Beranda Budaya Ragam Mode Baju di Aceh Tempo Doeloe

Ragam Mode Baju di Aceh Tempo Doeloe

0
Para penziarah Aceh di Jeddah difoto ketika menunaikan ibadah haji tempo dulu @Collectie Tropenmuseum

Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Sejak zaman dulu dalam masyarakat Aceh beredar beragam jenis dan mode pakaian, baik produksi lokal maupun yang diimpor dari luar negeri. Interaksi masyarakat Aceh dengan pendatang dari  berbagai negara Eropa dan Asia, ikut mempengaruhi mode pakaian di Aceh.

Sebagaimana ditulis dalam buku Ensiklopedi Aceh terbitan BRR NAD-Nias, Maret 2008. Kebetulan saya ikut sebagai salah seorang dari enam orang tim penulis waktu itu. Dalam buku tersebut dijelaskan, ada beberapa jenis pakaian yang ditiru oleh masyarakat Aceh pada zaman dahulu dari bangsa luar.

Baca Juga: Jurnalisme Klasik, Antara Diurnarius Romawi dan Bakeutok Aceh.

Ketika para pedagang dari Eropa datang ke Kerajaan Aceh untuk berdagang, mode pakaian mereka diadopsi oleh orang Aceh, jas model Eropa dimodifikasi menjadi jas yang sesuai dengan kultur Aceh yang dikenal dalam masyarakat Aceh dengan nama bajee balék takuë atau bajee balék dada.

Malah, baju besi yang dipakai dalam peperangan oleh tentara di kerajaan-kerajaan Eropa, juga dimodif di Aceh dengan nama bajee busoë. Begitu juga dengan baju zirah yang dalam bahasa Aceh disebut sebagai bajee dirah.

Kekita kerajaan-kerajaan di Semenanjung Melayu tunduk ke Kerajaan Aceh di abad ke-16, mode dari negeri Melayu di Malaka juga diadopsi di Aceh, jenis baju kurung yang dipakai para pengantin putri di Semenanjung Melayu oleh masyarakat Aceh disebut sebagai bajee meukeurija sering juga dinamai bajee dara baro. Ada juga baju kurung Melayu yang disebut di Aceh sebagai bajee panyang.

Baca Juga: Pembangunan Unsyiah tak Direstui Pusat.

Baju jas yang sering dipakai para tamu-tamu dari Eropa saat melakukan diplomasi ke kerajaan Aceh, juga ikut mempengaruhi gaya busana di lingkungan para pembesar Kerajaan Aceh, baju jas yang kita kenal sekarang, dulu di Aceh disebut sebagai bajee kot atau bajee jaih.

Selain itu, posisi Kerajaan Aceh sebagai embarkasi pemberangkatan jamaah haji di nusantara pada zaman dulu, juga mempengaruhi corak pakaian. Para jamaah haji yang pulang dengan menggunakan baju model Arab, juga ikut membawakan pakaian itu ke Aceh, dikenal dengan sebutan sebagai bajee jubah atau bajee haji. Kemudian baju rompi model Arab ketika di Aceh dinamai bajee sadariah.

Baca Juga: Dewan Perjuangan Daerah Aceh Dibentuk.

Dalam perkembangan selanjutnya, mulai muncul baju dengan lengan pendek yang disebut sebagai bajee et sapai atau bajee paneuék jaroë. Sementara baju dalam (singlet) dinamai bajee geutah, bajee puntông atau bajee tukôk. Malah ada satu pakaian yang dinamai bajee hak hot (halfcoat). Kemudian baju kemeja dinamai bajee krot jaroë (keumija).

Ada lagi baju yang khusus dipakai oleh kalangan Uleebalang dan pembesar negeri di Aceh dikenal sebagai bajee hop atau bajee kuala. Kemudian baju tanpa lengan dari Maskat di Madras, India, ketika sampai di Aceh dinamai sebagai bajee meuseukat, ini bukan jenis makanan tradisional, karena di Aceh juga ada meuseukat sebagai nama makanan khas, tapi nama daerah di India, Maskat yang lidah orang Aceh menyebutnya meuseukat.

Beberapa jenis mode pakaian lain yang trendi di Aceh zaman dahulu adalah: baju bersulam dada dinamai bajee meususôn, baju kebaya disebut bajèe plah dada, baju dengan rok disebut bajee kurông, ini juga sejenis dengan baju kurung Melayu.

Baca Juga: Para Pegawai Terlibat Perang Cumbok Dipecat.

Menariknya, baju kimono dari Jepang yang berlengan longgar, ketika diadopsi dalam mode pakaian orang Aceh zaman dahulu dinamai sebagai bajee sayeup simantung (baju sayap kelelawar), karena ketika orang yang memakainya mengangkat kedua lengannya, maka lengan baju yang longgar itu akan menyerupai sayap kelelawar.

Kemudian ada lagi jenis kemeja yang lebar dan longgar, yang dipakai oleh pria dan wanita. Bedanya yang dipakai perempuan menggunakan sulaman, sementara yang dipakai pria tidak. Baju ini oleh orang Aceh dinamai bajee reuleue.[]

Baca Juga: Kisah Pertemuan Pertama Kali KOmandan GAM dengan Komandan TNI di Satu Meja.

Tinggalkan Balasan