29.3 C
Banda Aceh
Minggu, Mei 16, 2021

Batalkan Saja Pilkada, Kontraklah Bill Gates

BERITA DAERAH

Oleh: Thayeb Loh Angen
Budayawan, Pengusaha.
————————————

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) kini mulai menjadi kabaran hangat di kalangan peminat politik di Aceh. Apakah dilaksanakan pada tahun 2022 ataukah pada tahun 2024?

Ada dua kubu peminat politik tentang itu, yang pertama bersikeras bahwa pilkada di Aceh harus dilaksanakan pada tahun 2022, sementara yang kedua bersikukuh bahwa pilkada harus dilaksanakan pada tahun 2024. Kedua pihak tersebut memiliki alasan masing-masing.

Di sini kita tidak melibatkan diri pada isi perbincangan tersebut, tetapi memusatkan perhatian pada “Untuk apa pilkada itu?” “Benarkah pilkada diperlukan?”. Apa gunanya pilkada langsung, lebih banyak manfaatkah atau malah lebih banyak mudharatnya?”

Pilkada yang melibatkan rakyat secara langsung baru ada setelah MoU Helsiniki tahun 2005 yang sebagian butirnya dituangkan ke dalam turunannya, UU Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh (UU PA). Pilkada secara langsung mulai diterapkan di Aceh pada tahun 2006. Setelah di Aceh, Pemerintah Indonesia memberlakukannya untuk wilayah lain di Indonesia, walaupun mereka tidak didera konflik seperti Aceh.

Sebelum tahun 2005, orang-orang di Aceh tidak pernah meributkan siapa yang akan menjadi wali kota atau gubernur. Itu tidak penting.

Siapapun gubernur atau bupati atau wali kotanya, baik itu dipilih secara langsung oleh rakyat ataupun dipilih oleh DPR atau malah ditunjuk oleh presiden, akan sama bagi rakyat.

Untuk menyejahterakan rakyat, siapa yang menjadi gubernur lebih penting daripada bagaimana cara dia mendapatkannya.

Rakyat tidak memiliki kuasa apapun untuk menentukan pemenang ataupun kebijakan pemenang. Kebebasan bagi rakyat untuk menentukan nasib melalui pilkada secara langsung itu bagaikan fatamorgana. Pemilihan pemimpin itu sudah semacam pertempuran di antara para pemilik modal, bukan lagi antara pemilik buah pikiran (ide).

Dalam dunia politik, ide-ide selalu kalah dengan uang.

Sebelum kita membicarakan lebih mendalam tentang hal tersebut, mari kita menjawab pertanyaan ini.

“Aceh telah pemilih langsung gubernur, bupati, wali kota, sejak tahun 2006, apakah kini Aceh sudah mencapai tujuannya dalam politik, budaya, ekonomi, dan lainnya?”

Melibatkan rakyat secara langsung, dengan acra yang sudah ada di Aceh, tidak membuat orang sadar politik, malah merusak citra politik, menebarkan kebencian dan memecah belah rakyat ke dalam beberapa kelompok.

Sebagai contoh, pendukung calon gubernur tahun 2017 lalu, sebagian besar, sampai sekarang belum akur. Bahkan, pertikaian itu mengorbankan orang-orang. Selain itu, para donator yang menganggap mendukung calon kepala daerah itu menguntungkan jika yang didukungnya menang, malah harus menangis bederai airmata.

Pilkada langsung menyebabkan rakyat terpecah-belah, dan itu tidak dapat menyatukan mereka kembali walaupun pilkada telah usai, bahkan sebagian mereka bermusuhan selamanya.

Dengan melihat pilkada secara lengkap, untung tidaknya, maka untuk apa lagi meributkan kapan pilkada? Tadakkah lebih baik, kita bicara, apa yang seharusnya dilakukan oleh gubernur, bupati, dan wali kota yang tepilih?

Sebagai contoh, mari melihat kembali visi misi Irwandi-Nova, berapa persenkah visi misinya sudah berjalan? Walaupun kini Irwandi tersingkir dari pemerintahan juga politik dan Nova Iriansyah menjadi gubernur, visi misinya masih yang disampaikan pada pilkada lalu. Berapa persenkah sudah berjalan? Apakah ada pengamat politik yang mampu berbicara tentang itu?

Begitu juga di wilayah kabupaten/kota. Misalnya, berapa persenkah visi misi Wali Kota Banda Aceh dan Wali Kota Lhokseumawe dapat diwujudkan, sementara periode mereka segera berakhir? Selamat datang di Pilkada yang ajaib.

Dengan keadaan pemimpin di Aceh hasil pilkada begitu, mungkin akan lebih baik, jika Presiden RI mengontrak tim Elon Musk, Warren Buffett, atau Bill Gates dan tim filantropinya, untuk memimpin Aceh selama lima tahun.

Biaya yang dijatahkan untuk pilkada Aceh, boleh digunakan saja untuk membayar kontraktor tersebut. Insyaallah, Aceh akan maju dalam tahun pertama kontrak berjalan, dan maju pesat dalam lima tahun.[]

Baca Juga: Mengkritik Pemerintah Aceh dengan Gaya Baru

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Kunjungi Aceh, Ini Kata Menteri Investasi

BANDA ACEH – Menteri Investasi Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, mengunjungi Aceh pada Ahad, 16...

Begini Kondisi Jalan Lintas Gayo Lues-Aceh Timur Setelah Tanah Longsor Dibersihkan

BLANGKEJEREN - Sempat lumpuh total akibat tanah longsor menutupi badan jalan di dua titik...

Puluhan Rumah Terendam Banjir di Aceh Tenggara

KUTACANE – Puluhan rumah dan badan jalan di Dusun Lumban Sormin Desa Lawe Harum,...

Pemuda Lancok-Lancok Salurkan Bantuan Uang Tunai kepada Korban Kebakaran, Pemkab Diminta Bangun Rumah

BIREUEN - Perwakilan Pemuda Gampong Lancok-Lancok, Kecamatan Kuala, Bireuen, menyerahkan bantuan uang tunai kepada...

2030, Umat Islam Rayakan 2 Kali Ramadan dan Idulfitri, Mengapa?

Hari raya Idulfitri umumnya terjadi satu tahun sekali. Namun, pada tahun 2030, umat Islam...

Mualaf Ali Vyacheslav Polosin: Islam di Rusia Miliki Masa Depan Cerah

MOSKOW -- Masyarakat Rusia pertama kali menemukan populasi etnis Muslim Rusia pada paruh kedua...

Pengadaan Fasilitas Penanganan Sampah di Lhokseumawe 2021: Kapal, Truk dan Bin Container

LHOKSEUMAWE - Pemerintah Kota Lhokseumawe melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) akan membeli sejumlah fasilitas...

Dinilai tak Becus Tangani Sampah, Dewan: Copot Kepala DLH

LHOKSEUMAWE - Anggota DPRK Lhokseumawe, H. Jailani Usman, mendesak Wali Kota Suaidi Yahya mencopot...

9 Manfaat Makan Mangga Muda, Termasuk Sehatkan Jantung dan Mata

Makan mangga muda mungkin bisa membuat air liur keluar lebih banyak, karena rasanya yang...

Gokil, Bocah 12 Tahun Ini Lulus SMA dan Kuliah Bersamaan

Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun membuktikan bahwa kerja kerasnya terbayar saat pendidikannya tamat. Namun...

Mualaf Song Bo-ra: Banyak Orang Korea Salah Paham Tentang Islam

SEOUL -- Seorang wanita mualaf asal Korea Selatan, Song Bo-ra (30-an), menceritakan kisah perjalanannya...

RSUZA Nyaris Penuh, Pasien Covid-19 Lampaui Puncak Kurva Tahun Lalu

BANDA ACEH — Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh nyaris...

Kena Prank Elon Musk, Investor Kripto ‘Rugi’ Rp 5.183 T

Ratusan miliar dolar Amerika Serikat (AS) hilang dari industri uang kripto atau cryptocurrency setelah...

Lebaran di Kota, Pasien Sekarat, dan Jika Pemudik Terjebak

HARI raya Idulfitri tahun ini memiliki kisah tersendiri. Pemerintah Aceh melarang masyarakat pulang kampung...

Begini Kondisi Pasien Covid-19 di RSUZA saat Idulfitri

BANDA ACEH — Pasien Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) ada yang harus mengikuti takbiran menyambut...

Ratusan Masjid di Maroko Dilengkapi Sistem Energi Surya, Ini Tujuannya

Ratusan masjid di Maroko akan dilengkapi dengan sistem energi surya dari pemerintah dalam rangka...

Tanah Masa Depan

Karya: Taufik Sentana Peminat sosial-budaya Puluhan peradaban kota pernah ingin menjamahmu. Wahyu kenabian dan jejejak risalah telah memuliakan tanahmu. Entah itu...

Tammy Jadi Mualaf Setelah Dibantu Muslim yang tak Dikenal

Tammy Parkin dilahirkan dan dibesarkan di kota kecil New Hampshire, Amerika Serikat. Penduduk kota...

Merawat Fitri

Karya: Taufik Sentana Peminat prosa religi Setelah fase Ramadan tibalah Fitri. Fitri adalah aroma kesucian, kemurnian dan...

Erdogan: Virus Islamofobia Sama Bahayanya dengan Virus Corona, Menyebar Cepat di Eropa

ANKARA -- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan virus Islamofobia menyebar di Eropa. "Virus Islamofobia,...