13 November 2019

Kabar Aceh Untuk Dunia


Wapres Myanmar Kunjungi Anjungan Aceh: Napak Tilas Sejarah yang Sulit Dilupakan

...

  • portalsatu.com
  • 20 October 2019 19:30 WIB

Wakil Presiden Myanmar, Henry Van Thio (kedua dari kanan) didampingi Kepala BPPA, Almuniza Kamal saat prosesi penyambutan tamu di depan Dakota DC-47, Anjungan Aceh, TMII, Minggu, 20 Oktober 2019. (Foto: Zikrullah/BPPA)
Wakil Presiden Myanmar, Henry Van Thio (kedua dari kanan) didampingi Kepala BPPA, Almuniza Kamal saat prosesi penyambutan tamu di depan Dakota DC-47, Anjungan Aceh, TMII, Minggu, 20 Oktober 2019. (Foto: Zikrullah/BPPA)

JAKARTA - Wakil Presiden (Wapres) Myanmar, Henry Van Thio, didampingi Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, Ei Ei Khin Aye, melakukan kunjungan kerja ke Anjungan Aceh, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), di Jakarta. Kunjungan tersebut dalam rangka napak tilas hubungan antardua negara, Indonesia dan Myanmar.

Kunjungan itu diterima Plt. Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, M.T., diwakilkan Kepala Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) di Jakarta, Almuniza Kamal, S.STP., M.Si., didampingi Subbid Promosi dan Pameran Anjungan Aceh TMII Jakarta, Ir. Cut Putri Alyanur. 

Almuniza mengungkapkan, hubungan antara Indonesia dan Myanmar (dulu Burma) sudah terjalin sejak puluhan tahun lalu. Saat itu, Burma tengah dilanda konflik berkepanjangan antara dua kubu pemberontakan, yaitu golongan kiri (The White Flag People Volunteers Organization) dan golongan ekstrem kanan, suku Karen di perbukitan.

"Atas dasar itu pula, akhirnya Myanmar saat itu meminta bantuan kepada Indonesia melalui Perwakilan Indonesia di Myanmar untuk menyewa pesawat Dakota DC-47, salah satu pesawat sumbangan masyarakat Aceh untuk dijadikan pesawat kepresidenan," jelas Almuniza di Anjungan Aceh, Ahad, 20 Oktober 2019.

Dengan pesawat ini pula, tambah dia, pejuang Indonesia dahulunya pernah menembus blokade Belanda dan melakukan penyelundupan berbagai jenis senjata, obat, alat komunikasi dari Myanmar ke Pangkalan Udara Blang Bintang dan Lhoknga, Aceh. Kemudian, dengan pesawat itu pula pemerintah Myanmar meredam pemberontak.

"Jadi, ada sejarah penting antara perjuangan Myanmar dalam melepaskan diri dari pemberontakan dengan Dakota DC-47, atau dikenal dengan Seulawah RRI-001. Sebab, awalnya pesawat tersebut memang akan digunakan untuk pesawat kepresidenan," tutur dia.

Dia menjelaskan, sejarah panjang Seulawah RRI-001 itu pula yang akhirnya membawa Wapres Myanmar tersebut datang ke Anjungan Aceh TMII. Kunjungan tersebut dirasakan penting karena punya nilai sejarah yang begitu panjang. 

"Bahkan, Seulawah pernah mendapat julukan sebagai "Sarang Rajawali" atau The Eagle’s Nest saat resmi menjadi Indonesian Airways. Keberadaan pesawat ini juga tercatat sebagai salah satu pesawat yang tidak saja mengangkut kebutuhan militer di sana saat itu, tapi juga membawa para pemimpin Myanmar untuk melakukan berbagai keperluan kenegaraan," ujarnya.

Dalam kunjungan itu, Wapres Myanmar mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Pemerintah Indonesia, khususnya juga Pemerintah Provinsi Aceh karena masih menjaga dan merawat Seulawah RI-001. 

Wapres Myanmar juga memberikan apresiasi terhadap sambutan dan suguhan berbagai makanan khas Aceh usai berkeliling di dalam replika pesawat Seulawah RRI-001 tersebut.[](rilis)

Editor: portalsatu.com

Berita Terkait


portalsatu.com © 2017 All Rights Reserved.