakukan PCR test.

Iqbal menambahkan bahwa pelajaran yang bisa diambil adalah kebijakan untuk membuka ataupun menutup pariwisata di tengah pandemi merupakan pilihan selama risiko yang ada bisa terkalkulasi dan dimitigasi.

“Pemerintah Turki melihat jauh lebih mudah memitigasi risiko kesehatan dibanding risiko ekonomi sehingga mengambil risiko membuka pariwisata,” jelas dia.

Iqbal menjelaskan bahwa Turki sudah memastikan ketersediaan rumah sakit khusus bagi orang asing walaupun tingkat okupansi rumah sakit selama pandemi paling tinggi hanya 63 persen.

Rumah sakit khusus orang asing tersebut berada di bandara lama yang sudah tidak terpakai untuk menangani apabila ada wisatawan yang terjangkit Covid-19.

“Wisatawan yang datang ke Turki dan terkena Covid-19 sangat rendah, kurang dari 0,01 persen dari total turis yang datang. Ini artinya risiko bisa dimitigasi,” jelas Iqbal.

Dia mengatakan pada kuartal ketiga Turki sudah menerima 6,4 juta wisatawan asing sehingga jumlah kunjungan turis sudah melampaui angka 10 juta orang.

Iqbal mengatakan pendapatan sektor pariwisata Turki pada tahun lalu mencapai USD34 miliar sehingga pemerintahnya menilai pendapatan dari pariwisata lebih besar dibandingkan risikonya.

“Membuka pariwisata juga menghindari frustasi sosial di kalangan pelaku pariwisata yang merupakan tulang punggung ekonomi Turki,” ungkap Iqbal.

Dia menambahkan pemerintah Turki sudah melakukan persiapan melalui program sertifikat kesehatan untuk pelaku pariwisata seperti agen perjalanan, restoran, kafe, dan hotel pada saat membuka kembali pariwisatanya.

Pemerintah Turki juga tidak segan melakukan inspeksi dadakan dan menindak pihak yang melanggar sertifikat kesehatan tersebut.

“Turki juga sudah bekerja sama dengan agen perjalanan besar dari 50 negara pemasok turis terbesar sehingga sistem mereka sudah diakui,” tambah Iqbal.

Iqbal menambahkan pemerintah Turki juga gencar berdiplomasi kepada negara pemasok turis terbesar seperti yang dilakukan menteri luar negeri dan menteri pariwisatanya saat mengunjungi Jerman dan Rusia untuk memastikan Turki tidak masuk ke dalam destinasi wisata yang tidak direkomendasikan.

Selanjutnya, dia mengatakan pemerintah Turki juga memberikan insentif dan stimulus dengan mensubsidi 60 persen gaji pegawai operator pariwisata yang mengalami kesulitan finansial.

“Subsidi diberikan langsung ke pekerjanya, termasuk pekerja pariwisata asal Indonesia yang mendapatkan 40 persen gaji dari perusahaan dan 60 persen dari Dinas Sosial,” ungkap dia.

Iqbal mengatakan dalam memberikan subsidi dan insentif tersebut, pemerintah Turki tidak lagi melakukan pendataan karena basis data pemerintah sudah kuat untuk mengetahui perusahaan mana yang sedang mengalami kesulitan finansial akibat pandemi.

Faktor utama pertumbuhan pariwisata Turki

Iqbal menjelaskan faktor utama yang membuat pariwisata Turki tumbuh pesat antara lain pembentukan citra yang positif.

Dia menjelaskan pada saat terjadi pengeboman di dekat masjid Hagia Sofia beberapa tahun lalu, Presiden Erdogan datang berjalan-jalan dengan keluarganya dan berbincang-bincang dengan turis tanpa pengawalan.

“Ini menimbulkan kesan bahwa semuanya baik-baik saja,” kata dia.

Selanjutnya, faktor kedua menurut Iqbal adalah konektivitas yang baik di Turki seperti jarak antara Istanbul dan Ankara yang hanya 4 jam perjalanan darat, sementara pada 2003 lalu bisa mencapai 9 jam perjalanan.

Selain itu, porsi jumlah kunjungan di Turki hampir merata antara di wilayah barat, timur, dan tengah akibat dari bagusnya konektivitas infrastruktur yang ada.

Kemudian, Iqbal mengatakan maskapai nasional Turki Turkish Airlines juga turut berperan dengan menjadi jembatan penghubung untuk mengantarkan turis asing dari luar negeri ke Turki.

Dia mengatakan dengan filosofi tersebut, maskapai bisa mensinkronisasi jumlah frekuensi penerbangan dari dan menuju negara yang merupakan asal turis terbesar Turki seperti Jerman, Rusia, dan Inggris dengan jumlah penerbangan terbanyak.

“Bandingkan dengan Garuda Indonesia yang frekuensi penerbangan paling tinggi ke Jeddah dan Madinah, sehingga mindsetnya masih outgoing bukan incoming yang menjembatani negara sumber pariwisata dan perdagangan untuk masuk,” ungkap Iqbal.

Target 2021

Catatan Anadolu, pada 2021 sektor pariwisata Turki diperkirakan terus membesar mengingat para pemain di sektor pariwisata Turki berniat untuk memperluas jangkauan pasar dalam persiapan memasuki tahun 2021.

"Kami mencari pasar alternatif untuk tahun-tahun mendatang. Kami memiliki inisiatif penting yang akan menarik wisatawan tidak hanya dari beberapa titik, tetapi dari setiap sudut dunia," kata Ulkay Atmaca, kepala Asosiasi Manajer Hotel Profesional Turki ( POYD), pada akhir Oktober lalu.

Tahun ini mereka menargetkan sebanyak mungkin fasilitas tetap terbuka di tengah pandemi, dan lebih banyak lagi fasilitas yang dibuka pada 2021.

"Akan ada studi baru tentang diversifikasi pasar sebagai suatu sektor," kata Erkan Yagci, kepala Asosiasi Hotelier Wisata Mediterania, akhir Oktober lalu.

Dia mengatakan strategi pariwisata sektor 2023 adalah mengembangkan produk dan keragaman pasar.

Awal tahun ini, duta besar Portugal untuk Turki menyatakan kepuasannya atas langkah-langkah yang diambil pemerintah Turki untuk mempromosikan pariwisata yang aman di tengah pandemi.

“Inisiatif pemerintah Turki untuk mengeluarkan sertifikat keamanan kepada institusi, seperti restoran dan hotel, yang secara sukarela mengikuti dan mengadopsi semua prosedur yang benar terkait keselamatan dan pencegahan Covid-19, sangat cocok,” kata Paula Leal Da Silva.

Program Sertifikat Pariwisata Aman khusus Turki menetapkan standar keselamatan yang komprehensif di semua area, dari maskapai penerbangan hingga akomodasi, untuk warga negara Turki, pelancong internasional, dan pekerja pariwisata.[]sumber:anadolu agency

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


Alamat:

Jalan Prof. Ali Hasjmy, No. 6, Desa Lamteh, Ulee Kareng, Kota Banda Aceh. Kode Pos: 23118.

portalsatu.com © 2020 All Rights Reserved.