27.2 C
Banda Aceh
Rabu, April 21, 2021

Ando dan Sen Harapan untuk Kaum Miskin

BERITA DAERAH

Tulisan ini terinspirasi dari judul buku Amartya Sen, Masih Adakah Harapan Untuk Kaum Miskin. Peraih nobel bidang ekonomi tahun 1998 yang karya-karyanya menyoroti kehidupan kaum urban.

Hidup ini bukanlah pilihan, melainkan keharusan untuk berusaha. Pembaharuan hanya akan lahir dari sebuah usaha yang sungguh-sungguh. Dalam pemerintahan sebuah negara, berbagai kebijakan pun lahir untuk membantu si miskin, mencapai pembaharuan tersebut.

Namun sangatlah ironis, ketika bantuan yang disediakan untuk si miskin, ditilep dengan segala dalih untuk kepentingan si kaya. Tak perlu jauh-jauh, borok itu  ada di moncong hidung kita sendiri, suka tidak suka bau itu tercium juga. Saban hari berita korupsi menghiasi halaman media.

Maraknya korupsi di negeri ini semakin mempertegas mentalitas pemimpin kita yang lebih cenderung berminat dan tertarik untuk melindungi proses yang sistimatis, yang dalam proses tersebut mereka bisa menguasai alur mengalirnya dana publik, untuk tujuan memperbesar keuntungan pribadi, dari pada membela dan meningkatkan kesejahteraan kaum miskin.

Karena itu pula, selama ini berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah, hanya sampai di tingkat ekonomi menengah ke atas saja. Kaum miskin tidak pernah punya kekuasaan untuk membela kepentingan ekonomi mereka sendiri. Dan dari hari ke hari, jumlah penduduk miskin tetap saja mengalami penambahan dalam deretan angka-angka. Sejalan dengan itu angka pengangguran pun terus meningkat.

Membaca kisah masyarakat miskin, saya teringat pada Ando dan Sen, dua nama yang berhubungan dengan kaum urban. Bedanya, yang satu hidup dalam legenda Korea dan selalu bernasib sial, satunya lagi ahli ekonomi yang hidup dalam zaman moderen India, dan berhasil meraih hadiah nobel bidang ekonomi pada tahun 1998 karena kepeduliannya terhadap kaum miskin.

Dari sebuah cerita “Kisah Suara”  yang telah menjadi legenda di kalangan rakyat  Korea, tersebutlah seorang Ando, lelaki miskin yang selalu ketiban sial dalam hidupnya. Untuk menghindari kesialan itu, ia berlari siang malam sejauh yang ia mampu. Dan akhirnya ia bertambah resah dan lelah sepanjang hari. Kemana pun ia pergi, nasib apes selalu menyertainya. Suatu ketika ia mendapatkan uang satu dolar, tetapi kemudian sepuluh dolar uangnya dirampok.

Keadaan Korea kala itu memang digambarkan hancur-hancuran. Ekonominya ambruk di bawah kepemimpinan sang diktator. Pemerintah tidak menghiraukan keberadaan kaum miskin. Melihat kondisi yang demikian terus berlangsung, maka tergeraklah hati Ando untuk memperjuangkan nasib kaum miskin. Ia berdiri di sebuah lapangan dan berteriak di depan orang banyak, “Sialan penguasa negeri ini dan terkutuklah mereka.”

Maka Ando pun kemudian ditangkap. Dia dimasukkan ke dalam penjara, kedua kaki dan tangannya dipotong. Dia dipenjara seumur hidup. Setiap ada orang yang menjenguknya, ia ungkapkan suara-suara kritisnya, suara yang membuat penguasa bergetar dan orang kaya gemetar.

Sementara itu Sen yang punya nama lengkap Amartya Sen, merupakan seorang ilmuwan yang punya perhatian yang sungguh-sungguh terhadap kaum miskin. Karya peraih nobel bidang ekonomi tahun 1998 ini, mencakup kasus-kasus sejarah kelaparan di India, Bangladesh, Ethiopia, dan negara-negara sub-Sahara Afrika.

Dari sanalah ia berhasil menemukan keterangan bahwa kelangkaan pangan ternyata bukan sebab utama kelaparan. Dia mengambil kesimpulan bahwa berbagai bencana kelaparan itu sesungguhnya bisa dicegah, seandainya ada kebebesan pers. Ternyata, setelah ada kebebasan pers sejak 1947, India tidak lagi mengalami peristiwa kelaparan yang berarti.

Menurut Sen, kebebasan bergantung pada determinan-determinan tertentu, misalnya pengaturan sosial-ekonomi. Seperti penyediaan fasilitas pendidikan, pemeliharaan kesehatan, demikian pula jaminan atas hak-hak sipil dan politik, seperti kebebasan untuk mengikuti diskusi publik dan pengawasan.

Selain itu, pemberantasan kemiskinan baru terwujud dengan adanya pemberantasan sumber-sumber utama ketidakbebasan, baik kemiskinan maupun tirani, peluang ekonomi yang sempit maupun perampasan hak-hak sosial yang sistematis, ketidakhirauan terhadap fasilitas publik maupun intoleransi dan kegiatan berlebihan dari negara yang represif.

Sen dalam tulisannya menjabarkan, kekurangan kebebasan yang subtansif itu berkaitan langsung dengan kemiskinan ekonomi, yang merampok rakyat dari kebebasannya untuk menolak kelaparan, mencapai nutrisi yang mencukupi atau memperoleh obat bagi penyakit, atau dapat menikmati air bersih dan fasilitas sanitasi. Karenanya, kegagalan pemberdayaan kaum miskin selama ini, lebih dominan disebabkan oleh prilaku pemimpin yang tidak accountable, yang membuat praktek korupsi semakin menggurita saja.

Pemimpin-pemimpin di negeri kita, bukanlah Corazon Aquino, yang sebelum menjadi presiden Philipina, telah menjadi tuan tanah besar di Provinsi Tarlac. Tapi sebagai tuan tanah, ia maklum, kalau masyarakat miskin yang tidak mempunyai lahan merupakan bom waktu yang setiap saat bisa meletus dan menumbangkan negerinya. Karena itu pula saat ia menjadi orang nomor satu di negerinya tersebut, ia begitu peka terhadap keberadaan kaum miskin. Aquino tentunya tidak ingin Ando dalam legenda Korea, si miskin yang mengumpat penguasa, lahir kembali di negerinya.

Lalu bagaimana pemimpin di negeri kita? Pemimpin-pemimpin di negeri kita kebanyakan, lebih cenderung sebagai sosok yang mencari kepuasan ekonomi dengan kekuasaannya. Bukan dengan ekonominya mencari kekuasaan. Nah. Dalam realitas yang demikian, akankah Ando-Ando sebagaimana yang ditoreh dalam legenda Korea lahir di negeri ini?

Tentunya kita berharap tidak, karena negeri ini sudah terlalu lelah dalam nestapa konflik berkepanjangan. Kita semua pasti mengharap di negeri ini banyak lahir Amartya Sen baru yang pro pada masyarakat miskin. Yang mengajarkan kita untuk tidak menerima kemiskinan sebagai sebuah nasib. Semoga.[]

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

BERITA POPULER

Berita Rekomendasi

Terbaru

Bazar Perpena, 100 Persen Keuntungan Disalurkan kepada Warga Kurang Mampu

SUBULUSSALAM - Ketua Persatuan Pemuda Penanggalan (Perpena) Kota Subulussalam, R Hidayat Putra Manurung mengatakan...

Pegawai Kejaksaan Gayo Lues Teken Komitmen Wilayah Bebas Korupsi

BLANGKEJEREN - Pegawai Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues melakukan penandatanganan komitmen bersama untuk mewujudkan...

Keuchik Diminta Pahami Permendes Terkait Penggunaan Dana Desa

BANDUNG – Para kepala desa (keuchik) diminta untuk memahami Peraturan Menteri Desa, Pembangunan Daerah...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 5

KAPTEN LET PANDE Episode 4 - Cerita Bersambung - Novel Serial Karya: Thayeb Loh Angen Dari atas...

Perkemahan Penghafal Alquran di Masjid Agung Islamic Center Lhokseumawe Dibuka

LHOKSEUMAWE - Perkemahan Tahfidz Gerakan Pemuda Rihlah Shaum (PETA GPRS) ke-5 dan Daurah Ramadhan...

Pimpinan DPRK Surati Bupati, Kisruh Penetapan Komisioner Baitul Mal Gayo Lues Berakhir

BLANGKEJEREN - Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Gayo Lues sudah melayangkan surat kepada...

Polisi Buru Tersangka Penganiayaan Ibu Rumah Tangga di Dewantara

ACEH UTARA - Polsek Dewantara, Aceh Utara, memburu pria berinisial D (24), diduga melakukan...

Ikamat Harap Dukungan Pemerintah Aceh

ISTANBUL - Pengurus Ikatan Masyarakat Aceh - Turki (Ikamat) menyampaikan apresiasi dan terima kasih...

Rintihan Putri Kamaliah, Putri Pahang dibalik Puing-Puing Kehilangan

Karya: Jamaluddin Peminat Sastra, Lhokseumawe. Perhiasan ini telah berdebu Rinduku takkan pernah lekang Apa yang telah terjadi Duhai Pemilik...

Rapat IPAL di Kantor Ombudsman Aceh, Ini Pandangan Mapesa

BANDA ACEH - Ombudsman RI Perwakilan Aceh melaksanakan rapat tentang Instalasi Pembuangan Air Limbah...

Kereta dan Kota Emas Firaun Ditemukan, Tongkat Nabi Musa Dicari

Heboh penemuan Kota Emas berusia 3.000 tahun yang digadang-gadang peninggalan kerjaan Firaun melengkapi penemuan...

Anggota Dewan Gayo Lues ‘Dinonaktifkan’, Ini Surat Ketua DPRK

BLANGKEJEREN - Masyarakat Kabupaten Gayo Lues yang hendak berurusan atau menjumpai Anggota Dewan Perwakilan...

Operasi Senyap Kopassus Jalan Kaki Ratusan Km saat Puasa di Rimba Kalimantan

Puasa Ramadhan adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh seluruh umat Islam. Selama...

Akhlak Calon Suami Antarkan Nadya Jadi Mualaf

Nadya Noviena, yang saat ini berusia 24 tahun, wanita yang baru saja memeluk Islam...

Bintang Borong Takjil Perpena, Bagikan kepada Abang Becak

SUBULUSSALAM - Lapak pedagang takjil menyediakan menu berbuka puasa milik  Persatuan Pemuda Penanggalan (Perpena)...

[Cerita Bersambung] KAPTEN LET PANDE: Episode 4

KAPTEN LET PANDE Episode 4 - Cerita Bersambung - Novel Serial Karya: Thayeb Loh Angen Setelah matahari...

Pemilik Tanah di Areal Waduk Keureuto Datangi BPN Aceh Utara Terkait Persoalan Ini

ACEH UTARA - Sejumlah pemilik tanah sah yang berada di Gampong Blang Pante, Kecamatan...

Perang Aceh-Portugis Dalam Lukisan Maestro Delsy Syamsumar

Memasuki ruang kontemporer Museum Aceh, Rabu, 14 April 2021 lalu, 28 lukisan dari para...

Putra Subulussalam ini Wakili Aceh jadi Anggota Paskibraka di Istana Negara

SUBULUSSALAM - Kota Subulussalam, patut berbangga hati, dua putra putri terbaik di Bumi Syekh...

Anak 8 Tahun Diculik di Prancis, Penyelamatannya Mirip Operasi Militer

Seorang anak perempuan delapan tahun asal Prancis diselamatkan di Swiss kemarin setelah lima hari...