29.3 C
Banda Aceh
Minggu, Mei 16, 2021

Cerita Iphone Savanh Mualaf Laos Belajar Islam ke Batam

BERITA DAERAH

Sungguh, tidak terpikir sedikitpun di benak Iphone Savanh, yang kini akrab dipanggil Ismail, dirinya akan pergi meninggalkan desa yang telah dihuninya bertahun-tahun untuk belajar ke negara yang belum ia tahu rimbanya. Di Pondok Pesantren Said bin Zaid, yang berlokasi di Batam, Indonesia, Ismail bersama istrinya akan mendalami Islam.

Namun, jangan dibandingkan dengan negara tempatnya berasal, Laos. Sebagai negara minoritas Muslim, dirinya dan beberapa keluarga lainnya yang tinggal di desa yang jauh dari perkotaan kesulitan menemukan orang yang mampu membimbing mereka mempelajari Islam.

Tepatnya di Desa Ban Ngiu Muang Houn Provinsi Oudomxai, 600 kilometer dari Vientiane (ibu kota Laos), Ismail sendiri belum lama tergerak hatinya untuk mengikrarkan syahadat dan memeluk Islam. Salah satu koordinator Muhammadiyah ASEAN Imbalo Iman Sakti menceritakan bahwa sebelumnya, Ismail didorong untuk belajar di Ibu kota, Vientiane.

Dari sana ia menyaksikan bagaimana dakwah Islam dari layar kaca yang dipancarkan dari stasiun televisi di Bangkok, Thailand. Segera setelah pulangnya dari Vientiane, Ismail meminta untuk disyahadatkan begitu pula dengan keluarga terdekatnya.

“Empat bulan yang lalu ada 8 keluarga yang sudah bersyahadat di desa itu,” terang Imbalo yang sempat bertemu dengan Ismail Ramadhan yang lalu.

Bahkan, dua sahabat Ismail yang berasal dari desa yang berbeda turut memutuskan memeluk Islam. Mereka adalah Bounpheng yang kini memilih dipanggil dengan nama Musa dan Hasan yang sebelumnya bernama Yeam.

Berawal dari ketertarikannya terhadap Islam, kini mereka akan mendalami ajaran Islam di pesantren yang sama dengan Ismail. Meskipun bukanlah berasal dari keluarga yang berada, itu tidak menjadi kendala bagi keduanya merantau menimba Ilmu agama di Indonesia.

Meskipun sejumlah pembiayaan telah ditanggung oleh Ponpes Said bin Zaid yang dikelola oleh Asian Muslim Charity Foundation (AMCF) seperti biaya makan, penginapan, uang sekolah dan buku. Syukurnya, bantuan dari saudara Muslim yang menetap di Singapura turut meringankan beban mereka.

“Mereka bukan orang berada, ibu Yulia dan ibu Ely yang tergabung dalam keluarga ekspatriat di Singapura tergugah hatinya membuatkan paspor kedua pemuda ini. Sedangkan Ismail dan istrinya masih membutuhkan biaya visa dan transportasi dari Laos ke Batam,” imbuh Imbalo.

Tak berbeda dengan Musa dan dan Hasan, belakangan ini Ismail juga menghadapi kondisi ekonomi yang sulit. Di desanya yang terletak di wilayah pegunungan tersebut cukup sulit untuk mencari mata pencaharian yang lain dari bercocok tanam. Kebijakan pemerintah Laos yang telah menentukan hasil bumi apa yang boleh ditanam di satu daerah dan daerah yang lain, turut menjadi kendala baginya untuk mencukupi kebutuhan hidup.

“Harga jagung jatuh, dan mereka terlilit rentenir. Petani di Laos berbeda dengan lainnya. Yang harus ditanam telah ditentukan oleh pemerintah. Mereka hanya boleh menanam jagung, sedangkan di kampung lain boleh menanam padi,” katanya.

Keresahan lain pun muncul di benak Ismail karena dirinya akan meninggalkan desa dan saudara Muslimnya untuk belajar di Indonesia. Selama ini, menurut Imbalo, hanya Ismail yang telah cukup mampu untuk melakukan ibadah sholat sekaligus menjadi imam bagi Muslim lain di kampungnya.

“Bahkan, laki-laki yang telah mengucap syahadat pun belum dikhitan. Ada belasan orang kini termasuk anak,” tukas Imbalo.

Imbalo pun bercerita di kala kunjungannya bersama rekannya dari Sabah penduduk Muslim setempat mengeluhkan mereka kebingungan menjalankan praktik-praktik yang sesuai dengan tuntunan Islam. “Mereka bertanya. ‘Kami sudah puluhan orang muslim sekarang disini. Seandainya ada yang meninggal bagaimana caranya. Tak seorang pun tahu’.”

Minimnya sumber pengetahuan Islam di daerah tempat Ismail bersama sejumlah saudara Muslim lainnya menyambung hidup, membuat Imbalo bersama sejumlah saudara Muslim lainnya berencana mendatangkan da’i juga tenaga kesehatan ke kampung tersebut. Ia bersama rekannya juga tim dokter dari Kuala Lumpur mendatangi kampung Ismail pada 27 September 2017.

“Kami juga berencana hendak mendatangkan da’i ke kampung itu selama Ismail dan isterinya belajar Islam di Batam. Kami bersyukur, Allah menurunkan hidayah kepada keluarga di sana yang tak pernah terbayang sebelumnya,” tandas Imbalo.[]Sumber:republika.co.id/ https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/03/31/keterbatasan-tak-gentarkan-muallaf-laos-belajar-islam/

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Kunjungi Aceh, Ini Kata Menteri Investasi

BANDA ACEH – Menteri Investasi Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, mengunjungi Aceh pada Ahad, 16...

Begini Kondisi Jalan Lintas Gayo Lues-Aceh Timur Setelah Tanah Longsor Dibersihkan

BLANGKEJEREN - Sempat lumpuh total akibat tanah longsor menutupi badan jalan di dua titik...

Puluhan Rumah Terendam Banjir di Aceh Tenggara

KUTACANE – Puluhan rumah dan badan jalan di Dusun Lumban Sormin Desa Lawe Harum,...

Pemuda Lancok-Lancok Salurkan Bantuan Uang Tunai kepada Korban Kebakaran, Pemkab Diminta Bangun Rumah

BIREUEN - Perwakilan Pemuda Gampong Lancok-Lancok, Kecamatan Kuala, Bireuen, menyerahkan bantuan uang tunai kepada...

2030, Umat Islam Rayakan 2 Kali Ramadan dan Idulfitri, Mengapa?

Hari raya Idulfitri umumnya terjadi satu tahun sekali. Namun, pada tahun 2030, umat Islam...

Mualaf Ali Vyacheslav Polosin: Islam di Rusia Miliki Masa Depan Cerah

MOSKOW -- Masyarakat Rusia pertama kali menemukan populasi etnis Muslim Rusia pada paruh kedua...

Pengadaan Fasilitas Penanganan Sampah di Lhokseumawe 2021: Kapal, Truk dan Bin Container

LHOKSEUMAWE - Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan membeli sejumlah fasilitas...

Dinilai tak Becus Tangani Sampah, Dewan: Copot Kepala DLH

LHOKSEUMAWE - Anggota DPRK Lhokseumawe, H. Jailani Usman, mendesak Wali Kota Suaidi Yahya mencopot...

9 Manfaat Makan Mangga Muda, Termasuk Sehatkan Jantung dan Mata

Makan mangga muda mungkin bisa membuat air liur keluar lebih banyak, karena rasanya yang...

Gokil, Bocah 12 Tahun Ini Lulus SMA dan Kuliah Bersamaan

Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun membuktikan bahwa kerja kerasnya terbayar saat pendidikannya tamat. Namun...

Mualaf Song Bo-ra: Banyak Orang Korea Salah Paham Tentang Islam

SEOUL -- Seorang wanita mualaf asal Korea Selatan, Song Bo-ra (30-an), menceritakan kisah perjalanannya...

RSUZA Nyaris Penuh, Pasien Covid-19 Lampaui Puncak Kurva Tahun Lalu

BANDA ACEH — Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh nyaris...

Kena Prank Elon Musk, Investor Kripto ‘Rugi’ Rp 5.183 T

Ratusan miliar dolar Amerika Serikat (AS) hilang dari industri uang kripto atau cryptocurrency setelah...

Lebaran di Kota, Pasien Sekarat, dan Jika Pemudik Terjebak

HARI raya Idulfitri tahun ini memiliki kisah tersendiri. Pemerintah Aceh melarang masyarakat pulang kampung...

Begini Kondisi Pasien Covid-19 di RSUZA saat Idulfitri

BANDA ACEH — Pasien Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ada yang harus mengikuti takbiran menyambut...

Ratusan Masjid di Maroko Dilengkapi Sistem Energi Surya, Ini Tujuannya

Ratusan masjid di Maroko akan dilengkapi dengan sistem energi surya dari pemerintah dalam rangka...

Tanah Masa Depan

Karya: Taufik Sentana Peminat sosial-budaya Puluhan peradaban kota pernah ingin menjamahmu. Wahyu kenabian dan jejejak risalah telah memuliakan tanahmu. Entah itu...

Tammy Jadi Mualaf Setelah Dibantu Muslim yang tak Dikenal

Tammy Parkin dilahirkan dan dibesarkan di kota kecil New Hampshire, Amerika Serikat. Penduduk kota...

Merawat Fitri

Karya: Taufik Sentana Peminat prosa religi Setelah fase Ramadan tibalah Fitri. Fitri adalah aroma kesucian, kemurnian dan...

Erdogan: Virus Islamofobia Sama Bahayanya dengan Virus Corona, Menyebar Cepat di Eropa

ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan virus Islamofobia menyebar di Eropa. "Virus Islamofobia,...