26.4 C
Banda Aceh
Sabtu, Juni 19, 2021

Nasib Bahasa Lokal Kian Terancam Punah

BERITA DAERAH

Oleh Nab Bahany As
Nab Bahany As, budayawan, tinggal di Banda Aceh. Email: nabbhanyas@yahoo.co.id

Kita baru saja memperingati Hari Bahasa Ibu Internasional, yang diperingati di seluruh dunia pada tiap tanggal 21 Februari, sejak ditetapkannya Hari Peringatan Bahasa Ibu Internasional oleh PBB tahun 1999.

Ketetapan itu didasarkan pada sebuah peristiwa sejarah demontrasi mahasiswa tanggal 21 Februari 1952 di Pakistan, yang menentang keputusan Gubernur Jenderal Muhammad Ali Jinnah yang mendeklarasikan pemberlakuan bahasa Urdu sebagai bahasa resmi Pakistan tahun 1948.

Rakyat Pakistan Timur menentang keputusan itu, rakyat Pakistan Timur menilai bila keputusan itu dijalankan akan memunahkan bahasa-bahasa lokal di Pakistan sebagai bahasa ibu mereka.

Para mahasiswa turun ke jalan menetang keputusan ini, bentrok mahasiswa dengan petugas keamanan tak terhindari, puncak demontrasi itu terjadi tanggal 21 Februari 1952, mahasiwa pendemo banyak yang korban akibat tembakan petugas keamanan Pakistan. Dari dasar peristiwa inilah PBB kemudian menetapkan tanggal 21 Februari 1952 adalah Hari Peringatan Perjuangan Bahasa Ibu Internasional yang kini terus diperingati tiap tanggal 21 Februari di seluruh dunia.

Meskipun peringatan Hari Bahasa Ibu diperingati setiap tahunnya sekarang ini, tampaknya bukan sebuah jaminan untuk melestarikan bahasa lokal, termasuk bahasa-bahasa etnis yang ada di Aceh. Apalagi bila keberadaan bahasa etnis lokal ini dihubungkan dengan pengaruh kemajuan kebudayaan yang makin mengglobal saat ini, tentu bahasa –bahasa etnis lokal di daerah—akibat munculnya ekspresi budaya baru—akan semakin terancam punah.

Bagi Aceh, kekhawatiran akan kepunahan bahasa ini (bahasa Aceh sendiri), belum lagi bahasa-bahasa etnis Aceh laiannya sudah dirasakan sejak tahun 1970. Hal ini tergambar dalam salah satu bait ungkapan syair dalam buku “Sanggamara” yang ditulis Teukoe Mansoer Leupung:

“Tameututo ngen bahsa droe
Bahsa nanggroe nyang biasa
Bahsa laen bek tapakoe
Beuthat ragoe bak beurkata”

Buku berjudul “Sanggamara” yang ditulis Mansoer Leupueng ini dianggap salah satu karya sastra bahasa Aceh dalam menjawab kelesuan kesusatraan Aceh yang sempat terhenti di era 1960-1970-an, karena pengarang (sastrawan) di Aceh ketika itu lebih banyak menulis dalam bahasa Indonesia, termasuk angkatan pujangga baru dari Aceh, seperti Ali Hasjmy, Talsya, A Gani Mutyara dan penulis-penulis Aceh lain yang seangkatan dengannya tidak menghiraukan bahasa Aceh sebagai bahasa ibu di daerahnya.

Penggalan sebait syair Teukoe Mansoer di atas dapat dipahami sebagai rasa keprihatinan “ekstrim” yang kalau dicermati hari ini sungguh sangat tidak relevan lagi bila arti dari syair itu dipertahankan. Akan tetapi itulah gambaran kekhawatiran terhadap suatu ketika bahwa bahasa lokal—secara lebih khusus bahasa Aceh, atau bahasa-bahasa etnis lainnya yang ada di Aceh—akan tarancam dari penuturnya seiring berubahnya perkembangan ekspresi kebudayaan yang membuat nilai-nilai lokal makin lama makin menepi, termasuk unsur bahasa di dalamnya.

Dalam kasus-kasus yang paling sederhana, sebagaimana dicontohkan Bidiarto Danujaya (1990) cara berekspresi ramaja sekarang hampir tak lagi berbeda antara kota besar dengan desa-desa di pedalaman. Provinsi Aceh yang kabarnya sangat sulit menerima pengaruh budaya dari luar, tetapi radio-radio lokal di Aceh terus memperdengarkan dialek-dialek Betawi yang kejakartaan, dan sangat digandrungi para kaula muda. Dalam kondisi ekspresi budaya seperti ini begaimana kita harus memposisikan bahasa lokal dalam berinteraksi kaum remaja Aceh saat ini?

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

PT Pelindo Lhokseumawe akan Tindak Pungli di Pelabuhan

LHOKSEUMAWE - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) I Cabang Lhokseumawe menyatakan akan menindak tegas apabila...

KONI Aceh Lapor Perkembangan Persiapan Tuan Rumah PON ke Ketum KONI Pusat

  JAKARTA – Ketua Harian KONI Aceh H. Kamaruddin Abu Bakar atau akrab disapa Abu...

Pembangunan Pabrik NPK PT PIM Terkendala Impor Material dari Spanyol

LHOKSEUMAWE - Pembangunan pabrik pupuk NPK PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terkendala impor spare...

Rapat Perdana dengan Wali Nanggroe, Ini akan Dilakukan Tim Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan MoU Helsinki

  BANDA ACEH – Usai ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Aceh, Tim Pembinaan dan...

Operasional Pabrik Terhenti, PT PIM Masih Punya Stok Pupuk Subsidi 130 Ribu Ton

LHOKSEUMAWE - Operasional PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) terhenti akibat terkendala pasokan gas dari...

Kejati Aceh: Kasus Peremajaan Sawit di Nagan Rp12,5 M ke Tahap Penyidikan

BANDA ACEH - Tim Penyelidik pada Bidang Intelijen Kejaksaan Tinggi Aceh meningkatkan status penyelidikan...

Kejari Lhokseumawe Batal Ekspose Kasus Tanggul Cunda-Meuraksa di Kejati Aceh, Ini Alasannya

LHOKSEUMAWE – Tim Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe, Rabu, 16 Juni 2021, batal mengekspose di...

Begini Penjelasan PT Medco Soal Pasokan Gas ke PT PIM

LHOKSEUMAWE – PT Medco E&P Malaka (Medco E&P) sedang melakukan melakukan pemeliharan dan ramp...

Uniki Jalin Kerja Sama dengan PLN, Ini Kata Prof. Apridar

BIREUEN –Universiats Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan PLN UP3 Cabang Lhokseumawe menjalin kerja sama...

Berhenti Beroperasi Akibat Terkendala Pasokan Gas, Ini Kata PIM Soal Pupuk Subsidi

LHOKSEUMAWE - PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) berhenti beroperasi sudah hampir satu bulan akibat...

Harga Jahe dan Pisang Anjlok di Putri Betung, Ini Kata Petani

BLANGKEJEREN - Sejumlah petani di Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, mulai kebingungan menjual...

Pemko Subulussalam MoU dengan Universitas Indonesia

SUBULUSSALAM - Wali kota Subulussalam H. Affan Alfian Bintang, S.E melakukan penandatanganan Memorandum of...

Warga Lhoksukon Amankan Piton di Kandang Bebek

ACEH UTARA - Seekor satwa liar jenis ular piton atau sanca diamankan warga Gampong...

‘Belum Ada Regulasi Harus Tunjukkan Surat Bukti Sudah Divaksin Jika Berobat ke RS’

LHOKSEUMAWE - Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Kota Lhokseumawe menyatakan sampai saat ini...

Air Terjun Silelangit Subulussalam Destinasi Wisata Nominasi API 2021

SUBULUSSALAM - Destinasi wisata air terjun Silelangit yang terletak di Desa Singgersing, Kecamatan Sultan...

Telan Dana Rp2 Miliar, Menara Pandang dan Rest Area Agusen tak Difungsikan

BLANGKEJEREN - Kondisi proyek menara pandang dan sejumlah bangunan di Rest Area Agusen, Kecamaatan...

Sebait Sapardi

Karya: Taufik Sentana Penyuka prosa kontemporer. Menulis puisi, ulasan, dan esai. Ia adalah sebait tuah Tentang bagaimana...

Zona Merah Covid-19 di Aceh Meluas ke Pidie dan Aceh Tengah

BANDA ACEH — Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Coronavirus Disease 2019 (covid-19) Nasional kembali mengoreksi...

Creator Youtube Ini Bantu Sepeda Motor untuk Anak Yatim di Aceh Utara

ACEH UTARA - Salah seorang anak yatim bernama Hayatun Asniar (15), warga Gampong Keude...

Terkait Pupuk Subsidi Dijual di Atas HET, Polres akan Periksa Ahli

BLANGKEJEREN - Polres Gayo Lues terus mendalami dan memeriksa saksi-saksi terkait dugaan penjualan pupuk...