27.1 C
Banda Aceh
Senin, April 12, 2021

Aceh Hari Ini: Etnis Tionghoa Minta Perlindungan ke Residen Aceh

BERITA DAERAH

Pada 3 Maret 1947, Gabungan Perkumpulan Tionghoa Perantau (GPTP) di Banda Aceh merayakan ulang tahun pertama. Mereka juga melakukan rapat umum yang diikuti oleh berbagai golongan masyarakat Tionghoa, mereka meminta perlindungan kepada tentara Residen Aceh.

Kemudian pada 8 April 1947, GPTP Aceh melakukan pertemuan dan jamuan teh dengan Panglima Tentara Komandemen Sumatera, Letnan Jenderal Soehardjo Hardjowardjono. Dalam pertemuan tersebut Ketua GPTP Aceh, Liong Jaw Hiong meminta kepada TNI untuk memberi perlindungan kepada para pedagang Tionghoa di seluruh Aceh. Liong Jaw Hiong mengakui bahwa berkat pengamanan TNI, orang-orang Tionghoa dapat berusaha mencari nafkah di seluruh Aceh.

Baca Juga: Kolonel Husein Jusuf Kepala Pertahanan Daerah Aceh.

Menjawab permintaan itu, Letnan Jenderal Soehardjo Hardjowardjono menegaskan, TNI akan melindungi segala lapisan masyarakat, termasuk etnis asing, asalkan tidak menghalang-halangi perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, seperti yang diakukan kelompok Poh An Tui milisi Cina yang dipersenjatai sekutu untuk melawan pejuang Indonesia.

“Kami berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air, sebagaimana rakyat dan pemimpin tuan-tuan (Cina) berjuang kebahagiaan bangsa dan tanah airnya. Kami akan membantu setiap orang dan melindungi siapa saja yang memerlukan perlindungan,” tegasnya.

Sehari kemudian, 9 April 1947, GPTP Aceh juga melakukan pertemuan dengan Gubernur Muda Sumatera Utara, MR SM Amin di Banda Aceh. Dalam pertemuan itu hadir juga Residen Aceh TT Muhammad Daodsyah, Staf Gubernur Sumatera Utara MR Teuku Muhammad Hanafiah, Letnan Kolonel M Nazir dari Komando TRI Divisi X, Kepala Polisi Residen Aceh bersama para pejabat dari beberapa jawatan pemerintah di Aceh.

Dalam pertemuan itu Gubernur Muda Sumatera Utara, MR SM Amin, meminta supaya orang-orang Tionghoa di Aceh bisa selalu menyesuaikan diri dengan perjuangan bangsa Indonesia. “Bangsa Indonesia akan terus berjuang sampai berapa lama sekalipun untuk kemerdekaan tanah airnya,” kata MR SM Amin.

Baca Juga: Tentara Perjuangan Rakyat Kudeta Residen Aceh.

Kemudian pada 9 Juni 1948, Liong Jaw Hiong yang berada di Penang, Malaysia diwawancarai oleh jurnalis dari  The Straits Echo dan  The Time of Malaya, dua surat kabar berbahasa Inggris yang terbit di Penang. Ia membantah provokasi Belanda dan Sekutu yang mengatakan masyarakat etnis asing hidup terancam di Aceh.

Menurutnya, kabar yang mengatakan terjadi perselisihan politik dan kekacauan di Indonesia yang sering disiarkan media pro Belanda, sama sekali tidak benar. Etnis Tionghoa, India dan Arab bisa hidup berusaha dan berkembang di Aceh, di bawah pengawasan dan perlindungan Residen Aceh.

Malah kata Liong Jaw Hiong, ketika di daerah lain di Indonesia yang telah diduduki pasukan Sekutu, harga-harga barang menjadi tinggi, barang-barang kebutuhan rakyat jadi langka, tapi tidak di Aceh. “Ketika harga barang di daerah Sekutu melambung tinggi dan langka, di Aceh keadaannya melimpah ruah dan juga murah,” jelas Liong Jaw Hiong.

Selain itu kata Liong Jaw Hiong, roda pemerintahan di Aceh berjalan dengan baik, sejak Residen Aceh yang dipimpin Teuku Muhammad Arief berhasil mengambil alih pemerintahan dari Jepang. Di Residen Aceh juga tidak terjadi perselisihan antara rakyat Aceh dengan etnis minoritas Tionghoa, India dan Arab. Perdagangan dan ekspor impor barang dari Aceh ke Penang dan Singapura juga berjalan dengan baik, meski mendapat blokade dari Belanda di Selat Malaka.

Baca Juga: Perang Idi Rayeuk, GAM Kuasai Kota.

Pada 12 Juli 1947, GPTP Aceh kembali mengadakan konferensi di Peunayong, Banda Aceh. Pembukaan konferensi etnis Tionghoa ini juga dihadiri oleh pejabat sipil dan militer Residen Aceh. Saat pembukaan konferesi selain menyanyikan lagu Indonesia Raya juga dinyanyikan lagu kebangsaan Tiongkok.

Wakil Ketua GPTP Aceh Tjoe Tjau Nam dalam sambutannya menjelaskan tentang kiprah GPTP yang baru berusia setahun dan mengucapkan terimakasih kepada Residen Aceh dan tentara TRI di Aceh yang memberi perlindungan kepada etnis Tionghoa di Aceh. Ucapan yang sama juga disampakan perwakilan GPTP Idi, Tjoeng Tieng Fong mewakili pengusaha Tionghoa dari berbagai daerah di Aceh.

Sementara Residen Aceh menyatakan kegembiraannya atas terjalinnya hubungan baik antara rakyat Aceh dengan etnis Tionghoa dan berharap hubungan baik itu bisa terus berkembang lebih baik di berbagai bidang. Hal yang sama juga disampaikan Kapten Hasbi Wahidy dari Komando TRI Divisi X, ZF Soetikno dan Ali Hasjmy. Tentang semua itu bisa dibaca dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan yang ditulis oleh Talsya. Buku ini diterbitkan oleh Lambaga Sejarah Aceh pada tahun 1990.[]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Es Teler Bang Gam

 BANDA ACEH - Bulan puasa tahun ini akan kita masuki esok, Selasa, 13 April...

Prihatin Insentif Imam Masjid Belum Dibayar, Salehati Sarankan BPKD Prioritaskan Pencairan Dana Desa

SUBULUSSALAM - Politikus Partai Aceh, Salehati menyarankan pemerintah melalui Badan Pengelolaan Keuangan Daerah (BPKD)...

Ini Kata Kasatlantas Lhokseumawe Soal Pengaturan Lalu Lintas saat Ramadhan

LHOKSEUMAWE- Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lhokseumawe memprediksi akan terjadi kepadatan dan kemacetan di...

Polres Gayo Lues Gelar Operasi Keselamatan-2021

BLANGKEJEREN - Polres Gayo Lues akan melaksanakan Operasi Keselamatan Seulawah-2021 selama 14 hari, mulai...

Nasib Pengungsi Rohingya di Aceh: Merajut Asa, Menunggu tanpa Kepastian

Muhammad Ismail (24 tahun), pengungsi Rohingya, datang dari Malaysia ke Aceh demi menemui istrinya...

Dilema “Lawan Covid-19” Pengungsi Rohingya Aceh

Pengungsi Rohingya diharuskan disiplin menerapkan protokol kesehatan demi terhindar dari infeksi Covid-19. Namun, masyarakat...

Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe Siapkan Ikan Asin untuk Menu Berbuka hingga Dikirim ke Medan, Begini Pengolahannya

LHOKSEUMAWE – Pengungsi Rohingnya di Lhokseumawe menyiapkan ikan asin untuk menu berbuka puasa di...

Over Kapasitas Lapas di Aceh Hampir 500 Persen

BANDA ACEH – Over kapasitas di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Aceh sudah hampir mencapai...

Sambut Ramadhan, Anggota DPRK Salehati Berikan Bantuan ke Masjid-masjid

SUBULUSSALAM - Anggota DPRK Subulussalam dari Partai Aceh, Salehati memberikan bantuan paket Ramadhan 1442...

Inilah Ragam Makanan Sehat untuk Jantung

Mengonsumsi makanan sehat untuk jantung dan menjalani pola hidup sehat dapat membuat Anda terhindar...

Ini Nama-nama Pengurus Dewan Perwakilan Mahasiswa USK 2021

BANDA ACEH - Struktural Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (DPM USK) Tahun 2021...

Pimpinan Kelompok Salamullah Lia Eden Meninggal Dunia

Pimpinan kelompok Salamullah Lia Aminuddin alias Lia Eden meninggal dunia. Kabar tersebut dibagikan dalam...

11 Kandidat Siap Rebut Kursi Ketum HMI Lhokseumawe-Aceh Utara

LHOKSEUMAWE - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe- Aceh Utara akan melaksanakan Konferensi Cabang...

Walkot Bintang: Harga Sembako Stabil, Tidak ada Lonjakan

SUBULUSSALAM - Wali Kota Subulussalam, H. Affan Alfian Bintang memastikan harga kebutuhan pokok di...

Jelang Ramadhan, Walkot Bintang Blusukan Cek Harga Sembako

 SUBULUSSALAM - Wali Kota Subulussalam, H. Affan Alfian Bintang blusukan di pasar mingguan Penanggalan...

3.264 Peserta Ikut UTBK SBMPTN di Unimal, Ini Aturannya

LHOKSEUMAWE - Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi...

Ini Harga Daging dan Kepala Sapi di Pasar Geudong

ACEH UTARA - Harga daging sapi pada meugang pertama menyambut bulan puasa tahun ini...

Kepala Polisi New York Kawal Masjid Islamic Center

NEW YORK- Imam Besar Masjid Islamic Center New York, Amerika Serikat, Imam Shamsi Ali...

Ini 10 Orang Terkaya RI, Ada Bos Kamu?

Forbes kembali merilis daftar orang-orang terkaya di dunia melalui 'The Richest in 2021'. Sejumlah...

Dawn Maqsood, Muslim Skotlandia

Dawn Maqsood menghadapi tantangan yang tak mudah usai memutuskan menjadi Muslim. Namun, tantangan itu...