27.2 C
Banda Aceh
Rabu, April 21, 2021

Berislam di India, Mualaf Shadab Pertaruhkan Nyawanya

BERITA DAERAH

NEW DELHI – “Saya membenci Muslim hampir sepanjang hidup saya dan hari ini saya dengan bangga menyebut diri saya sendiri Muslim,” kata Siddharth, yang menggunakan nama Shadab ketika dia masuk Islam pada 2012 lalu.

Pada saat banyak pemerintah negara bagian yang diperintah Partai Bharatiya Janata (BJP) telah mengesahkan atau berencana untuk mengesahkan apa yang disebut undang-undang anti-agama, prosesnya mencerminkan peningkatan sentimen anti-Muslim.

Shadab adalah seorang Hindu yang taat dan berdoa di kuil setiap Selasa dan Sabtu. Dia akan memberi hormat pada semua yang diamanatkan agama, dan ingat membawa yang manis-manis ke kuil untuk dipersembahkan kepada para Dewa.

Dari kasta Kshatriya, dia mengatakan semua festival dan tradisi dirayakan dengan mengikuti adat istiadat Hindu yang ditentukan para agamawan untuk kasta mereka.

Pada usia 19 tahun, Shadab mulai mempertanyakan praktik ritualistik. Dia berkata, “Setiap kali saya bertanya kepada orang tua saya tentang signifikansi dan logika di balik pencahayaan diyas, mereka menyebut orang yang lebih tua sebagai pengikut tradisi, tetapi mereka tidak pernah memberi saya penjelasan yang logis.”

Terlahir dari orang tua Hindu yang telah mengajari Shadab hari-hari dalam sepekan sesuai dengan hari apa yang menjadi milik Tuhan, dia mendapati dirinya mempertanyakan keyakinannya.

Saat ditanya apa yang membuatnya tertarik pada Islam, dia mengatakan kesetaraan menginspirasi dia. Dilansir dari laman The Wire, Senin (15/3).

“Dalam Islam, baik itu pengemis atau bankir, semua berdiri dalam barisan yang sama untuk sholat, semua sama di mata Islam. Kamu tidak harus kaya atau dilahirkan dalam kategori sosial tertentu untuk bisa dekat dengan Allah,” kata Shadab.

Shadab mengatakan, Islam menganjurkan kesetaraan di antara semua manusia dan menyerukan rasa hormat yang sama kepada semua orang tanpa memandang warna kulit, ras, status keuangan, dan status sosial.

Usai masuk Islam

Setelah diusir dari rumahnya, Shadab dilindungi seorang teman Muslim yang dia anggap sebagai keluarga. Belakangan ketika Shadab mendapat pekerjaan, dia menyadari bahwa dunia korporat tidak hanya cerdas dalam hal budaya kerja tetapi juga Islamofobia.

Ketika anti-Muslim mulai meningkat dan insiden hukuman mati yang sering dilaporkan, Shadab merasa sangat rentan dalam menjalankan haknya untuk beragama.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Bazar Perpena, 100 Persen Keuntungan Disalurkan kepada Warga Kurang Mampu

SUBULUSSALAM - Ketua Persatuan Pemuda Penanggalan (Perpena) Kota Subulussalam, R Hidayat Putra Manurung mengatakan...

Pegawai Kejaksaan Gayo Lues Teken Komitmen Wilayah Bebas Korupsi

BLANGKEJEREN - Pegawai Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues melakukan penandatanganan komitmen bersama untuk mewujudkan...

Keuchik Diminta Pahami Permendes Terkait Penggunaan Dana Desa

BANDUNG – Para kepala desa (keuchik) diminta untuk memahami Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 5

KAPTEN LET PANDE Episode 4 - Cerita Bersambung - Novel Serial Karya: Thayeb Loh Angen Dari atas...

Perkemahan Penghafal Alquran di Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe Dibuka

LHOKSEUMAWE - Perkemahan Tahfidz Gerakan Pemuda Rihlah Shaum (PETA GPRS) ke-5 dan Daurah Ramadhan...

Pimpinan DPRK Surati Bupati, Kisruh Penetapan Komisioner Baitul Mal Gayo Lues Berakhir

BLANGKEJEREN - Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Gayo Lues sudah melayangkan surat kepada...

Polisi Buru Tersangka Penganiayaan Ibu Rumah Tangga di Dewantara

ACEH UTARA - Polsek Dewantara, Aceh Utara, memburu pria berinisial D (24), diduga melakukan...

Ikamat Harap Dukungan Pemerintah Aceh

ISTANBUL - Pengurus Ikatan Masyarakat Aceh - Turki (Ikamat) menyampaikan apresiasi dan terima kasih...

Rintihan Putri Kamaliah, Putri Pahang dibalik Puing-Puing Kehilangan

Karya: Jamaluddin Peminat Sastra, Lhokseumawe. Perhiasan ini telah berdebu Rinduku takkan pernah lekang Apa yang telah terjadi Duhai Pemilik...

Rapat IPAL di Kantor Ombudsman Aceh, Ini Pandangan Mapesa

BANDA ACEH - Ombudsman RI Perwakilan Aceh melaksanakan rapat tentang Instalasi Pembuangan Air Limbah...

Kereta dan Kota Emas Firaun Ditemukan, Tongkat Nabi Musa Dicari

Heboh penemuan Kota Emas berusia 3.000 tahun yang digadang-gadang peninggalan kerjaan Firaun melengkapi penemuan...

Anggota Dewan Gayo Lues ‘Dinonaktifkan’, Ini Surat Ketua DPRK

BLANGKEJEREN - Masyarakat Kabupaten Gayo Lues yang hendak berurusan atau menjumpai Anggota Dewan Perwakilan...

Operasi Senyap Kopassus Jalan Kaki Ratusan Km saat Puasa di Rimba Kalimantan

Puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh seluruh umat Islam. Selama...

Akhlak Calon Suami Antarkan Nadya Jadi Mualaf

Nadya Noviena, yang saat ini berusia 24 tahun, wanita yang baru saja memeluk Islam...

Bintang Borong Takjil Perpena, Bagikan kepada Abang Becak

SUBULUSSALAM - Lapak pedagang takjil menyediakan menu berbuka puasa milik  Persatuan Pemuda Penanggalan (Perpena)...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 4

KAPTEN LET PANDE Episode 4 - Cerita Bersambung - Novel Serial Karya: Thayeb Loh Angen Setelah matahari...

Pemilik Tanah di Areal Waduk Keureuto Datangi BPN Aceh Utara Terkait Persoalan Ini

ACEH UTARA - Sejumlah pemilik tanah sah yang berada di Gampong Blang Pante, Kecamatan...

Perang Aceh-Portugis Dalam Lukisan Maestro Delsy Syamsumar

Memasuki ruang kontemporer Museum Aceh, Rabu, 14 April 2021 lalu, 28 lukisan dari para...

Putra Subulussalam ini Wakili Aceh jadi Anggota Paskibraka di Istana Negara

SUBULUSSALAM - Kota Subulussalam, patut berbangga hati, dua putra putri terbaik di Bumi Syekh...

Anak 8 Tahun Diculik di Prancis, Penyelamatannya Mirip Operasi Militer

Seorang anak perempuan delapan tahun asal Prancis diselamatkan di Swiss kemarin setelah lima hari...