26.4 C
Banda Aceh
Sabtu, Juni 19, 2021

Asya Pelajari Banyak Agama Namun Akhirnya Memilih Islam

BERITA DAERAH

DUBAI — Lahir dengan nama Anastasia di bekas Uni Soviet dalam keluarga militer, sehingga dilarang mengikuti agama apapun. Di rumah, orang tuanya dengan senang hati memanggilnya Asya, sedikit menyadari bahwa di kemudian hari itu akan menjadi nama Muslim barunya.

Gadis itu berawal sebagai seorang Kristen, mendalami Yudaisme, kembali ke Kristen, akhirnya memutuskan untuk mendalami Islam. Saat itulah dia berkata, dia menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang dia cari sepanjang hidupnya.

Perjalanannya dari Anastasia ke Asya sama menariknya, sekaligus penuh gejolak. Orang tuanya terlahir sebagai orang Kristen, tetapi tidak berlatih karena ayahnya adalah seorang perwira militer dan di bawah rezim Soviet dilarang keras untuk mengikuti agama apa pun.

Setelah Uni Soviet bubar pada tahun 1991, Asya dan keluarganya menetap di Ukraina dan suatu hari seorang teman memberinya sebuah buku bergambar kecil tentang Tuhan. Ini adalah perkenalan pertamanya dengan Tuhan dan Asya terpesona.

Mengingat perkenalan pertamanya pada hal-hal ‘Godly’, Asya yang berusia 31 tahun berkata, “Saya masih ingat apa yang saya lihat di buku. Isinya gambar-gambar indah seperti apa surga itu, penuh dengan bunga-bunga eksotis dan orang-orang cantik yang tersenyum mengenakan jubah putih. Itu meninggalkan kesan yang dalam di benak saya.”

“Maju cepat ke tahun-tahun selanjutnya ketika saya datang ke UEA pada tahun 2020. Saya melihat pria mengenakan kandooras putih yang indah dan itu mengingatkan saya pada buku itu. UEA tidak kurang dari surga bagi saya,” katanya.

Saat di sekolah, Asya mengatakan dia melihat banyak anak memakai liontin salib suci di leher mereka dan bertanya kepada ibunya tentang hal itu. Ibunya kemudian membaptisnya dan Asya mulai mendalami agama Kristen.

“Saya memulai perjalanan saya sebagai seorang Kristen dengan semangat dan antusiasme yang besar, tetapi seiring berjalannya waktu, saya tidak dapat menemukan jawaban atas banyak pertanyaan yang menghantui pikiran saya. Saya tidak dapat memahami perlunya menyembah berhala orang suci dan pendeta untuk terhubung dengan Tuhan,” jelasnya.

“Saya berpikir, mengapa saya perlu melakukan ritual ini untuk berbicara dengan Tuhan dan tidak bisakah saya terhubung langsung dengan-Nya dengan damai? Ketika saya beralih ke dunia modern, saya semakin tersesat karena saya melihat tidak ada sistem nilai, tidak ada ketulusan dan kepercayaan,” kata Asya. Dilansir dari laman Khaleej Times, Kamis (6/5).

Tidak tahu harus pergi ke mana, Asya memutuskan untuk mencari bantuan dari seorang pendeta Kristen yang menasihatinya untuk menjadi seorang biarawati dan meninggalkan dunia.

“Ketika pendeta meminta saya untuk mengadopsi monastisisme dan meninggalkan pengejaran duniawi dan mengabdikan diri sepenuhnya pada pekerjaan spiritual, sesuatu di dalam diri saya memberontak. Saya merasa bahwa itu bukanlah cara yang Tuhan inginkan,” katanya.

“Saya ingin menjadi seorang istri dan ibu, dan ini adalah hubungan, emosi dan perasaan yang diberikan kepada kami oleh Tuhan. Saya berpikir mengapa Tuhan ingin kita meninggalkan dunia dan meninggalkan hubungan ketika Dialah yang telah memberi kita dunia ini dengan semua hubungan ini di sekitar kita,” ujarnya.

Pada usia 23 tahun, Asya kemudian beralih ke Yudaisme sebelum kembali ke Kristen. Namun, dia tidak bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang dia rindukan. Saat itulah dia memutuskan untuk mendalami Islam.

“Saya tidak pernah berpikir untuk mendekati Islam karena ketakutan yang tertanam di hati saya dengan apa yang saya lihat, dengar dan baca di saluran media. Namun, menemukan diri saya dalam kekosongan spiritual, saya memutuskan untuk mendalami Islam dan saat itulah saya kebetulan menemukan kisah Yesus dan ibunya Maria dalam Islam,” jelasnya.

“Saya bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa cerita ini memiliki karakter yang mirip dengan yang saya baca dalam agama Kristen. Ini membuat saya terpikat dan saya mulai membaca tentang Islam. Saya tidak percaya bagaimana satu per satu, semua pertanyaan saya terjawab karena saya terus membaca lebih banyak tentang Islam,” ujarnya.

Setelah empat bulan penelitian, Asya menjadi yakin bahwa Islam adalah panggilannya dan mencoba terhubung dengan seorang Muslim untuk diajak bicara.

“Teman saya, dengan siapa saya mendiskusikan dilema saya, bercerita tentang seorang gadis lain yang telah masuk Islam dan menyarankan saya untuk berhubungan dengannya. Saya mencoba mengirim pesan kepadanya di media sosial, tetapi tidak menerima tanggapan apapun selama seminggu,” ujarnya.

“Suatu malam saya menangis kepada Tuhan dan berkata saya lelah, sedih dan kecewa. Katakan padaku jika Islam adalah jalan bagiku atau berikan aku kedamaian, aku tidak bisa lari lagi. Keesokan paginya saya mendapat pesan di kotak masuk saya. Saya merasa itu dari Allah. Gadis Muslim yang ingin saya ajak bicara (namanya Khadijah) telah menjawab dan dia mengundang saya untuk menemuinya di sebuah taman,” kata Asya.

Asya mengatakan bahwa ketika dia melihat Khadijah, dia tampak seperti bidadari dengan hijab dan abaya. Khadijah menjawab semua pertanyaan Asya, karena dia telah melalui situasi yang sama. Dia kemudian bertanya kepada Asya apakah dia ingin mengucapkan Syahadat.

“Saat saya sedang berpikir, Khadijah mengatakan sesuatu yang mengguncang saya. Dia berkata hidup tidak dapat diprediksi, jadi lebih baik kamu putuskan sekarang apakah kamu ingin mati sebagai seorang Muslim atau tidak,” kata Asya bercerita.

“Pada saat itu, hatiku berkata aku ingin masuk ke dalam Islam dan mati sebagai seorang Muslim. Kami kemudian pergi ke sebuah masjid di Kiev di Ukraina di mana saya mengucapkan Syahadat. Saya akhirnya merasa puas, bahagia dan damai sepenuhnya. Saya telah menemukan apa yang saya cari,” jelasnya.

Asya sejak itu belajar bagaimana membaca Alquran, memahami bahasa Arab dan menyempurnakan doanya. Meski orang tua dan saudara kandungnya masih Kristen, Asya mengatakan mereka masih mencintainya dan menghormatinya atas pilihannya.

“Ibu saya yang tadinya menentang hijab, sekarang belanja hijab warna-warni untuk saya, karena dia tahu saya suka,” kata Asya.[]sumber:republika.co.id

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

PT Pelindo Lhokseumawe akan Tindak Pungli di Pelabuhan

LHOKSEUMAWE - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Cabang Lhokseumawe menyatakan akan menindak tegas apabila...

KONI Aceh Lapor Perkembangan Persiapan Tuan Rumah PON ke Ketum KONI Pusat

  JAKARTA – Ketua Harian KONI Aceh H. Kamaruddin Abu Bakar atau akrab disapa Abu...

Pembangunan Pabrik NPK PT PIM Terkendala Impor Material dari Spanyol

LHOKSEUMAWE - Pembangunan pabrik pupuk NPK PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terkendala impor spare...

Rapat Perdana dengan Wali Nanggroe, Ini akan Dilakukan Tim Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan MoU Helsinki

  BANDA ACEH – Usai ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Aceh, Tim Pembinaan dan...

Operasional Pabrik Terhenti, PT PIM Masih Punya Stok Pupuk Subsidi 130 Ribu Ton

LHOKSEUMAWE - Operasional PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terhenti akibat terkendala pasokan gas dari...

Kejati Aceh: Kasus Peremajaan Sawit di Nagan Rp12,5 M ke Tahap Penyidikan

BANDA ACEH - Tim Penyelidik pada Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi Aceh meningkatkan status penyelidikan...

Kejari Lhokseumawe Batal Ekspose Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa di Kejati Aceh, Ini Alasannya

LHOKSEUMAWE – Tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe, Rabu, 16 Juni 2021, batal mengekspose di...

Begini Penjelasan PT Medco Soal Pasokan Gas ke PT PIM

LHOKSEUMAWE – PT Medco E&P Malaka (Medco E&P) sedang melakukan melakukan pemeliharan dan ramp...

Uniki Jalin Kerja Sama dengan PLN, Ini Kata Prof. Apridar

BIREUEN –Universiats Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan PLN UP3 Cabang Lhokseumawe menjalin kerja sama...

Berhenti Beroperasi Akibat Terkendala Pasokan Gas, Ini Kata PIM Soal Pupuk Subsidi

LHOKSEUMAWE - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) berhenti beroperasi sudah hampir satu bulan akibat...

Harga Jahe dan Pisang Anjlok di Putri Betung, Ini Kata Petani

BLANGKEJEREN - Sejumlah petani di Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, mulai kebingungan menjual...

Pemko Subulussalam MoU dengan Universitas Indonesia

SUBULUSSALAM - Wali kota Subulussalam H. Affan Alfian Bintang, S.E melakukan penandatanganan Memorandum of...

Warga Lhoksukon Amankan Piton di Kandang Bebek

ACEH UTARA - Seekor satwa liar jenis ular piton atau sanca diamankan warga Gampong...

‘Belum Ada Regulasi Harus Tunjukkan Surat Bukti Sudah Divaksin Jika Berobat ke RS’

LHOKSEUMAWE - Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kota Lhokseumawe menyatakan sampai saat ini...

Air Terjun Silelangit Subulussalam Destinasi Wisata Nominasi API 2021

SUBULUSSALAM - Destinasi wisata air terjun Silelangit yang terletak di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan...

Telan Dana Rp2 Miliar, Menara Pandang dan Rest Area Agusen tak Difungsikan

BLANGKEJEREN - Kondisi proyek menara pandang dan sejumlah bangunan di Rest Area Agusen, Kecamaatan...

Sebait Sapardi

Karya: Taufik Sentana Penyuka prosa kontemporer. Menulis puisi, ulasan, dan esai. Ia adalah sebait tuah Tentang bagaimana...

Zona Merah Covid-19 di Aceh Meluas ke Pidie dan Aceh Tengah

BANDA ACEH — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Coronavirus Disease 2019 (covid-19) Nasional kembali mengoreksi...

Creator Youtube Ini Bantu Sepeda Motor untuk Anak Yatim di Aceh Utara

ACEH UTARA - Salah seorang anak yatim bernama Hayatun Asniar (15), warga Gampong Keude...

Terkait Pupuk Subsidi Dijual di Atas HET, Polres akan Periksa Ahli

BLANGKEJEREN - Polres Gayo Lues terus mendalami dan memeriksa saksi-saksi terkait dugaan penjualan pupuk...