27.9 C
Banda Aceh
Selasa, April 20, 2021

Anggota TACB Yusri Ramli Tolak Proyek IPAL Gampong Pande Dilanjutkan, Ini Alasannya

BERITA DAERAH

BANDA ACEH – Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Banda Aceh, Yusri Ramli, secara tegas menolak kebijakan pemerintah melanjutkan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Gampong Pande dan Gampong Jawa. Dia menilai keputusan Pemko Banda Aceh merekomendasikan kepada Kementerian PUPR melanjutkan kembali pembangunan IPAL itu merupakan tindakan ceroboh.

“Saya menilai Pemko Banda Aceh keliru, ceroboh dan terlalu memaksakan dalam mengambil keputusan dalam melanjutkan pembangunan IPAL di Gampong Pande dan Gampong Jawa,” ujar Yusri Ramli akrab disapa Ayi kepada portalsatu.com, Senin, 1 Maret 2021, malam.

Baca juga: Wali Kota Banda Aceh Surati Menteri PUPR: Lanjutkan Proyek IPAL di Gampong Pande

Ayi mempersoalkan Pemko Banda Aceh mencatut TACB dalam surat Wali Kota nomor: 660/0253, tanggal 16 Februari 2021, perihal lanjutan pembangunan IPAL Kota Banda Aceh, ditujukan kepada Menteri PUPR c/q. Dirjen Cipta Karya, di Jakarta. Pasalnya, kata dia, Pemko Banda Aceh hanya melibatkan dua orang dari TACB saat rapat pengambilan keputusan itu.

“Tidak ada pemberitahuan undangan rapat ke Group WhatsApp TACB untuk pengambilan rekomendasi lanjutan pembangunan IPAL. Memang ada anggota yang hadir dua orang, tapi saya tidak mengetahui dari mana mereka dapat undangan itu, dan anggota TACB yang hadir ini tidak bermusyawarah dengan semua anggota TACB. Sehingga rekomendasi dalam surat Wali Kota yang sudah diberitakan itu bukan atas dasar keterlibatan TACB atau hasil musyawarah TACB keseluruhan,” ungkap Ayi.

Menurut Ayi, seharusnya anggota TACB yang hadir dalam rapat itu bermusyawarah terlebih dahulu dengan seluruh tim TACB. “Apa butir-butir rapat kalau mau mencatut nama TACB keseluruhan, karena tim kami tujuh orang, sedangkan yang hadir dua orang. Jadi, pihak Pemko Banda Aceh menganggap mewakili. Padahal, pada kasus IPAL pertama itu, pengambilan keputusan atas dasar rapat keseluruhan TACB baru bisa diambil rekomendasi. Sekarang muncul kontroversi di tengah masyarakat, seolah-olah TACB mengeluarkan rekomendasi untuk pembangunan IPAL di Gampong Pande. Saya atas nama anggota TACB tidak terima akan keputusan tersebut,” tegasnya.

Dia mengungkapkan beberapa pertimbangannya sebagai anggota TACB menolak proyek IPAL di Gampong Pande dan Gampong Jawa dilanjutkan. “Pertama, karena di kawasan itu terdapat benda cagar budaya, nisan-nisan yang sudah berumur ratusan tahun. Dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 jelas disebutkan benda berusia 50 tahun atau lebih itu wajib dilindungi. Secara etika arkeologi, ketika ditemukan benda arkeologi atau situs sejarah, segala proyek atau kegiatan yang merusak situs sejarah itu harus dihentikan,” ungkap Ayi.

Pertimbangan kedua, kata Ayi, mengingat sakralnya bagi masyarakat Aceh dalam pemeliharaan makam-makam indatu. “Sebelum IPAL itu dibangun, jelas bahwa Gampong Pande dan Gampong Jawa adalah kawasan area inti dari berbagai peristiwa sejarah, dibuktikan dengan ditemukannya benda-benda peninggalan sejarah. Dalam catatan sejarah, wilayah Gampong Pande memiliki peran penting dan strategis sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Aceh. Sesuai dengan namanya, pada masa kejayaannya wilayah tersebut adalah tempat para pandai besi, pabrik senjata, dan pusat aktivitas ekonomi kerajaan,” ujarnya.

“Seharusnya pemerintah menjaga dan merawatnya, bukan malah merusaknya. Karena seperti yang kita tahu bahwa Kota Banda Aceh hari ini dinobatkan sebagai Tuan Rumah Kota Pusaka. Seharusnya Kota Pusaka itu menjadi contoh untuk kota lain agar menjaga sejarah, bukan malah pemerintah sendiri yang merusaknya. Apalagi di tempat itu ada makam-makan raja-raja Aceh, dan ulama Aceh Darussalam,” tutur Ayi.

Lihat pula: Wahai Penguasa, Sejarawan Annabel Gallop Bilang Bukti Menghargai Sejarah Bangsa Penyelamatan Gampong Pande

Ironisnya lagi, kata Ayi, dalam surat rekomendasi kepada Kementerian PUPR, Pemko Kota Banda Aceh mengakui bahwa kawasan itu adalah peninggalan sejarah dan jelas terdapat benda cagar budaya. “Tetapi mereka tetap meminta melanjutkan proyek IPAL di kawasan tersebut dengan alasan bahwa yang ada di sana bukan makam raja”.

“Yang harus kita tahu semua, berdasarkan penelitian saya di kawasan kompleks dibangunnya IPAL itu, kuburan dan makam yang kita dapat adalah kuburan tipologi batu Aceh Darusalam. Nisan yang ada di kompleks IPAL itu sama persis dengan makam yang ada di Gampong Jawa, yaitu makam Syah Bandar Muktabar Khan, beliau adalah penanggung jawab kemaritiman Kerajaan Aceh Darussalam abad ke-18,” ungkap Ayi.

Ayi melanjutkan, tidak jauh dari kompleks IPAL itu pihaknya menemukan makam raja, ulama dan tokoh-tokoh penting pejabat Kerajaan Aceh Darussalam. “Dari itu semua terbukti bahwa kawasan Gampong Pande memiliki peran penting dan strategis sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Aceh dulu”.

“Kami dulu pernah menyarankan agar kawasan tersebut dijadikan laboratarium penelitian sejarah, bukan untuk pembangun IPAL yang bisa menjatuhkan marwah bangsa Aceh,” pungkas Ayi.[]

(Zulfikri)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Perkemahan Penghafal Alquran di Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe Dibuka

LHOKSEUMAWE - Perkemahan Tahfidz Gerakan Pemuda Rihlah Shaum (PETA GPRS) ke-5 dan Daurah Ramadhan...

Pimpinan DPRK Surati Bupati, Kisruh Penetapan Komisioner Baitul Mal Gayo Lues Berakhir

BLANGKEJEREN - Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Gayo Lues sudah melayangkan surat kepada...

Polisi Buru Tersangka Penganiayaan Ibu Rumah Tangga di Dewantara

ACEH UTARA - Polsek Dewantara, Aceh Utara, memburu pria berinisial D (24), diduga melakukan...

Ikamat Harap Dukungan Pemerintah Aceh

ISTANBUL - Pengurus Ikatan Masyarakat Aceh - Turki (Ikamat) menyampaikan apresiasi dan terima kasih...

Rintihan Putri Kamaliah, Putri Pahang dibalik Puing-Puing Kehilangan

Karya: Jamaluddin Peminat Sastra, Lhokseumawe. Perhiasan ini telah berdebu Rinduku takkan pernah lekang Apa yang telah terjadi Duhai Pemilik...

Rapat IPAL di Kantor Ombudsman Aceh, Ini Pandangan Mapesa

BANDA ACEH - Ombudsman RI Perwakilan Aceh melaksanakan rapat tentang Instalasi Pembuangan Air Limbah...

Kereta dan Kota Emas Firaun Ditemukan, Tongkat Nabi Musa Dicari

Heboh penemuan Kota Emas berusia 3.000 tahun yang digadang-gadang peninggalan kerjaan Firaun melengkapi penemuan...

Anggota Dewan Gayo Lues ‘Dinonaktifkan’, Ini Surat Ketua DPRK

BLANGKEJEREN - Masyarakat Kabupaten Gayo Lues yang hendak berurusan atau menjumpai Anggota Dewan Perwakilan...

Operasi Senyap Kopassus Jalan Kaki Ratusan Km saat Puasa di Rimba Kalimantan

Puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh seluruh umat Islam. Selama...

Akhlak Calon Suami Antarkan Nadya Jadi Mualaf

Nadya Noviena, yang saat ini berusia 24 tahun, wanita yang baru saja memeluk Islam...

Bintang Borong Takjil Perpena, Bagikan kepada Abang Becak

SUBULUSSALAM - Lapak pedagang takjil menyediakan menu berbuka puasa milik  Persatuan Pemuda Penanggalan (Perpena)...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 4

KAPTEN LET PANDE Episode 4 - Cerita Bersambung - Novel Serial Karya: Thayeb Loh Angen Setelah matahari...

Pemilik Tanah di Areal Waduk Keureuto Datangi BPN Aceh Utara Terkait Persoalan Ini

ACEH UTARA - Sejumlah pemilik tanah sah yang berada di Gampong Blang Pante, Kecamatan...

Perang Aceh-Portugis Dalam Lukisan Maestro Delsy Syamsumar

Memasuki ruang kontemporer Museum Aceh, Rabu, 14 April 2021 lalu, 28 lukisan dari para...

Putra Subulussalam ini Wakili Aceh jadi Anggota Paskibraka di Istana Negara

SUBULUSSALAM - Kota Subulussalam, patut berbangga hati, dua putra putri terbaik di Bumi Syekh...

Anak 8 Tahun Diculik di Prancis, Penyelamatannya Mirip Operasi Militer

Seorang anak perempuan delapan tahun asal Prancis diselamatkan di Swiss kemarin setelah lima hari...

2 Kasat dan 2 Kapolsek Diganti, Ini Kata Kapolres Gayo Lues

BLANGKEJEREN - Empat perwira di jajaran Polres Kabupaten Gayo Lues digantikan dengan yang baru...

Mengenal Struktur Tulang Belakang dan Fungsinya

Tulang belakang memiliki peran penting dalam menopang tubuh manusia. Dengan mengenali struktur tulang belakang,...

Kisah Putri Tanjung Jatuh Bangun Jalani Bisnis Sejak Usia 15 Tahun

Putri Indahsari Tanjung dikenal dengan Putri Tanjung, adalah anak pertama dari Chairul Tanjung. Menjadi...

Ratusan Petani Jagung Gayo Lues Sulit Tebus Pupuk Subsidi, Pemda Diminta Ambil Tindakan

BLANGKEJEREN - Petani jagung di Kabupaten Gayo Lues mengaku kesulitan menebus pupuk subsidi dari...