Jumat, Juli 19, 2024

Rekomendasi HUDA Berisi 22...

BANDA ACEH - Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) mengeluarkan rekomendasi...

Lebih 170 Bangunan Rusak...

ACEH UTARA - Sebanyak 173 bangunan dilaporkan rusak akibat diterjang badai (hujan deras...

Inilah Struktur Lengkap Kepengurusan...

BANDA ACEH - Ketua Umum Majelis Syuriah Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh...

Samsul Azhar Dilantik sebagai...

BANDA ACEH - Pj. Gubernur Aceh, Bustami Hamzah, melantik Samsul Azhar sebagai Pj....
BerandaTemuan Anggota Dewan,...

Temuan Anggota Dewan, Penganan Berbuka Puasa Dijual Pukul 14.40 WIB

LHOKSEUMAWE – Anggota DPRK Lhokseumawe H. Jailani Usman, S.H., M.H., menemukan sejumlah pedagang menjual penganan berbuka puasa sebelum waktu salat Asar. Jailani menilai hal itu terjadi lantaran lemahnya kinerja Wilayatul Hisbah (WH) dalam melakukan pengawasan.

“Setelah salat Zuhur di Masjid Islamic Center tadi, saya sebagai wakil rakyat keliling ke sejumlah lokasi. Saya lihat, jam tiga kurang 20 (pukul 14.40 WIB) sudah banyak yang jual makanan untuk berbuka, seperti di Jalan Sukaramai dan Jalan Merdeka depan Bank BTN,” ujar Jailani kepada portalsatu.com melalui telepon seluler, sekitar pukul 16.20 WIB.

Jailani menjelaskan, sesuai seruan bersama Muspida termasuk Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Lhokseumawe, para pedagang dibolehkan menjual penganan berbuka puasa usai waktu salat Asar. “Artinya, jam empat lewat (pukul 16.00 WIB lewat) baru boleh, tapi yang saya lihat tadi jam tiga kurang 20 sudah banyak yang beli karena ada yang menjual,” katanya.

“(Yang dijual) makanan biasa seperti boh rom-rom, timphan dan makanan basah lainnya. Kalau makanan itu dibeli untuk dibawa pulang ke Krueng Geukueh (Kecamatan Dewantara, Aceh Utara), tentu tidak mungkin, karena di sana juga ada dijual makanan seperti itu pada sore hari,” ujar anggota DPRK dari Partai Golkar tersebut.

Jailani menyayangkan hal itu terjadi di Kota Lhokseumawe. “Ini menunjukkan maklumat Muspida plus tidak dikontrol oleh pemerintah terutama pihak WH, sehingga masyarakat melihat seperti ada ‘pembiaran’ terhadap pedagang makanan berbuka puasa yang berjualan sebelum waktunya. Kesucian bulan puasa tidak dijaga oleh Pemko Lhokseumawe. Ini berbeda dengan (Pemko) Banda Aceh yang secara tegas menyatakan jika ada pelanggaran seperti itu maka akan dicambuk,” katanya.[](idg)

Baca juga: