30.3 C
Banda Aceh
Senin, April 19, 2021

Bentang Atjeh Wadal Kapanasaran, Roman Aceh Berbahasa Sunda

BERITA DAERAH

Pada awal tahun 1932, percetakan Bale Poestaka – Batavia Centrum, menerbitkan sebuah roman dengan judul Bentang Atjeh [Wadal Kapanasaran]. Membaca judulnya sepintas kita akan tahu, roman ini bercerita tentang Aceh, atau setidaknya tokoh dalam kisahnya berasal dari Aceh.

Namun, saya penasaran ketika membaca tulisan kecil di bawah judulnya [wadal kapanasaran]. Pertanyaanya adalah ini bahasa apa? Ini bukan bahasa Aceh. Sangking penasarannya, saya langsung mengarahkan crusor laptop saya membuka halaman selanjutnya dari roman itu, tanpa melihat covernya secara utuh. Bertambah kaget saya, karena hampir tak ada kata-kata dalam ceritanya yang bisa saya pahami.

Saya tinggalkan roman itu dengan rasa penasaran yang sangat besar. Laptop masih menyala begitu saja. Saya lanjutkan rutinitas saya mengedit berita untuk yang masuk ke email. Tapi rasa penasaran saya belum juga hilang.

Baca Juga: Ragam Mode Baju di Aceh Tempo Dulu.

Sekitar dua jam kemudian saya buka kembali roman tersebut. Saya teliti lagi, seketika baru saya mahfum, di sana tertulis, Ditjaritakeun Dina Basa Soenda Koe Moh Ambri. Ya, roman karya sejarawan Aceh HM Zainuddin ini dialihbahasan ke bahasa Sunda oleh Mohammad Ambri.

Tapi kemudian rasa penasaran yang lebih besar muncul lagi. Bagaimana dengan versi aslinya dalam bahasa Aceh atau bahasa Indonesia. Roman ini pasti menarik, kalau tidak tak akan mungkin dialihbahasan ke bahasa lain.

Saya kembali melakukan pencarian sebuah situs penyedia buku-buku klasik tentang Aceh. Hasilnya saya temukan satu versi berbahasa Indonesia dari Koninklijk Istituut Voor Taal Land En Volkenkunde, Belanda dengan judul Djeumpa Atjeh.

Namun, roman Djeumpa Aceh yang saya temukan ini, usianya lebih muda dari versi Sunda. Kalau veris Sunda diterbitkan pada tahun 1932 oleh Bale Poestaka – Batavia Centrum. Versi bahasa Indonesia ini diterbitkan oleh Pustaka Iskandar Muda Medan tahun 1958. Saya yakin ini merupakan cetakan ulang, karena secara logika, versi aslinya tentu lebih tua dari versi berbahasa Sunda. Namun, sampai sekarang saya belum menemukan versi pertamanya.

Baca Juga: Antara Diurnarius Romawi dan Bakeutok Aceh.

Dalam versi Sunda, bagian pertama dimulai dengan judul Mimiti Tepoeng, yang dalam versi Indonesia bagian ini diberi judul Pertemuan Jang Mula-mula. Bagian ini dibuka dengan kesibukan di stasion kereta api Sigli, Pidie. Sekawanan pemuda mengantar kawannya untuk berangkat ke Koetardja (Banda Aceh) dengan snel trein (kereta api cepat). Di kereta ia bertemua seoran gadis berkebaya pendek. Keduanya saling memperkenalkan diri dengan bahasa santun dan saling menghargai. Hingga di akhir perjalanan kedua saling jatuh cinta.

Pada bagian ini, HM Zainuddin menggambarkan bagaimana keluhuran budi pemuda dan pemudi masa itu, ketika bertemu dengan orang baru. Membacanya kita bagai menyaksikan sendiri peristiwa dalam kereta tersebut. Ia berhasil menghidupkan ceritanya dengan pengambaran suasana yang detil.

Romantisme pertemuan dua muda mudi itu dikisahkan dengan perjalanan kereta api dalam hujan, menelusiri pegunungan Seulawah dari sebelah timur di Padangtiji hingga ke Koetardja di sebelah barat. Sungguh, membacanya seakan kita sedang melakukan sendiri perjalanan tersebut. Kita dibuat larut dala suasana dan permainan kata-kata dari setiap babak ceritanya.

Pada bagian kedua, dalam versi sunda diberi judul Djadi Wawoeh, sementara dalam versi bahasa Indonesia diberi judul Karena Tjintjin. Pada bagian ini gadis yang kemudian diketahui bernama Siti Saniah kehilangan cincin berlian dalam kereta api. Si pemuda mencoba mencarinya, tapi tidak ketemu. Pada bagian ini romantisme itu bertambah. Karena tak menemukan cincin yang hilang, si pemuda membawa Sitti Saniah untuk menghadap kepala stasiun kereta.

Baca Juga: Organisasi Persatuan Perempuan Aceh Tionghoa dan India Dibentuk.

Cincin berlian yang hilang itu pula yang kemudian membuat jalinan cinta si pemuda dengan Siti Saniah bertambah kuat. Sampai di Koetaradja mereka berpisah di stasiun, setelah saling memberi alamat. Siti Saniah dijemput saudaranya, sementara si pemuda yang kemudian dinamai Nyak Amat itu menuju ke Vereeniging Atjeh (Serikat Pemuda Aceh).

Ternyata, cincin berlian itu tidak hilang di kereta, tapi jatuh ke dalam sepadu Nyak Amat saat Siti Saniah mengambil dan menyerahkan tiket kereta kepada kondektur. Menemukan cincin itu, Nyak Amat mengirimkan sepucuk surat melalui seorang opas. Dalam suratnya Nyak Amat menulis.

Saudara Siti Saniah! Ketika saja sudah mandi tadi malam di rumah tempat saja menumpang, dengan segera saja keluarkan sepatu saja dari dalam kerandjang. Dan ketika saja kenakan sebuah sepatu itu, tiba-tiba terasalah di dalamnya sebuah benda jang keras.

Ah, apa ini, kata saja, lalu saja periksa benda itu…..wah, bukan buatan terperandjat hati saja, berdebar-debar takut bertjampur riang. Sebab benda itu tak lain dari pada sebentuk tjintjin.

Siti Saniah yang mendapatkan kembali cincinnya atas kebaikan hati orang yang baru dikenalnya itu. Ia sangat terkagum dengan ketulusan pemuda itu, mulai dari membantunya selama perjalanan di kereta, sampai mengembalikan cinci permatanya yang hilang. Ia pun membalas surat itu.

Paduka Kakanda! Surat kakanda serta sebuah kotak jang berisi sebentuk tjintjin berlian sudah adinda terima dengan selamat dan sukatjita. Sesungguhnja itulah tjintjin adinda jang hilang dalam kereta kemarin, kakanda.

Ta’ dapat adinda gambarkan di sini, dalam surat ini, bagaimana besarnja dan riangnja hati adinda menerima kiriman kakanda itu dan tak terperikan pula besarnja terimakasih adinda kepada kakanda.

Adinda bermohon kepada Allah subhana huwata’ala moga-moga kebajikan, kelurusan, dan kemurahan hati kakanda itu akan memberi berkat pada diri kakanda, baik di dunia maupun di achirat kelak. Wassalam adinda, Siti Saniah

Bagian ketiga dilanjutan dengan judul Dalam Keramaian, yang dalam versi Sunda ditulis Rebo Wekasan. Pada bagian ini kisah cinta keduanya bersemi. Nyak Amat sebagai pemuda terpelajar di zamannya, menyibukkan diri dalam dunia pergerakan di Vereeniging Atjeh. Bisa dibilang bagian ketiga ini merupakan transisi dari kisah cinta ke kisah pergerakan pemuda Aceh pada zaman sebelum kemerdekaan.

Cerita kemudian dilanjutkan ke bagian keempat dengan judul Pindah Pangandjrekan di versi Sunda dan Arba’a Achir di versi Indonesia. Kisah tamasya di bulan Safar. Pada bagian ini HM Zainuddin mengambarkan lokasi-lokasi wisata favorit di Koetaradja dan sekitarnya pada masa itu. Membacanya, kita seolah diajak bertamasya ke masa lalu, dan larut dalam kisah percintaan yang menyertainya.

Kemudian bagian lima dilanjutkan dengan judul Pergaulan Baru, yang dalam versi Sunda ditulis Papatjangan. Di sini roman lebih banyak bercerita tentang dunia pergerakan, meski tak sepenuhnya meninggalkan kisah percintaan. Pada bagian ini kita akan banyak membaca bahasa-bahasa puitis dan romantisme percitaan melalui surat menyurat saja.

Dilanjutkan ke bagian enam dengan judul Ririwa dalam versi Sunda dan Bermufakat dalam versi Indonesia. Di sini puncak konfliknya. Siti Saniah dipaksakan untuk menikah dengan seorang Uleebalang, orang terhormat dan kaya raya pada masa itu, tapi memiliki tabiat yang buruk.

Bagian ini lebih menceritakan derita batin Siti Saniah atas perkara tersebut. Sementara Nyak Amat tidak bisa berbuat apa-apa, karena terikat dengan adat dan etika kesopanan pada masanya.

Baca Juga: Majelis Tuha Peut Kerajaan Aceh Membentuk Lembaga Wali Nanggroe.

Bagian selanjutnya dilanjutkan dengan judul Memperhubungkan Silaturrahmi yang dalam versi Sunda ditulis Reboet Bener. Diteruskan ke bagian delapan dengan judul Pegar Djueng Neo Ti Heula di versi Sunda dan Bertunangan. Kemudian dilanjutkan dengan Sesudah Bertunangan atau Kapanggih Rasiahna dalam versi Sunda.

Sementara di bagian sepuluh diberi judul Kieu Loepoet-Kieu Loepoet dalam versi Sunda dan Seorang Muda Bangsawan dalam versi Indonesia. Dilanjutkan dengan Pengaruh Perempuan Tua pada bagian sebelas. Dalam versi Sunda ditulis Neo Tinggal Bati Prihatin.

Versi Sunda habis pada bagian kesebelas. Sementara dalam versi bahasa Indonesia dilanjutkan ke bagian dua belas dengan judul Ibu dan Bapak Bermufakat. Dilanjutkan ke bagian tiga belas Putus Tunangan Lama, lanjut ke bagian 14 Pingsan, bagian 15 Rahasia Terbuka, bagian 16 Siti Saniah Sakit, Bagian 17 Kepandaian Dukun, dan bagian 18 Pertemuan Jang Achir, kemudian diakhiri dengan penutup berjudul Meninggal.[]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Kisah Putri Tanjung Jatuh Bangun Jalani Bisnis Sejak Usia 15 Tahun

Putri Indahsari Tanjung dikenal dengan Putri Tanjung, adalah anak pertama dari Chairul Tanjung. Menjadi...

Ratusan Petani Jagung Gayo Lues Sulit Tebus Pupuk Subsidi, Pemda Diminta Ambil Tindakan

BLANGKEJEREN - Petani jagung di Kabupaten Gayo Lues mengaku kesulitan menebus pupuk subsidi dari...

Pesawat Jatuh di Prancis, 4 Orang Tewas

Empat orang tewas dalam kecelakaan pesawat di Paris, Prancis, Minggu 18 April 2021. Pesawat ringan...

Kelainan Genetik Langka, Bayi 3 Bulan Lahir dengan 3 Penis

Seorang bayi laki-laki dari Duhok, Irak dilaporkan memiliki tiga penis setelah dilahirkan. Hal ini...

Malam Ini Grand Final Indonesian Idol Special Season

JAKARTA - Indonesian Idol Special Season telah mencapai puncaknya setelah terpilih dua finalis yang...

Rempah-Rempah Khas Gresik, Sehat dan Cocok untuk Buka Puasa

MINUMAN temu mesem khas Gresik, Jawa Timur, menjadi hidangan yang pas untuk buka puasa...

Mualaf Landisa: Aku Berkomitmen pada Islam, Aku Telah Pulang

Landisa, berkisah tentang kepindahan agamanya dari Kristen ke Islam. Dia tumbuh sebagai seorang Kristen...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 3

KAPTEN LET PANDE Episode 3 - Cerita Bersambung - Novel Serial Karya: Thayeb Loh Angen Aroma ikan...

Safari Ramadhan di Mutiara Timur, Keurukon Katibul Wali Serahkan Sejumlah Bantuan

PIDIE – Malam keenam Ramadhan 1442 Hijriah atau 2021 Masehi, Keurukon Katibul Wali Nanggroe...

Laptop Tidak Mau Menyala, Ini Solusinya

Saat kita sedang melakukan aktivitas menggunakan laptop, terkadang banyak sekali kendala yang kita temui....

9 Alasan Harus Makan Telur Setiap Hari, Menyehatkan Mata Lebih Pintar

Nutrisi yang berbeda dalam telur dapat memberi tubuh semua jenis manfaat kesehatan yang tidak...

Jack Ma Terancam Didepak Perusahaannya Sendiri

BEIJING - Ant Group, perusahaan fintech yang didirikan dan dikendalikan Jack Ma, dilaporkan malah...

Ferrari Akan Rilis Mobil Listrik Pertama pada 2025

Banyak pembesut mobil mainstream yang belakangan ini mengembangkan mobil listrik, namun tidak dengan produsen...

Susah Salat, Model AS Halima Aden Pensiun dari Dunia Fesyen

Model muslimah Amerika Serikat (AS) kelahiran Somalia, Halima Aden mengumumkan pensiun dari dunia fesyen....

Hujan Deras, Singapura Diterjang Banjir Bandang

Banjir bandang dilaporkan terjadi di beberapa bagian Singapura, di tengah hujan lebat yang mengguyur...

Imam Syafii Minum Air Zamzam dan Ini yang Terjadi

Rasulullah SAW telah menunjukkan tentang berkah dan keutamaan air zamzam. عَنْ جَابِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ...

Di Musala Ini Imam dan Seluruh Jamaahnya Perempuan

Salat Isya dan Tarawih jamaah seluruhnya perempuan. Mulai azan, iqamah dan imam salat dilakukan...

Mualaf Amerika Wolfe: Bagi Saya Islam Agama yang Sempurna

WASHINGTON - Seorang penyair, penulis Amerika Serikat (AS), dan Presiden dan Produser Co-Executive dari...

Helen Mccrory, Aktris Pemeran Film Harry Potter Meninggal Dunia

Aktor Inggris Helen McCrory, yang membintangi acara televisi "Peaky Blinders" dan film "Harry Potter",...

Giliran Rombongan PKK Subulussalam Buru Kuliner di Ramadhan Fair

  SUBULUSSALAM - Suasana Ramadhan Fair yang berlokasi di Jalan Raja Asal, depan Masjid Agung...