27.9 C
Banda Aceh
Selasa, April 20, 2021

Aceh Hari Ini: ‘Hantu-Hantu’ Blang Bintang dan Teror Terhadap Jepang

BERITA DAERAH

Pangkalan Blang Bintang, Aceh Besar merupakan salah basis kekuatan Jepang di bagaian barat Indonesia. Pangkalan ini diperkuat oleh 6.000 tentara. Tiap malam mereke diteror oleh “hantu” hingga kemudian Jepang memindahkan pasukannya ke Uleelheu.

Kisah “hantu-hantu”  Blang Bintang ini bisa dibaca dalam buku Batu Karang di Tengah Lautan halaman 244-245. Buku ini ditulis oleh pelaku perjuangan kemerdekaan di Aceh Teuku Alibasyah Talsya dan diterbitkan oleh Lembaga Sejarah Aceh (LSA) pada tahun 1990 atas bantuan Menteri Koperasi Republik Indonesia Bustanil Arifin yang juga salah satu tokok pejuang kemerdekaan di Aceh.

Dalam buku tersebut Teuku Alibasjah Talsya mengungkapkan bahwa pada 16 Februari 1946 mulai pukul 08.00 pagi di Banda Aceh digelar latihan perang Tentara Republik Indonesia (TRI) Divisi Residen Aceh terdiri dari Resimen Banda Aceh, Resimen Meulaboh dan Resimen Bireuen. Latihan perang itu disaksikan langsung Residen Aceh Teuku Nyak Arief bersama para perwira, opsir-opsir, staf divisi dan pejabat pemerintah Residen Aceh.

Baca Juga : Hak Rakyat Aceh Untuk Memiliki Wakil Gubernur

Hadir pula saat itu Zainal Arifin Abbas selaku ketua bidang pengarang majalah Rentjong yang terbit di Binjai, Sumatera Timur (kini Sumatera Utara). Zainal Arifin menulis tentang penarikan 6.000 tentara Jepang dari Pangkalan Lhoknga yang telah dikuasai pejuang Aceh ke pangkalan Blang Bintang, kini dikenal sebagai Bandar Udara (Bandara) Internasional Sultan Iskandar Muda.

Di Pangkalan Balang Bintang terdapat banyak persenjataan, baik senjata berat maupun ringan. Blang Bintang pada masa pendudukan Jepang merupakan perang terkuat tentara Jepang di bagian barat Indonesia, setelah pangkalan Lhoknga. Namun pangkalan Lhoknga telah direbut oleh pejuang Aceh, senjata-senjata tentara Jepang baik senjata berat maupun ringan dilucuti. Dari pangkalan Lhoknga tentara Jepang dipindahkan ke pangkalan Blang Bintang. Dan di sinilah kisah teror “hantu-hatu” Blang Bintang itu bermula.

Sekitar pangkalan Blang Bintang ditanami ranjau dan pagar berduri, tapi setiap malam tentara Jepang yang dikumpulkan di pangkalan itu melihat bayangan putih di sekitar pangkalan, ketika ditembaki, jumlah bayangan yang muncul mendekati pangkalan semakin banyak.

Baca Juga: Ragam Mode Baju Tempo Dulu.

Teror bayangan putih itu membuat tentara Jepang ketakutan, mereka akhirnya meningalkan pangkalan Blang Bintang, Aceh Besar menuju pelauhan Uleelhee, Banda Aceh untuk menunggu jemputan kapal yang akan membawa mereka meninggalkan Aceh.

Jepang memilih untuk tidak menunggu tentara Sekutu/NICA ke Aceh. NICA merupakan singkatan dari Nederlandsch Indië Civiele Administratie atau Netherlands-Indies Civiele Administration, Pemerintahan Sipil Hindia Belanda yang bermaksud mendirikan kembali keuasaan Belanda di Aceh setelah Jepang menyerah kalah pada Sekutu.

Bila di daerah lain tentara Jepang dilucuti oleh Sekutu/NICA setelah kalah perang, tidak dengan Aceh, teror dan penyerangan terhadap Jepang membuat Jepang mempercepat meninggalkan Aceh, karena Sekutu/NICA tak pernah bisa masuk ke Aceh.

Karena itu persenjataan Jepang sebagian besar diambil oleh pejuang Aceh, termasuk lima pabrik senjata di berbagai daerah di Aceh, alat angkut, meriam penangkis serangan udara, meriam penangkis serangan laut dan berbagai persenjataan berat lainnya.

Baca Juga: Pembangunan Unsyiah tak Direstui Pusat.

Tapi kemudian tentara Sekutu/NICA yang sudah masuk ke Indonesia dan menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia, memerintahkan tentara Jepang di Medan untuk kembali ke Aceh mengambil kembali persenjataan yang sudah diserahkan kepada rakyat Aceh, hal yang tidak bisa dilakuka oleh Jepang dan Sekutu/NICA.

Dengan berbekal senjata rampasan dari Jepang itu, Aceh memperkuat Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) sebuah pasukan dari Aceh yang dikirim ke perang Front Medan Area untuk membebaskan Sumatera Utara dari pendudukan Sekutu/NICA serta menghalau tentara Sekutu/NICA agar tidak masuk ke Aceh.

Sejarah kemudian membuktikan, Aceh sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang tidak bisa dimasuki oleh tentara Sekutu/NICA, karena itu pula Presiden Soekarno kemudian menjuluki Aceh sebagai Daerah Modal Kemerdekaan Republik Indonesia.[]

Baca Juga: Sejarah Pembentukan Dewan Perjuangan Daerah Aceh

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Perkemahan Penghafal Alquran di Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe Dibuka

LHOKSEUMAWE - Perkemahan Tahfidz Gerakan Pemuda Rihlah Shaum (PETA GPRS) ke-5 dan Daurah Ramadhan...

Pimpinan DPRK Surati Bupati, Kisruh Penetapan Komisioner Baitul Mal Gayo Lues Berakhir

BLANGKEJEREN - Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Gayo Lues sudah melayangkan surat kepada...

Polisi Buru Tersangka Penganiayaan Ibu Rumah Tangga di Dewantara

ACEH UTARA - Polsek Dewantara, Aceh Utara, memburu pria berinisial D (24), diduga melakukan...

Ikamat Harap Dukungan Pemerintah Aceh

ISTANBUL - Pengurus Ikatan Masyarakat Aceh - Turki (Ikamat) menyampaikan apresiasi dan terima kasih...

Rintihan Putri Kamaliah, Putri Pahang dibalik Puing-Puing Kehilangan

Karya: Jamaluddin Peminat Sastra, Lhokseumawe. Perhiasan ini telah berdebu Rinduku takkan pernah lekang Apa yang telah terjadi Duhai Pemilik...

Rapat IPAL di Kantor Ombudsman Aceh, Ini Pandangan Mapesa

BANDA ACEH - Ombudsman RI Perwakilan Aceh melaksanakan rapat tentang Instalasi Pembuangan Air Limbah...

Kereta dan Kota Emas Firaun Ditemukan, Tongkat Nabi Musa Dicari

Heboh penemuan Kota Emas berusia 3.000 tahun yang digadang-gadang peninggalan kerjaan Firaun melengkapi penemuan...

Anggota Dewan Gayo Lues ‘Dinonaktifkan’, Ini Surat Ketua DPRK

BLANGKEJEREN - Masyarakat Kabupaten Gayo Lues yang hendak berurusan atau menjumpai Anggota Dewan Perwakilan...

Operasi Senyap Kopassus Jalan Kaki Ratusan Km saat Puasa di Rimba Kalimantan

Puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh seluruh umat Islam. Selama...

Akhlak Calon Suami Antarkan Nadya Jadi Mualaf

Nadya Noviena, yang saat ini berusia 24 tahun, wanita yang baru saja memeluk Islam...

Bintang Borong Takjil Perpena, Bagikan kepada Abang Becak

SUBULUSSALAM - Lapak pedagang takjil menyediakan menu berbuka puasa milik  Persatuan Pemuda Penanggalan (Perpena)...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 4

KAPTEN LET PANDE Episode 4 - Cerita Bersambung - Novel Serial Karya: Thayeb Loh Angen Setelah matahari...

Pemilik Tanah di Areal Waduk Keureuto Datangi BPN Aceh Utara Terkait Persoalan Ini

ACEH UTARA - Sejumlah pemilik tanah sah yang berada di Gampong Blang Pante, Kecamatan...

Perang Aceh-Portugis Dalam Lukisan Maestro Delsy Syamsumar

Memasuki ruang kontemporer Museum Aceh, Rabu, 14 April 2021 lalu, 28 lukisan dari para...

Putra Subulussalam ini Wakili Aceh jadi Anggota Paskibraka di Istana Negara

SUBULUSSALAM - Kota Subulussalam, patut berbangga hati, dua putra putri terbaik di Bumi Syekh...

Anak 8 Tahun Diculik di Prancis, Penyelamatannya Mirip Operasi Militer

Seorang anak perempuan delapan tahun asal Prancis diselamatkan di Swiss kemarin setelah lima hari...

2 Kasat dan 2 Kapolsek Diganti, Ini Kata Kapolres Gayo Lues

BLANGKEJEREN - Empat perwira di jajaran Polres Kabupaten Gayo Lues digantikan dengan yang baru...

Mengenal Struktur Tulang Belakang dan Fungsinya

Tulang belakang memiliki peran penting dalam menopang tubuh manusia. Dengan mengenali struktur tulang belakang,...

Kisah Putri Tanjung Jatuh Bangun Jalani Bisnis Sejak Usia 15 Tahun

Putri Indahsari Tanjung dikenal dengan Putri Tanjung, adalah anak pertama dari Chairul Tanjung. Menjadi...

Ratusan Petani Jagung Gayo Lues Sulit Tebus Pupuk Subsidi, Pemda Diminta Ambil Tindakan

BLANGKEJEREN - Petani jagung di Kabupaten Gayo Lues mengaku kesulitan menebus pupuk subsidi dari...