Beranda News Kisah Sukses Sabriandi Honorer yang Beralih jadi Petani Jagung

Kisah Sukses Sabriandi Honorer yang Beralih jadi Petani Jagung

0
Sabriandi di kebun jagungnya yang siap panen @Anuar Syahadat

BLANGKEJEREN – Sebagai tenaga honorer di Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Gayo Lues, pendapatan Sabriandi hanya pas-pasan untuk menghidupi istri dan satu anaknya. Kebutuhan hidup yang semakin hari semakin banyak, membuat pria kelahiran 15 Maret 1984 itu memikirkan cara lain untuk memperoleh pendapatan tambahan.

Bermodal pengalamannya bertani jagung di Aceh Tenggara, Sabriandi memberanikan diri menyewa lahan terlantar milik penduduk. Kini lahan terlantar milik warga yang disewa semakin luas, dan jagung yang ditanamnya sudah hampir panen lagi.

Baca Juga: Kisah Sukses Yani, Pebisnis Pakaian dengan Omset Miliaran.

Seperti Jumat, 19 Februari 2021 kemarin, ayah satu anak itu tampak tergesa-gesa menuju kebun di bawah terik matahari.  Ia ingin melihat jagung yang ditanam empat bulan lalu di kawasan Lempuh, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Ia terlihat senang, usahanya tidak sia-sia.

“Alhamdulilah sudah mulai kering buahnya. Sebelum merantau ke Gayo Lues, tahun 2000 lalu saya pernah menanam jagung di Aceh Tenggara, hasilnya lumayan juga, tapi lebih banyak hasil menanam jagung di Gayo Lues, di sini tanahnya sangat subur ,” ungkapnya.

Sabriandi awalnya tak menyangka ia akan sukses menjadi petani jagung di Gayo Lues. Pada tahun 2005 lalu ia merantau dari Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara ke Kabupaten Gayo Lues. Untuk menopang hidup ia hanya mengandalkan penghasilan dari pekerjaannya sebagai tenaga honorer di pemerintahan.

Baca Juga: Muhammad Nazar Raih Penghargaan Inspiring Innovative Professional.

Sebelumnya, saat masih lajang, Sabriandi sudah berniat inggin menanam jagung di daerah Kecamatan Blangkejeren, tetapi terkendala tidak memiliki lahan dan tidak berani menyewa lahan warga.

Baru pada tahun 2010 ia memberanian diri menyewa lahan milik warga di desa Palok. Dari sana ia mulai merintis usaha taninya. Setelah berkeluarga, ia memperluas lahan yang disewa dari masyarakat. Atas dorongan istrinya, Sabriandi semakin bersemangat bertani, dari 5 kilogram bibit jagung yang ditanamnya di lahan sewa, ia memperoleh hasil panen sampai 4 ton jagung kering dengan harga jual Rp 3.000 per kilogram.

Setelah itu ia pun memberanikan diri memperluas lagi lahan yang disewa dari masyarakat. Ia mendatanggi pemilik kebun yang lahannya dibiarkan terlantar,  kemudian menyewanya dengan harga yang pantas. Untuk satu hektar lahan ia sewa Rp5 juta per tahun, dengan target bisa dua kali panen.

“Terakhir saya panen pada bulan September 2020 lalu, itu luas jagung yang saya tanam 2 hektar lahan, hasilnya ada 17 ton jagung dengan harga Rp 3 ribu per kilogram, jika ditotalkan penghasilannya sekitar Rp 51 juta,” katanya sambil tersenyum.

Baca Juga: 20 Desa di Gayo Lues Rawan Penyalahgunaan Narkoba.

Menanam jagung kata Sabriandi, petani harus benar-benar bisa memperkirakan cuaca dan menghindari panen bersamaan dengan petani jagung di tanah Karo, Sumatera Utara, jika kedua itu bisa diprediksi, maka hasil menanam jagung selama empat bulan akan bagus.

“Jagung yang sekarang ini sudah berumur 4 bulan, ini luasnya 2,5 hektar, target saya hasil panenya di atas 20 ton Insya Allah. Dan semua lahan ini saya sewa dari warga,” jelasnya.

Sabriandi mengajak masyarakat Gayo Lues untuk mengubah nasih sendiri dengan memafaatkan lahan yang ada, jangan sampai tanah subur di Gayo Lues dibiarkan terlantar.

“Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, saya rasa masyarakat sudah harus berpikir, dan menguranggi waktu yang terbuang sia-sia. Tanah di Gayo Lues ini sangat subur, tinggal memanfaatkanya dengan baik, maka lahan itu akan menghidupi dan memenuhi kebutuhan kita,” pungkasnya.[]

Tinggalkan Balasan