27 C
Banda Aceh
Selasa, Mei 11, 2021

Dilema “Lawan Covid-19” Pengungsi Rohingya Aceh

BERITA DAERAH

Pengungsi Rohingya diharuskan disiplin menerapkan protokol kesehatan demi terhindar dari infeksi Covid-19. Namun, masyarakat Aceh yang tinggal di sekitar shelter justru abai dengan protokol kesehatan termasuk enggan memakai masker.

Dua mobil ambulans masuk ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kuta Blang, Lhokseumawe, Aceh, pada September 2020 lalu. Petugas dengan alat pelindung diri (APD) menurunkan dua peti jenazah dari ambulans tersebut. Salah satu peti berisi jasad milik Senowara, 19 tahun, pengungsi Rohingya.

Senowara dikuburkan bersama petinya dengan protokol penanganan coronavirus disease (Covid-19). Lelaki ini disinyalir terinfeksi virus korona karena sebelum meninggal sempat mengalami sesak napas dan demam tinggi.

Senowara merupakan pengungsi ketiga yang meninggal di Lhokseumawe. Beberapa hari sebelumnya, Hilal (22 tahun) dan Nur Khalimah (21 tahun) juga meninggal setelah mengalami keluhan yang sama.

Hilal dan Senowara sempat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM) Aceh Utara sebelum meninggal. Sedangkan Nur Khalimah meninggal di kamp penampungan sementara di atas kasur lipat dan dikelilingi rekan-rekannya.

Pada waktu bersamaan, empat pengungsi Rohingya lainnya dirawat di RSUCM. Semuanya mengeluh sesak napas dan mengalami demam tinggi.

Meski meninggal dengan keluhan mirip gejala infeksi Covid-19, Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) dan Pemerintah Lhokseumawe yang mengurus pengungsi meyakini ketiganya meninggal akibat kelelahan.

Pemerintah bahkan mengklaim sudah menangani pengungsi tersebut dengan baik. “Penanganan sudah dilakukan maksimal oleh tim dan relawan yang ada,” ujar Ketua Satgas Penanganan Rohingya, Ridwan Jalil, pada jurnalis, usai proses pemakaman jasad Senowara.

Sebanyak 400 pengungsi Rohingya terdampar di perairan Aceh sejak September tahun lalu. Saat baru tiba, pemerintah Aceh bekerja sama dengan UNHCR melakukan rapid test untuk memastikan mereka tidak membawa Covid-19.

Meski dalam kondisi lemah dan lelah, tidak ada satupun awak Rohingya yang dinyatakan reaktif Covid-19. “Alhamdulillah semuanya nonreaktif,” ujar Said Alam Zulfikar, Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe.

Ada Sosialisasi Soal Covid-19 Untuk Pengungsi

[Muhammad Ismail, pengungsi Rohingya yang datang dari Malaysia untuk menemui istrinya. Ismail senang mengikuti pelajaran bahasa Inggris bersama relawan di Shelter Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe, Aceh. Foto: Zulfikar Husein]

Muhammad Ismail (24 tahun) bersama istrinya Hasina (19 tahun) sedang menyantap makan siang. Pasangan suami istri yang merupakan pengungsi etnis Rohingya ini menempati salah satu bangunan bilik keluarga yang disediakan di lokasi penampungan.
Makan siang Ismail cukup sederhana: nasi putih dengan sayur kangkung.

Ismail adalah pria yang cukup ramah. Ia merupakan pengungsi Rohingya datang dari Malaysia ke Aceh demi menemui istrinya yang terdampar pada gelombang pertama pengungsi Rohingya Juni 2020 lalu.

Pria bisa berbahasa Melayu ini bercerita ia terpisah dengan istrinya sudah cukup lama. Ismail meninggalkan negara asalnya, Myanmar pada 2013. Ia, istri dan keluarga lainnya berangkat secara terpisah. Ismail tiba di Malaysia, sementara istri, ayah, dan ibunya menuju Kamp Cox’s Bazar, Bangladesh.

Ia mengaku membayar 10 ribu Ringgit Malaysia kepada agen untuk membawa istrinya ke Malaysia. Namun, kapal yang membawa rombongan istrinya justru terdampar di perairan Aceh. “Saya bayar 10 ribu (Ringgit), kalau tak bayar tak boleh naik boat,” ujarnya pada wartawan akhir Maret lalu.

Selama berada di kamp, Ismail kerap mendapatkan sosialisasi terkait protokol kesehatan untuk mencegah infeksi Covid-19. Ia mengaku tahu adanya Covid-19 dan diajarkan cara menghindarinya.

“[Soal] Covid-19 tahu. Kami disuruh pakai masker, menutup mulut saat bersin, cuci tangan dan tidak boleh dekat-dekat,” kata Ismail sambil memperagakan cara mencegah tertular virus dengan bahasa Melayunya yang masih terbata.

Menurut Ismail, selama berada di shelter BLK Lhokseumawe, ia merasa cukup aman. Seluruh anggota keluarga tidak pernah mengalami sakit dan mendapatkan bantuan yang cukup dari pemerintah dan masyarakat.

“Di sini bagus, ada dapat bantuan makan, pakaian juga, tempat tinggal bagus,” katanya.

Meskipun sosialisasi tentang bahaya Covid-19 begitu massif di kalangan pengungsi Rohingya, situasi di kamp penampungan serta di sekitar lokasi penampungan tampak biasa saja.

Menurut warga, penerapan protokol kesehatan sudah tidak begitu ketat dilakukan di kawasan itu. “Sudah biasa saja sekarang ini,” ujar Sulaiman, salah satu warga.

Interaksi Tanpa Protokol Kesehatan

Dalam pantauan jurnalis di hari yang sama, tiga relawan pengungsi Rohingya tampak bersantai di sebuah warung kopi yang berada tak jauh dari lokasi penampungan Rohingya. Dua relawan pria terlihat tak mengenakan masker, sementara satu relawan wanita hanya mengaitkan maskernya di bawah dagu.

Masyarakat sekitar dan pengunjung warung kopi tersebut juga tidak ada yang menggunakan masker. Semua terlihat normal seperti biasa, seolah tidak ada pandemi dan mengabaikan peraturan pemerintah terkait penanganan Covid-19.

Tidak ada penerapan protokol kesehatan 3M: menjaga jarak, menggunakan masker dan mencuci tangan.

Sebuah becak membawa sejumlah barang menuju shelter penampungan Rohingya. Pengemudi becak tersebut tidak menggunakan masker dan bebas masuk ke dalam penampungan.

Seorang pria berpakaian sekuriti keluar dengan mengendarai sepeda motor juga tidak menggunakan masker.

Selang hampir setengah jam, seorang pengungsi Rohingya terlihat keluar dari kamp pengungsian. Pria tersebut menggunakan kemeja dan kain sarung serta tidak menggunakan masker. Ia terlihat membawa sebuah ponsel dan memasuki kedai untuk mengisi pulsa. Setelahnya ia kembali ke kamp seperti biasa.

Tidak lama kemudian, ketiga relawan sebelumnya bergegas dan memasuki ke lokasi pengungsian. Saat mendekati gerbang masuk, relawan tersebut menggunakan maskernya. Di pintu gerbang, seorang petugas menembakkan termometer untuk memeriksa suhu tubuh mereka, sebelum diperbolehkan masuk.

Pengunjung yang datang hanya diperiksa suhu tubuh, lalu diminta mengisi buku tamu. Tidak ada kewajiban untuk mencuci tangan atau imbauan menjaga jarak selama berada di lokasi demi mencegah penyebaran Covid-19.

“Sekarang ini memang sudah tidak ketat lagi terkait penerapan protokol (kesehatan) Covid-19. Kita juga tidak tahu mengapa, mungkin karena situasi di Aceh juga sudah jauh lebih baik dibanding saat awal-awal pandemi dulu,” ujar Muji, salah seorang relawan.

Menurut Muji, kondisi saat ini berbeda dengan ketika awal pandemi atau saat pertama Rohingya ditempatkan di BLK. Saat itu, penjagaan dan penerapan protokol kesehatan cukup ketat.

“Bahkan tidak semua orang diperbolehkan masuk, penerapan protokol kesehatannya cukup ketat,” katanya.

Meski begitu, relawan selalu berusaha menggunakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak dengan pengungsi.

“Kami juga terus mengingatkan mereka untuk menggunakan masker kalau keluar kamp, lalu waktu balik mereka harus cuci tangan,” tambahnya.

Hal yang sama tampak di lokasi sekitar kamp penampungan. Kondisi masyarakat sekitar juga sudah tidak terlalu taat pada protokol kesehatan. Pengungsi Rohingya cukup sering berinteraksi dengan warga mulai dari membeli rokok, mengisi pulsa hingga nongkrong di salah satu kedai kopi.

“Kalau Covid, kita nggak tahu. Kita bilang nggak ada, buktinya pemerintah masih ada data seperti kasus di Jakarta, di Jawa. Di Jawa mungkin karena intensitas orang keluar masuknya tinggi, tapi kalau di tempat kita tidak terlalu, kalau ada satu dua orang,” ujar salah seorang warga yang berjualan di dekat kamp pengungsian.

[Gura Ami, salah seroang Pengungsi Etnis Rohingya yang terdampar di Lhokseumawe, Aceh. Foto: Zulfikar Husein]

Terkait longgarnya penerapan protokol kesehatan di sekitar lokasi pengungsian, Kepala Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe, Said Alam Zulfikar mengatakan semuanya sudah diterapkan sesuai ketentuan.

“Sudah diterapkan, jaga jarak, pakai masker, mereka (pengungsi) jauh lebih mudah karena jumlah terbatas dan ditempatkan khusus. Mereka juga bukan pendatang baru, jadi boleh keluar dan berbaur dengan warga seperti biasa,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Program Rohingya IOM, Sonya Syafitri, mengatakan pihaknya menggandeng pemerintah daerah untuk penerapan protokol kesehatan.

“IOM, berkoordinasi dengan otoritas kesehatan setempat, telah menerapkan serangkaian tindakan pencegahan dan pengendalian penyebaran Covid-19 di BLK Lhokseumawe, Aceh. Ini termasuk sesi protokol kesehatan atau kebersihan, pemasangan fasilitas cuci tangan, penempatan tanda yang mendorong jarak sosial dan distribusi masker,” katanya.

Selain dengan Pemerintah Aceh, IOM juga melakukan kerja sama dengan dinas kesehatan dan rumah sakit-rumah sakit di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya untuk memastikan pengungsi dan pencari suaka di Indonesia termasuk Rohingya, disertakan dalam tindakan penanggulangan Covid-19.

Beberapa kegiatan yang dilakukan, kata Sonya, di antaranya upaya menjangkau kelompok di dalam masyarakat, khususnya kelompok pengungsi, secara berkelanjutan tentang pentingnya kepatuhan terhadap protokol Covid-19. Lalu modifikasi pemberian layanan sesuai dengan protokol Covid-19 yang berlaku, peningkatan tindakan pencegahan di dalam semua akomodasi pengungsi, serta pendistribusian masker dan perlengkapan kebersihan untuk pengungsi

Upaya Mendapatkan Vaksin

Hingga 11 April 2021, Aceh masih mengalami kenaikan kasus positif tujuh kasus. Namun, belum ada yang terkonfirmasi meninggal dunia. Sejak awal hingga saat ini, secara kumulatif kasus positif Covid-19 di Aceh tercatat mencapai 10.082 kasus. Sebanyak 1.538 di antaranya menjalani perawatan, 8.142 dinyatakan sembuh, dan angka meninggal dunia mencapai 402 kasus.

Lhokseumawe sendiri hingga 11 April kemarin, mencatat 2 penambahan kasus positif. Jumlah kumulatif kasus Covid-19 di Kota Gas itu mencapai 459 kasus. Sebanyak 417 di antaranya sudah sembuh, 25 orang masih dalam perawatan dan sebanyak 17 orang meninggal dunia.

Kadis Kesehatan Lhokseumawe, Said Alam Zulfikar, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum bisa memastikan apakah para pengungsi Rohingya akan mendapatkan vaksinasi atau tidak. Menurutnya, hingga pertengahan Maret, belum ada pembicaraan mengenai hal tersebut.

“Sampai hari ini program (vaksinasi Covid-19) ke sana belum, belum ada dan belum dibicarakan sama sekali,” ujar Said Alam Zulfikar, pada pertengahan Maret lalu.

Sejauh ini, kata Said, penanganan Covid-19 hanya sebatas penerapan protokol kesehatan di lokasi penampungan. Pihaknya juga menempatkan petugas di lokasi secara bergantian untuk membantu tim melakukan penanganan Covid-19.

Sementara itu, organisasi antarpemerintah di bidang migrasi tersebut masih mengupayakan untuk mendapatkan vaksin Covid-19. “Saat ini, IOM bekerja sama dengan UNHCR untuk terus mengadvokasi Pemerintah Indonesia untuk memasukkan pengungsi dan pencari suaka ke dalam program vaksinasi nasional,” ujar Sonya dari IOM. [](Zulfikar Husein)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Ustaz Tengku Zulkarnain Wafat, UAS Ucapkan Ini

Ustaz Tengku Zulkarnain berpulang ke Rahmatullah pada Senin, 10 Mei 2021 malam bertepatan hari...

Kukuhkan Pengurus MAA, Ini Pesan Wali Nanggroe

BANDA ACEH – Kepengurusan Majelis Adat Aceh masa bakti 2021-2026 secara resmi dikukuhkan oleh...

Kasus Covid-19 Bertambah 68 Orang di Aceh, Lima Meninggal Dunia

BANDA ACEH — Kasus konfirmasi baru Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 bertambah lagi 68...

Anggota DPRK Ini Borong Satu Ton Mentimun Kelompok Tani Tunes Ayu

BLANGKEJEREN - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Gayo Lues, Idris Arlem, memberikan apresiasi...

AKBP Carlie Jenguk Nek Ipah yang Hidup Sebatang Kara di Penampaan Uken

BLANGKEJEREN - Nek Ipah, warga Desa Penampaan Uken, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, butuh...

Masjid Syiah Kuala, Ikon Masyarakat Aceh di Kota Batam

Masjid merupakan salah satu tempat ibadah bagi kaum muslim. Selain digunakan sebagai tempat ibadah,...

Ramai Nasabah Tebus Emas di Pegadaian Lhokseumawe

LHOKSEUMAWE - Pihak Kantor Pegadaian Kota Lhokseumawe menyatakan sebagian besar nasabah menebus gadaian emas...

Pimpin Pengprov Woodball Aceh, Azwardi: Tantangan Berat!

BANDA ACEH – Dunia olahraga Aceh kini kembali diramaikan dengan kehadiran satu cabang baru,...

12 Tahun Jarang Pakai Seragam, Jenderal Ini Bisa Jadi Panglima TNI

Tak sembarangan perwira bisa menduduki kursi Panglima TNI. Selain harus punya jiwa kepemimpinan yang...

Terinspirasi Mohamed Salah, Ben Bird Masuk Islam

LONDON -- Pesepak bola Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, telah memberikan pengaruh positif di...

Alhamdulillah, KNPGL Beli Mentimun Kelompok Tani Tunes Ayu

BLANGKEJEREN - Kelompok Tani Tunes Ayu Desa Raklintang (Bemem Buntul Pegayon), Kecamatan Blangpegayon, Kabupaten...

Mohon Dibaca, Warning Elon Musk Soal Kripto

Uang kripto memang sedang naik daun. Salah satu orang terkaya dunia, Elon Musk bahkan Namun...

Setelah Didalami, BPKP Aceh: Kerugian Negara Kasus Proyek Jalan Muara Situlen-Gelombang di Agara Rp4 M Lebih

BANDA ACEH – Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Aceh menyampaikan informasi terbaru...

Bermimpi Dibawa ke Masjid oleh Orang Bersurban Putih, Hasballah Silitonga Masuk Islam

BANDA ACEH - Hasballah Silitonga adalah laki-laki kelahiran Sawit Hulu, Kecamatan Sawit Seberang, Kabupaten...

Mualaf Renate Minta Dimakamkan di Turki Secara Islam

TRABZON -- Renate (83 tahun) meninggal baru-baru ini dan pada akhirnya dimakamkan di distrik...

Jelang Lebaran Pabrik Turunkan TBS, Apkasindo Perjuangan: Praktik Kotor Pengusaha Zalim

SUBULUSSALAM - Wakil Ketua DPP Asosiasi Petani Kelapa Indonesia Apkasindo (Apkasindo) Perjuangan, Subangun Berutu...

Lansia Terima Bantuan Sembako dari Komunitas XTrim Subulusalam

  SUBULUSSALAM - Sejumlah warga lanjut usia (lansia) dan masyarakat kurang mampu di wilayah Kecamatan...

Remaja Masjid Islamic Center Lhokseumawe Gelar Perlombaan Daurah Ramadhan

LHOKSEUMAWE - Remaja Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe menggelar perlombaan 0pada rangkaian penutupan kegiatan...

Polisi Bubarkan Pemasang Petasan di Balai Musara

BLANGKEJEREN - Dua anggota polisi Polres Gayo Lues membubarkan anak-anak dan remaja yang memasang...

HUT ke-59 Korem 011/Lilawangsa, TNI Bagikan Sembako untuk Kaum Duafa

LHOKSEUMAWE - Korem 011/Lilawangsa membagikan sebanyak 200 paket sembako untuk kaum duafa di Lhokseumawe,...