Beranda Inspirasi Mualaf I Miranda Mahardika, Sempat Ayahnya Tidak Bicara 1 Tahun

Mualaf I Miranda Mahardika, Sempat Ayahnya Tidak Bicara 1 Tahun

0
Mualaf I Gede Miranda Mahardika. @Istimewa vbia Republika

Mari kenalkan mualaf yang satu ini, I Gede Miranda Mahardika. Begitulah nama laki-laki kelahiran Balikpapan 1 Februari 1992 ini. Dia terlahir dari keluarga sederhana. Ayahnya asli Bali dan beragama Hindu dan ibunya berasal dari Jawa muslimah, yang kemudian berpindah keyakinan.

  1. Latar Belakang Dika Menjadi Mualaf

Kisah awal mualaf laki-laki yang akrab disapa Dika ini, berasal dari candaan kecil rekan kerjanya.

“Pada waktu itu sekira tahun 2016, kebanyakan di kantor beragama Islam, saat salat tiba mereka sering mengajak saya salat, meski becanda, saya bilang titip saja,” kata Dika, sebelum menjadi mualaf, sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika dan disiarkan kembali oleh republika.co.id.

Begitulah, sejak saat itu selama satu setengah tahun Dika memutuskan untuk mempelajari Islam cikal bakalnya menjadi mualaf. Selama masa itu banyak hal baru yang terjadi kepadanya.

2. Mimpi Aneh Sebelum Mualaf

Sebagai contoh, pada awal 2017, setiap hari dia selalu terbangun setiap pukul 03.00 dini hari. Padahal aktivitas kesehariannya dilakukan seperti biasa. Hal itu dilakukan terus berulang-ulang.

Ada juga, mualaf ini menceritakan, sekira tiga bulan sebelum bersyahadat, Dika pernah bermimpi berada di suatu tempat yang tidak diketahui. Belakangan tenpat itu ternyata adalah halaman Masjidil Haram dan bertemu seseorang yang tidak dia kenal.

Dika pun bermimpi lagi tengah menunaikan ibadah haji dengan orang yang sama sebelumnya. Dia merasakan suasana Idul Adha dan Idul Fitri kemudian terdengar suara takbir.

“Saat itu saya menangis, saya berdoa menggunakan bahasa saya. Kalau jalan saya memang menuju Islam bukakanlah jalan itu. Namun jika tidak kembali ke awal ke agama saya sebelumnya,” kata mualaf Dika, anak bungsu dari enam bersaudara ini.

Dari situlah dia mulai yakin untuk terus mempelajari Islam. Suatu ketika Dika mendatangi satu masjid, Masjid Istiqamah sedang mengadakan kajian Ustaz Khalid Basalamah.

3. Bertemu Orang Tidak Nyata Sebelum Mualaf

Saat itu Dika belum menjadi mualaf, dia datang dan tetap mengenakan pakaian sopan. Kemudian dia diberikan minum dan sempat berbincang dengan seseorang.

Namun jamaah lain menegurnya, dan bertanya pada Dika siapa orang yang diajak bicara karena jamaah yang berada di sekelilingnya tidak melihat siapa-siapa. Dia merasa akrab dengan orang yang memberi minum dan diajak bicara karena pernah bertemu di mimpi.

Ada rasa terkejut ketika memang orang itu menghilang saat jamaah lain bertanya. Dan Dika semakin yakin ada petunjuk untuk lebih mendalami Islam sebelum menjadi mualaf.

“Agama Islam memberikan suasana hati yang berbeda. Saya merasa lebih khusyuk beribadah salat lima waktu ketika menjadi muslim, itu alasan saya memeluk Islam,” kata dia, sebagaimana disiarkan republika.co.id.

Tahun 2017 juga Dika diundang temannya yang baru pulang dari umrah. Dika mengadakan acara dengan tausiyah ustadz dengan judul menjemput hidayah, awalnya saat mendengar biasa saja, tetapi setelah mendengarkan lebih lanjut Dika semakin penasaran.

Baru setelah mengenal Islam lebih dalam, Dika berusaha mencari tahu syarat memeluk Islam. Dia pun datang ke Masjid At Taqwa di Balikpapan.

Awalnya sekadar bertanya, dan tidak berniat saat itu juga bersyahadat, tetapi ketua pengurus masjid yang juga seorang mualaf memantapkan hatinya.

“Dia berkata, usia kita tidak ada yang tahu, jika kita sudah berniat bersyahadat saat ini maka lakukan sekarang, mana tahu setelah pulang Allah telah mencabut nyawa kita tetapi kita belum dalam keadaan Islam,” ujar dia.

4. Menjadi Mualaf

Pada hari itu 24 April 2018, Dika memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebelum datang, sebenarnya Dika telah berbicara dengan ibu dan saudara sepupunya yang Muslim.

Setelah bersyahadat, dan masuk waktu ashar. Dika menunaikan salat lima waktu yang pertama di masjid tersebut.

Enam bulan setelah bersyahadat Dika mendatangi Mualaf Center Indonesia wilayah Balikpapan. Dia kemudian mendapat sertifikat mualaf dan menjadi anggota MCI.

Ayahnya Menolak Keputusannya Menjadi Mualaf, Tidak Bicara Setahun

Dika memberi kabar kepada keluarga termasuk ayah dan kakaknya setelah menjadi mualaf. Seperti dugaan Dika sebelumnya, keluarga besar ayahnya tidak setuju dengan pilihannya itu.

“Sebelum itu, saya membicarakan ini dengan ibu dan beliau mempersilakan saja karena saya sudah dewasa baik dan buruk pilihan sudah bisa menentukan sendiri,” ujar Dika.

Tahun-tahun pertama menjadi Muslim, ada gejolak dalam keluarga. Karena masih belum menerima kondisinya. Dengan rendah hati Dika tetap berusaha mengalah ketika adu argumen, karena bagaimanapun mereka tetap saudara meski di akhirat tidak sejalan.

Ayahnya malah tidak pernah bicara dengannya selama setahun. Saat membantu menyiapkan makanan atau minuman, ayahnya tidak mau menerima dan membuangnya.

5. Ayahnya Menerimanya Kembali Setelah Mualaf

Namun kemudian pada April 2019, ketika perayaan hari besar keluarganya, ayahnya mengajak berbicara dan mulai menerima keislamannya. Dika pun mengatakan bahwa adab dan akhlak kepada orang tua tetap dilakukan seperti biasa, hanya saja agama dan ibadah yang berbeda.

“Walau bagaimanapun, saya tetap akan merawat dan menghargai kedua orang tua dan kasih sayang saya tidak akan pudar meski saya menjadi Muslim,” jelas dia.

6. Melamar Istri Setelah Mualaf, Ayahnya Bingung

Usai perselisihan dengan keluarga selesai, polemik kembali terjadi karena Dika ingin menyempurnakan separuh agamanya. Dia ingin menikah, dan pernikahan yang akan dilakukannya berbeda dengan kebiasaan keluarga. Dia taaruf dengan mengajukan proposal dan cv kepada pihak calon istrinya.

Dika pun tidak pernah membawa calon istrinya menemui orang tuanya karena aturan taaruf. Keluarganya yang tidak mengerti proses taaruf pun salah paham.

Saat melamar pun, Dika cuma didampingi sepupu muslimnya, karena orang tua masih belum bisa menerima proses taaruf dalam Islam. Ibunya pun yang dahulu pernah muslim tidak bisa menerima perkenalan secara taaruf.

sampai akad nikah pun ayahnya enggan datang, hanya ada ibu dan keluarga muslim. Setelah akad nikah, istri diperkenalkan kepada keluarga besar. Setelah diperkenalkan itu, baru terasa ayahnya menerima kehadiran istrinya.

Saat mengadakan resepsi ayahnya pun bersedia untuk hadir. Hanya saja prosesinya berbeda dengan adat istiadat agama orang tuanya dan itu terasa aneh bagi keluarga ayahnya.

Walaupun mualaf, keluarga istri dengan tangan terbuka menerima kehadiran Dika sebagai menantu. Mertuanya pun ketika bertemu senang berbagi kisah tentang sahabat rasul maupun nabi-nabi.

Kebun anggur. @pixabay.com

7. Tentang Beribadah Setelah Menjadi Mualaf

Setelah bersyahadat, secara perlahan Dika belajar tentang Islam baik itu ibadah mahdhah maupun kajian lain.

Ketika salat pertama, dia tidak tahu tentang salat wajib atau salat sunnah. Pernah saat mendengar azan pertama dikira sudah waktu salat berjamaah. Ada orang salat, dia mengikuti menjadi makmum, ternyata itu adalah salat sunnah.

Bagi Dika, menghafal bacaan salat relatif lebih mudah karena digunakan sehari-hari. Namun terkadang ada pelafalan yang terkadang salah. Hanya saja untuk mengaji Alquran memang membutuhkan waktu lebih lama.

“Saat menjadi imam, terkadang istri membetulkan bacaan salat saya dari belakang. Saya tidak merasa malu meski harus belajar dengan istri karena untuk menjadi lebih baik,” Kata Dika.

Sekarang, Dika belajar kepada istrinya dengan metode Ummi atau jika metode umum masih iqra enam dan sesekali membaca Alquran. Untuk meningkatkan pemahaman agamanya, Dika berniat untuk melanjutkan kuliah tarbiyah dengan tujuan ilmu yang didapat dapat diterapkan untuk mendidik anak-anaknya kelak.

8. Puasa Ditemani Ibunya Setelah Mualaf

Selain salat, puasa adalah ibadah yang juga terkesan. Puasa pertama mulaf Dika ditemani ibunya saja, karena ayahnya memiliki bisnis di Bali. Meski awalnya, Dika hanya ingin berpuasa dengan makanan seadanya, tetapi ternyata ibunya selalu menyiapkan makanan sahur dan berbuka untuknya.

Bukan cuma itu, ibu mualaf ini menyiapkan khusus peralatan dapur yang digunakan untuk memasak makanannya. Karena sebelumnya kebiasaan keluarga memiliki makanan yang diharamkan Islam.[]

Baca Juga http://portalsatu.com/news/2020/11/kisah-mualaf-aktivis-gereja-yang-memilih-islam/

.

Tinggalkan Balasan