Beranda Budaya Sepisau Rindu

Sepisau Rindu

0
Ilustrasi anggur merah. @Shutterstock
Karya: Taufik Sentana*

Sepisau rindu menembus pulau pulau
menjangkau lubuk lubuk asa
dalam remuk-payau
dalam himpit dunia yang kemilau.

Dahan dahan hidup telah bercabang
dan mencandai matahari. Beberapa daun telah terkulai pasrah.

Serisau hati berkelebat kemari
menyibak ratusan tanya
meredam galau kemarin
dan memendam harapan esok.

Waktu sekaligus sekutu yang baik
dan musuh yang paling adil.
Sepisau rindu larut dalam waktu
hanyut dalam keping kenangan
dan menjuntai-meraba ke tepian kelana.

Gelagat zaman hanya bertukar peran
di atas panggung yang sama.
Mencintai dan mengingkari
bagai sisian sungai yang menuju muara kebeningan.

Sepisau rindu seakan mencekam dan mencabik pelan pelan, menyisakan serpihan kesangsian diantara pusaran pencarian, antara abadi dan majazi.

Sepisau rindu itu terhampar di jalan jalan aspal, terselubung debu debu kota
dan terselip di pelupuk pagi. Ia terhunus di setiap hati yang terus menerus memaknai kejadian.[]

*Penyuka Prosa Religi.

Baca Juga: Batalkan Saja Pilkada, Kontraklah Bill Gates

Tinggalkan Balasan