26.7 C
Banda Aceh
Sabtu, Juni 19, 2021

Pejuang, Rakyat, dan Partai Aceh (1)

BERITA DAERAH

Pejuang, Rakyat, dan Partai Aceh (1)

Kita sudah menyadari sekarang bahwasanya, ketika rasa sayang dan hormat kita para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) kepada rakyat negeri Aceh menghilang, maka bersamaan itu pula, rasa percaya dan dukungan mereka kepada Partai Aceh tidak ada lagi.

Oleh: Thayeb loh Angen
Budayawan, Entrepreneur

Partai Aceh merupakan salah satu partai politik lokal di Aceh, Sumatra, Indonesia. Partai Aceh didirikan berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh (UUPA) sebagai turunan MoU Helsisnki (Kesepahaman antara GAM dan Pemerintah RI), di Helsinki, ibukota Finlandia, 15 Agustus 2005.

Setelah MoU Helsinki, struktur pemerintahan pejuang Aceh (GAM) dialihkan ke dalam organisasi yang sesuai dengan hukum RI, yaitu menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA). Seluruh pengurus anggota KPA merupakan para pejuang Aceh sebelumnya, baik dari kalangan eks kombatan maupun sipil GAM.

KPA Mendirikan Partai Aceh

Partai Aceh ikut dalam pemilihan umum legislatif tahun 2009 dan meraih suara terbanyak di Aceh dengan menguasai 47% kursi di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), yaitu 21 kursi dari 69 yang tersedia.

Namun, pada pemilihan umum legislatif selanjutnya, jumlah kursi Partai Aceh di DPRA tidak dapat dipertahankan sesuai kebutuhan.

Mengapa Partai Aceh tidak dapat memenagkan persaingan dalam politik praktis? Mengapa jumlah kursi yang didapatkan di DPRA berkurang?

Sebagai manusia yang memiliki pandangan jauh ke depan (visoner), kita perlu menemukan solusi (penyelesaian) untuk semua itu.

Mengapa penting bagi penduduk Aceh menjadikan Partai Aceh sebagai partai paling banyak kursi di DPRA dan DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota) dan menjadi pemerintah setiap eksekutif (Gubernur Aceh dan Bupati/Wali Kota)?

Wahé rakan-rakan di negeri Aceh

Orang-orang di luar Aceh memahami bahwasanya, kekuatan perpolitikan di Aceh, kehormatan politik Aceh berada pada partai lokal di Aceh, khususnya Partai Aceh. Dalam politik keacehan, setiap penduduk Aceh, baik kita sebagai pendukung, anggota, atau bukan, tetap memiliki kepentingan untuk menguatkan Partai Aceh dan mengembalikannya ke tujuan ia didirikan.

Kita memahami hukum sebab akibat, bagaimana sifat baik masyarakat Aceh dalam segala tingkatan. Mereka mendukung pejuang Aceh GAM karena simpati dan persaudaraan.

Hal itulah yang membuat GAM membesar begitu cepat hanya dalam beberapa tahun, dari tahun 1998 sampai 2005. Hanya dalam lima tahun, GAM telah mengguncangkan keamanan RI di utara Sumatra dan namanya telah dikenal di seluruh penjuru dunia.

Masyarakat Aceh dan pihak yang memusuhi GAM dulu memahami hal itu, akan tetapi ironisnya, kita para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) sendiri tidak memahaminya lagi. Kita tidak lagi mengingat bahwasanya kita ada karena didukung mati-matian oleh sekalian rakyat Aceh, dengan darah, harta, cinta, dan ketakutan mereka.

Akan tetapi, setelah perang berakhir dengan ditandatanganinya Mou Helsinki, kita belum pernah sekalipun berterima kasih kepada rakyat Aceh karena telah membantu kita membentuk “mimpi Aceh”, kita tidak pernah meminta maaf atas kekurangan kita, yang belum mampu menyejahterakan rakyat negeri Aceh walaupun sudah 16 tahun perdamaian. Jangankan rakyat secara keseluruhan, bahkan korban konflik saja belum dapat kita sejahtrakan.

Kita adalah pelaku konfik itu, maka kitalah yang bertanggung jawab untuk menenangkan hati mereka. Kita berjuang untuk rakyat negeri Aceh, maka tugas kitalah untuk menyejahterakan mereka sekarang.

Jika sebagian kita pun belum sejahtera, maka ajaklah rakyat untuk berjuang bersama-sama supaya pemerintah menerapkan kebijakan yang adil untuk kita bersama. Ingat, people are the first, rakyat yang pertama.

Wahé rakan-rakan pejuang di negeri Aceh

Kita, sebelumnya adalah pahlawan bagi sekalian rakyat negeri Aceh. Karenanyalah, pasangan Gubernur Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar, S.Ag, yang didukung para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM), kalangan intelektual dan gerakan sipil Aceh menang telak. Karena itulah, pada pemilu 2009 Partai Aceh mendapatkan kursi terbanyak di DPRA.

Rakyat Aceh telah memberikan waktu kepada para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) dan Partai Aceh untuk mengikuti ujian politik, dari tahun 2006 sampai tahun 2014.

Ternyata, ujian itu tidak dapat kita selesaikan dengan baik sehingga rakyat Aceh tidak memberikan kita nilai terbaik. Akibatnya, jumlah kursi pada pemilihan umum legislatif tahun 2014, Partai Aceh kehilangan banyak kursinya, hanya mampu mendapatkan 26 kursi dari 81 kursi yang disediakan.

Walaupun rakyat mulai mengurangi kepercayaannya pada kinerja anggota DPRA dari Partai Aceh, tetapi tidak pada gubernur saat itu. Partai Aceh belum mencalonkan gubernur dan wakil gubernur secara langsung atas namanya. Oleh karena itu, pada pemilihan Gubernur Aceh tahun 2012, rakyat memilih calon dari Partai Aceh, yaitu Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf, yang kemudian menang.

Akan tetapi, karena beberapa hal, desas desus kepemimpinan membuat rakyat mulai menarik diri sehingga pada pemilihan umum legislatif tahun 2014, kursi untuk Partai Aceh di DPRA berkurang lagi walaupun jika dibandingkan dengan partai lain masih terbanyak.

Ketika sudah menyadari kekurangan dukungan demikian, tetapi kita masih batat (bebal), belum juga memperbaiki kinerja dan sikap kita terhadap rakyat. Kita masih belum bersedia beradaptasi antara tujuan kita yang mulia dulu dengan cara politik saat ini.

Oleh karena itu, pada pemilihan gubernur tahun 2017, pasangan yang kita calonkan dari Partai Aceh tidak menang lagi. Saat itu, belum juga kita memperbaiki sikap diri, maka rakyat kembali mengurangi dukungannya, dengan memberikan hanya 18 kursi untuk Partai Aceh dari 81 kursi yang tersedia di DPRA.

Wahai rekan-rekan pejuang Aceh

Kiranya cukup sudah teguran Allah untuk kita dengan cara mengizinkan rakyat mengurangi dukungannya untuk Partai Aceh. Marilah kita memperbaiki diri, mengingat kembali sumpah dan janji kita kepada Allah dan kepada bangsa ini.

Mari kita mengingat kembali tujuan kita dulu bergabung dengan perjuangan. Dulu, kita ikhlas melakukan apapun demi rakyat kita di Aceh. Mengapa sekarang, setelah keadaan sudah dimudahkan, kita tidak melanjutkan hal itu.

Dulu, antara tahun 2008 sampai MoU Helsinki, kita menghormati setiap orang yang kita jumpai di manapun. Kita mengangkat tangan memberikan salam untuk siapapun yang kita temui di jalan, di kedai kopi, baik kita kenal maupun tidak.

Hal tersebut kita lakukan karena kita meyakini bahwasanya mereka adalah rakyat kita, rakyat yang tengah kita perjuangkan nasibnya supaya lebih baik, dengan diri, harta, dan bahkan nyawa kita sekalipun. Ke manakah rasa hormat kita itu sekarang?

Kita sudah menyadari sekarang bahwasanya, ketika rasa sayang dan hormat kita para pejuang Aceh (eks kombatan dan sipil GAM) kepada rakyat negeri Aceh menghilang, maka bersamaan itu pula, rasa percaya dan dukungan mereka kepada Partai Aceh tidak ada lagi.

Wahé rakan-rakan pejuang di negeri Aceh, rakyat tidak membutuhkan apapun dari kita. Mereka tidak membutuhkan bantuan kita. Mereka hanya ingin haknya dipenuhi, yang sekarang dititipkan oleh Allah Ta’ala pada kita. Rakyat negeri Aceh dapat hidup tanpa kita, tetapi kita tidak dapat hidup tanpa mereka.

Kembalilah kepada kesejatian kita yang dulu, pernah menghormati setiap orang di negeri Aceh. Dengan begitu, insyaallah po teuh Allah (Pencipta kita Allah) akan mengizinkan rakyat mendukung kita kembali.

Geutanyoë wajéb tamumat keulai bak taloë han putôh (Kita mesti bergantung pada tali yang tidak akan putus), yakni iman kepada Allah. Tetaplah taat kepada pemimpin dan menjadi warga negara yang baik dalam bingkai NKRI. Selamat berjuang untuk menyejahterakan rakyat kita, rakyat negeri Aceh.[]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

PT Pelindo Lhokseumawe akan Tindak Pungli di Pelabuhan

LHOKSEUMAWE - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Cabang Lhokseumawe menyatakan akan menindak tegas apabila...

KONI Aceh Lapor Perkembangan Persiapan Tuan Rumah PON ke Ketum KONI Pusat

  JAKARTA – Ketua Harian KONI Aceh H. Kamaruddin Abu Bakar atau akrab disapa Abu...

Pembangunan Pabrik NPK PT PIM Terkendala Impor Material dari Spanyol

LHOKSEUMAWE - Pembangunan pabrik pupuk NPK PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terkendala impor spare...

Rapat Perdana dengan Wali Nanggroe, Ini akan Dilakukan Tim Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan MoU Helsinki

  BANDA ACEH – Usai ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Aceh, Tim Pembinaan dan...

Operasional Pabrik Terhenti, PT PIM Masih Punya Stok Pupuk Subsidi 130 Ribu Ton

LHOKSEUMAWE - Operasional PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terhenti akibat terkendala pasokan gas dari...

Kejati Aceh: Kasus Peremajaan Sawit di Nagan Rp12,5 M ke Tahap Penyidikan

BANDA ACEH - Tim Penyelidik pada Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi Aceh meningkatkan status penyelidikan...

Kejari Lhokseumawe Batal Ekspose Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa di Kejati Aceh, Ini Alasannya

LHOKSEUMAWE – Tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe, Rabu, 16 Juni 2021, batal mengekspose di...

Begini Penjelasan PT Medco Soal Pasokan Gas ke PT PIM

LHOKSEUMAWE – PT Medco E&P Malaka (Medco E&P) sedang melakukan melakukan pemeliharan dan ramp...

Uniki Jalin Kerja Sama dengan PLN, Ini Kata Prof. Apridar

BIREUEN –Universiats Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan PLN UP3 Cabang Lhokseumawe menjalin kerja sama...

Berhenti Beroperasi Akibat Terkendala Pasokan Gas, Ini Kata PIM Soal Pupuk Subsidi

LHOKSEUMAWE - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) berhenti beroperasi sudah hampir satu bulan akibat...

Harga Jahe dan Pisang Anjlok di Putri Betung, Ini Kata Petani

BLANGKEJEREN - Sejumlah petani di Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, mulai kebingungan menjual...

Pemko Subulussalam MoU dengan Universitas Indonesia

SUBULUSSALAM - Wali kota Subulussalam H. Affan Alfian Bintang, S.E melakukan penandatanganan Memorandum of...

Warga Lhoksukon Amankan Piton di Kandang Bebek

ACEH UTARA - Seekor satwa liar jenis ular piton atau sanca diamankan warga Gampong...

‘Belum Ada Regulasi Harus Tunjukkan Surat Bukti Sudah Divaksin Jika Berobat ke RS’

LHOKSEUMAWE - Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kota Lhokseumawe menyatakan sampai saat ini...

Air Terjun Silelangit Subulussalam Destinasi Wisata Nominasi API 2021

SUBULUSSALAM - Destinasi wisata air terjun Silelangit yang terletak di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan...

Telan Dana Rp2 Miliar, Menara Pandang dan Rest Area Agusen tak Difungsikan

BLANGKEJEREN - Kondisi proyek menara pandang dan sejumlah bangunan di Rest Area Agusen, Kecamaatan...

Sebait Sapardi

Karya: Taufik Sentana Penyuka prosa kontemporer. Menulis puisi, ulasan, dan esai. Ia adalah sebait tuah Tentang bagaimana...

Zona Merah Covid-19 di Aceh Meluas ke Pidie dan Aceh Tengah

BANDA ACEH — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Coronavirus Disease 2019 (covid-19) Nasional kembali mengoreksi...

Creator Youtube Ini Bantu Sepeda Motor untuk Anak Yatim di Aceh Utara

ACEH UTARA - Salah seorang anak yatim bernama Hayatun Asniar (15), warga Gampong Keude...

Terkait Pupuk Subsidi Dijual di Atas HET, Polres akan Periksa Ahli

BLANGKEJEREN - Polres Gayo Lues terus mendalami dan memeriksa saksi-saksi terkait dugaan penjualan pupuk...