30.1 C
Banda Aceh
Selasa, Agustus 3, 2021

Mahalkah Berkurban Itu?

BERITA DAERAH

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim

Tulisan ini sengaja ditulis karena tidak lama lagi umat Islam akan menyambut datangnya Hari Raya Aidul Adha, atau dikenal dengan Aidul Qurban (Hari Raya Kurban Iduladha). Untuk sebagian besar masyarakat, ber-qurban (kurban) masih merupakan suatu yang “istimewa” dan “mewah”. Oleh karena itu, hanya segelintir dari mereka yang berkurban, yaitu orang-orang yang notabene berpunya atau beruang (mempunyai uang). Walaupun tidak dipungkiri, di antara sejumlah kurban yang ada, sebagiannya adalah milik orang miskin, namun jika dikuantifikasi jumlahnya sangat sedikit dan tidak seberapa.

Pernyataan di atas tidak menampik semangat berkurban sejumlah masyarakat yang kini mulai menggeliat di mana-mana, dan bisa dikatakan sudah lumayan untuk menyemarakkan hari raya terbesar dalam Islam. Akan tetapi, tetap saja nilainya sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah umat Islam Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa lebih. Berdasarkan data dirilis Kementan RI tahun 2020, jumlah hewan kurban, baik itu jenis sapi atau domba tidak mencapai 2 juta ekor, atau tepatnya 1.8 juta ekor. Angka ini pastinya bukan angka riil, mengingat masih banyak masyarakat yang berkurban secara mandiri. Namun begitu, jumlah tersebut tidaklah fantastis. Masyarakat yang tidak berkurban masih jauh lebih banyak dari yang berkurban.

Belajar berkurban dari Alquran

Ada banyak faktor mengapa masyarakat kita masih sedikit yang mau berkurban, salah satunya karena merasa kemahalan. Lalu, apa benar kurban itu mahal? Jawabannya: Sama sekai tidak! Akan tetapi, secara faktual, banyak orang tetap saja merasa kemahalan. Maka pertanyaan selanjutnya, mengapa orang-orang merasa berkurban itu mahal? Menjawab pertanyaan ini al-Quran (Alquran) memberikan beberapa penjelasan ringan.

Pertama, karakter buruk manusia sebagai makhluk yang bakhil. Lihat surah al-Nisa’ ayat 128, juga firman Allah dalam surah al-Isra’ 100, “Katakanlah: “Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya”, dan manusia itu sangat kikir”.

Kenyataan lain adalah karena setiap kali akan berinfak syaitan selalu saja menghalang-halangi keinginan tersebut hingga manusia membatalkan keinginannya. Hal ini difirmankan Allah dalam surah al-Baqarah 268, “Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir)”.

Itulah mengapa setiap kali seseorang akan berinfak, selalu saja teringat dengan berbagai kebutuhan lainnya yang seakan-akan mendesak sehingga membuatnya urung berinfak. Padahal, saat ia menghabiskan banyak uang untuk urusan remeh temeh, ia tidak pernah teringat akan hal-hal penting, seperti kurban misalnya, atau bahkan keperluan primer sekalipun, seperti uang sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Karena itu tak perlu heran jika isi celengan masjid selalu didominasi uang pecahan dan recehan.

Uraian singkat di atas memberi sedikit titik terang bahwa ketika orang-orang merasakan berat saat akan berkurban, hal itu bukan lantaran kurbannya yang mahal, tapi ia belum bisa keluar dari sifat dasarnya yang bakhil dan masih mudah digoda syaitan (setan).

Sebagian orang akan berdalih bahwa ia memang kesulitan dari segi ekonomi, bukan karena bakhil atau digoda setan. Jika memang begitu, idealnya orang tersebut tetap bisa berkurban, meskipun tidak setiap tahun, minimal lima tahun sekali atau sepuluh tahun sekali. Sehingga jika dia sudah mulai bekerja sejak umur 30 tahun, dan sekarang sudah berumur 60 tahun maka minimal sudah tiga atau enam kali berkurban.

Penulis meyakini, jangankan orang dewasa, anak-anak saja sebenarnya mampu berkurban, apalagi yang sudah remaja. Cukup bermodalkan uang jajan sehari 10 ribu. Jika tidak mampu berkurban setahun sekali minimal dua tahun sekali. Seseorang untuk bisa berkurban, ia hanya perlu menabung minimal 6000 rupiah sehari. Nah, di sini terlihat ada masalah lain yang tidak kurang rumitnya dengan persoalan di atas. Banyak orang sebenarnya malas menabung, dan pastinya tidak punya manajemen keuangan yang baik. Dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 3 Allah berfirman tentang ciri orang bertakwa, yaitu “menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.

Ayat ini dijelaskan oleh sebagian ulama tafsir, bahwa muttaqin itu adalah orang yang selalu menyisihkan hartanya untuk mereka infakkan. Penyisihan itu dilakukan pada saat pertama sekali harta itu diterima, bukan menunggu lebih. Karena kenyataannya manusia hanya merasa kurang, tidak pernah merasa lebih. Ayat di atas sejatinya bicara soal manajemen harta dan perencanaan keuangan (budgeting). Banyak umat Islam tidak terbiasa melakukan perencanaan keuangan dan tidak merasa penting, apalagi untuk urusan pribadi dan rumah tangga.

Soal budgeting seakan-akan hanya perlu untuk skala negara, propinsi dan daerah, tidak lebih dari itu. Padahal, banyak orang punya banyak uang dan bisa membelanjakannya pada banyak hal yang bermanfaat, namun karena minus perencanaan, akhirnya banyak hal tidak bisa terpenuhi dengan baik.

Firman Allah “sebahagian rezeki” menunjukkan bahwa untuk pendapatan kecil dan sedikit sekalipun mereka sisihkan. Dalam bahasa lain ada yang direncanakan pada setiap pendapatan mereka. Mereka sisihkan untuk A atau untuk B, walaupun jumlahnya minim. Inilah–barangkali–yang dimaksud pada firman Allah di surah Ali ‘Imran 134, “(orang bertaqwa itu adalah) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit…”. Mereka selalu memberi, baik saat lapang maupun sempit. Mereka selalu menyisihkan, saat mendapatkan sedikit maupun banyak.

Dari perencanaan keuangan seseorang akan tahu mana yang penting dan mana yang tidak. Secara otomatis akan ada skala prioritas dalam pengelolaan keuangan. Dia akan tahu kurban itu penting atau tidak, gonta ganti HP yang nilainya bisa lebih dari seekor kambing perlu atau tidak, atau menyisihkan uang untuk mengkonsumsi hal-hal lainnya. Lebih dari itu, orang dengan pendapatan sangat rendah sekalipun, atau dalam bahasa Alquran “orang-orang dalam keadaan sempit” kalau mempunyai perencanaan keuangan yang baik ia tetap bisa berkurban, walaupun tidak setiap tahun. Ia akan berusaha menyisihkan pendapatannya yang kecil dengan cara mencicil dan menabung. Karena jangankan orang dengan pendapatan rendah, orang kaya sekalipun, kadang-kadang akan merasa kemahalan jika dihadapkan pada nominal jutaan. Makanya menabung dari awal tahun, atau mencicil baik secara pribadi maupun melalui kelompok menjadi satu trik agar kurban terasa ringan dan murah.

Memotivasi diri

Namun ternyata, jika diterawang lebih mendalam, problemnya bukan pada penataan keuangan, tetapi lebih pada bagaimana seseorang bisa memotivasi dirinya agar mau berkurban. Berawal dari motivasi inilah muncul semangat untuk berbuat, soal budgeting hanya teknis saja, tidak lebih dari itu. Makanya jika dikembalikan pada surah al-Baqarah di atas, sebelum Allah menyebutkan tentang kebiasaan muttaqin (orang bertakwa), yaitu selalu berinfak, terlebih dahulu ditegaskan bahwa mereka adalah “orang-orang yang beriman kepada yang ghaib”.

Di sinilah ganjalan banyak orang walaupun semuanya membawa bendera Islam. Pahala dan dosa adalah sesuatu yang gaib. Hanya yang mampu melihat pahala dosa inilah yang sanggup memotivasi dirinya. Mudah baginya berbuat baik dan mudah pula meninggalkan perbuatan buruk.

Umat Islam lazimnya percaya pada yang gaib, mereka beriman adanya pahala dan dosa, tapi mengapa banyak orang justru menjauh dari pahala dan dekat dengan dosa. Seseorang ternyata tidak cukup hanya percaya, tapi harus yakin. Makanya pada ayat lanjutan, Allah berfirman, “mereka “yakin” akan adanya (kehidupan) akhirat”. Pahala dan dosa riilnya ada di akhirat bukan di dunia. Akan tetapi, bukan juga ngaku-ngaku yakin. Seseorang baru dikatakan yakin, ketika sesuatu yang diyakini mampu menggerakkan dirinya dari berbuat atau tidak berbuat. Tanda seorang anak yakin bahwa hantu itu ada, ia akan berlari ketakutan saat diteriakkan “hantu”.

Hantu yang ditakuti oleh anak-anak entitasnya tak pernah ada, tapi mengapa mereka takut? Lalu, mengapa manusia tak takut dosa dan abai terhadap pahala. Mereka biasa saja saat mendengar kata-kata surga dan neraka diteriakkan, padahal keduanya ada. Jawaban singkatnya: Semua perlu pembiasaan! Anak kecil menjadi takut pada hantu, lantaran setiap hari ditakut-takuti oleh orang tuanya. Seseorang jika ingin mendapatkan keyakinan dalam beragama, biasakanlah mampir ke masjid, sering-seringlah men-tadabburi Alquran, hadiri majelis ilmu yang mengingatkan dirinya kepada Allah dan akhirat, atau berteman dengan orang shalih. Itulah yang akan membuat iman tumbuh menjadi yakin, sehingga kebaikan yang beratpun menjadi ringan dikerjakan, apalagi soal kurban yang tidak seberapa. Wallahua’lam.

* Penulis adalah Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe. Ia juga dikenal sebagai Teungku Balee, dan dai ternama di Lhokseumawe.

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Perangkat Desa tidak Tamat SMA, Pemuda Merasa ‘Terpukul’

BLANGKEJEREN - Pemuda Kecamatan Terangun, Kabupaten Gayo Lues, merasa “terpukul” lantaran masih ada perangkat...

Mobil Pegawai Puskesmas Terjun ke Jurang Genting

BLANGKEJEREN - Mobil hitam jenis Avanza milik pegawai Puskesmas Pintu Rime Kecamatan Pining, Kabupaten...

AJI Lhokseumawe Bikin Video Kreasi Tarian Likok Pulo Meriahkan HUT AJI

LHOKSEUMAWE - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe telah membuat video kreasi tarian Likok...

Ratusan Warga Binaan Lapas Lhoksukon Divaksin

LHOSUKON - Sebanyak 439 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB...

Sampah di Seputaran Kota Blangkejeren tidak Diambil Petugas, Ini Kata Kepala DLH

BLANGKEJEREN - Tumpukan sampah di daerah Centong Bawah, Kota Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, mulai...

Tersangka Dugaan Korupsi Uang Makan-Minum Hafiz Gayo Lues Kembalikan Sebagian Kerugian Negara

BLANGKEJEREN - Tiga tersangka kasus dugaan korupsi uang makan dan minum hafiz pada Dinas...

Serahkan Bantuan Pribadi, Bintang Sampaikan Turut Belasungkawa Kepada Korban Kebakaran

    SUBULUSSALAM - H. Affan Alfian Bintang menyampaikan turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas musibah yang...

Nibong Bangkitkan Tradisi Let Tupe

LHOKSUKON - Puluhan warga kembali membangkitkan tradisi let tupe (perburuan tupai) di Gampong Alue...

Pemko Subulussalam Serahkan Bantuan Sembako dan Peralatan Rumah Tangga Kepada Korban Kebakaran

  SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota Subulussalam menyerahkan bantuan tanggap darurat kepada keluarga korban kebakaran di...

Sekda Bener Meriah Datangi Ombudsman Aceh

BANDA ACEH - Sekretaris Daerah Bener Meriah, Drs. Haili Yoga, M.Si., mendatangi dan bertemu...

Kapolres Subulussalam: Kebakaran Diduga Arus Pendek Listrik, Total 13 Unit, Kerugian Ditaksir Rp 2 Miliar

SUBULUSSALAM - Kapolres Subulussalam AKBP Qori Wicaksono mengatakan sebanyak 11 unit rumah hangus terbakar,...

Kebakaran Hebat Landa Subulussalam, Belasan Rumah Terbakar, Termasuk Kantor KUA

SUBULUSSALAM - Belasan rumah masyarakat di Kampong Subulussalam Selatan, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam...

Jurnalis Harus Disiplin Verifikasi, tak Boleh Emosi dalam Melahirkan Karya Jurnalistik

LHOKSEUMAWE - Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Lhokseumawe, Saiful Bahri, menegaskan setiap...

Kapolres Subulussalam Kunjungi Petani Putus Kaki Tersambar Mesin Potong Rumput, Serahkan Bantuan

  SUBULUSSALAM - Kapolres Subulussalam AKBP Qori Wicaksono, S.I.K mengunjungi korban putus kaki akibat tersambar...

Viral Isu Komunitas Dibaiat Air Tuak, Ternyata Hoax, Kapolres Subulussalam Ingatkan Warga UU ITE

SUBULUSSALAM - Kapolres Subulussalam AKBP Qori Wicaksono, S.I.K mengimbau masyarakat agar bijak menggunakan media...

Kemenkes Drop 38 Ribu Dosis Vaksin ke Aceh, Masyarakat Diimbau Vaksinasi

BANDA ACEH - Kementerian Kesehatan drop lagi 38.300 dosis vaksin Sinovac mengisi stok vaksin...

Youtuber Sonupaii Terima Donasi Rp100 Juta untuk Bantu Pedagang Kecil Terdampak PPKM

MEDAN – Youtuber sukses asal Medan, Sumatera Utara, Sonupaii akrab disapa Mak Karbol, berhasil...

Besok, Nelayan Asal Sabang Dipulangkan ke Aceh

JAKARTA - Setelah menjalani masa karantina sepekan di Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, nelayan Aceh...

RTA Ajak Selamatkan Anak Aceh dari Kecanduan Game

BANDA ACEH – Organisasi santri Aceh, Rabithah Thaliban Aceh (RTA) mengajak masyarakat, terutama para...

Indigo Hackathon Festival; Ajang Bergengsi untuk Para Talent dan Geek Terbaik Indonesia

Banda Aceh, 30 Juli 2021. DILo Hackathon Festival pada tahun 2021 secara resmi berganti...