Beranda Headline Aceh Hari Ini: Gerilyawan Aceh Menyaru Membunuh 16 Marsose

Aceh Hari Ini: Gerilyawan Aceh Menyaru Membunuh 16 Marsose

0
Kecelakaan kereta api di lintasan Meureudu - Samalanga pada masa kolonial @collectie tropenmuseum.

Perang kolonial Belanda di Aceh menyisakan banyak kisah. Kelicikan Belanda dibalas dengan kegesitan Aceh. Perang selama 69 tahun lebih dari cukup untuk menujukkan bahwa tak mudah untuk menaklukkan Aceh. Gerilayawan Aceh melakukan perlawanan dengan berbagai taktik perang.

Penulis Belanda HC Zentgraff dalam buku Atjeh terbitan Koninklijke Drukkerij De Unie, Batavia, mengakui kehebatan para pejuang Aceh dalam melawan pasukan marsose Belanda. Ia mencontohkan salah satu peristiwa di Meurandeh Paya, Aceh Utara.

Pada 26 Januari 1905, pasukan marsose Belanda yang dipimpin Sersan Vollaers melakukan patroli untuk memcari para pejuang Aceh. Karena kelelahan Vollaers dan pasukanya istirahat di Meunasah Meurandeh Paya.

HC Zentgraff menggambarkan Sersan Vollaers sebagai tentara yang sudah sangat berpengalaman dalam dalam patroli di wilayah Aceh, karena itu ia tidak melakukannya di malam hari. Setelah melakukan patroli sehari penuh, Vollaers dan pasukannya mencari tempat yang dianggap aman untuk beristirahat. Mereka beristirahat di Meunasah Gampong Meurandeh Paya yang halamannya cukup luas sehingga dapat digunakan untuk mendirikan tenda.

Pasukan Belanda itu istirahat di dalam tenda, sementara Vollaers istirahat di dalam meunasah sambil membaca buku. Karena merasa aman beristirahat di situ, mereka membiarkan orang-orang Aceh keluar masuk dalam perkarangan, termasuk ke dalam meunasah tempat pedagang buah-buahan, telur ayam, dan sejumlah makanan dan menawarkannya kepada pasukan Belanda tersebut.

Akan tetapi di balik semua itu, masing-masing “pedagang” itu dibekali dengan kelewang dan rencong. Setelah mereka masuk dan situasi memungkinkan, salah satu di antara mereka memberikan komando untuk menyerang. Dari 17 tentara Belanda hanya satu yang selamat setelah melarikan diri, 16 lainnya tewas dicincang dengan pedang. Tentang penyerangan di bivak itu, Zentgraaff menulis:

“Dengan suatu gerakan yang sangat cepat, semua orang Aceh yang ada di tempat itu memainkan kelewang dan rencongnya, menusuk dan menebas leher serdadu Belanda. Sasaran pertama adalah Vollaers sendiri yang sedang tidur-tiduran di dalam meunasah sambil membaca buku. Dari 17 orang pasukan Belanda itu, 16 orang tewas dan satu orang dapat melarikan diri melalui kampung menuju Lhokseumawe. Begitu mengetahui peristiwa itu, dengan satu pasukan militernya dan tergesa-gesa Kapten Swart segera menuju ke Meurandeh Paya. Tapi di sana yang mereka temukan tinggal 16 jenazah yang tercincang secara mengerikan. Mayat sersan Vollaers itu terdapat di atas meunasah dengan buku bacaan tergeletak di sampingnya.”

Belanda kemudian melakukan penyelidikan. Hasilnya diketahui bahwa penyerangan itu tidak dilakukan secara tiba-tiba, tapi sudah direncanakan jauh-jauh hari. Dan otak di balik serangan itu diyakini oleh Belanda adalah Teuku Chik Di Tunong, suami kedua Cut Mutia. []

.

Tinggalkan Balasan