Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaTercatat 4.300 Penderita...

Tercatat 4.300 Penderita Kanker Serviks dan Payudara di Aceh pada 2016

BANDA ACEH — Kepala Dinas Kesehatan Aceh Hanif mengatakan, selama 2016 tercatat 4.300 daftar pasien yang melakukan pengobatan ke berbagai fasilitas kesehatan untuk mengatasi gejala kanker serviks dan kanker payudara.

Hal itu disampaikan Hanif dalam konferensi pers di Gedung TVRI Aceh bersama BPJS Banda Aceh, dan TP-PKK Aceh pada Senin, 23 Oktober 2017.

“Data pasti yang kita dapatkan dari hasil fase berobat. Ini yang tercatat ini hanya cuma yang datang ke tempat fasilitas kesehatan. Tahun kemarin 2016 tercatat, ada 4.300 kunjungan,” kata Hanif.

Semua yang datang, dikatakannya sudah positif terkena penyakit mematikan yang menyerang kaum hawa tersebut.

“Itu sudah positif, karena sudah berobat,” katanya.

Dia juga menambahkan, data tersebut juga diperkirakan dapat lebih besar lagi. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang tidak terdata disebabkan beberapa faktor.

“Artinya data itu belum tentu semua yang terkena kanker ini tercatat. Kalau dari hasil statistik atau hasil penelitian, Aceh itu 1,4 persen permil jumlah kanker keseluruhan. Belum ada perincian kanker serviks berapa, kanker payudara berapa, belum ada perincian berapa,” jelasnya.

“Tetapi jumlah ini (kanker serviks dan kanker payudara) lebih banyak di masyarakat. Karena ada juga masyarakat yang tidak berobat ke fasilitas kesehatan atau berobat ke luar negeri, itu kita tidak dicatat, atau berobat ke fasilitas kesehatan swasta,” jelasnya lagi.

Untuk tingkat pertama fasilitas kesehatan yang dapat melakukan deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara pada tingkat Puskesmas, dikatakan Hanif hanya baru 87 dari 340 Puskesmas. Sedangkan untuk rumah sakit dikatakannya sudah pasti bisa infates.

“Tentunya ini belum cukup, harus kita tambah. Seharusnya semua Puskesmas bisa. Tetapi kita terus berlatih, mudah-mudahan tahun depan kita berlatih lagi dan kita berharap semua Puskesmas bisa melakukan infates ini,” katanya.

“Kalau rumah sakit sudah pasti sudah bisa melakukan infates. Rumah sakit tipe D, tipe C, bahkan rumah sakit tipe A, itu sudah pasti bisa melakukan infates dan papsmear,” katanya lagi.

Banyaknya Puskesmas yang masih belum bisa melakukan infates diungkapkannya bukan hanya di daerah-daerah saja. Tetapi juga beberapa Puskesmas di kota yang belum mendapat pelatihan mendeteksi kanker serviks dan kanker payudara.

Jika ada masyarakat yang sudah sadar mengenai bahaya kanker serviks dan kanker payudara, infates dapat dilakukan secara gratis dan tidak mesti bulan ini.

“Tidak ada syaratnya, yang penting masyarakat Aceh 100 persen tercatat sebagai peserta JKN atau JKA. Tidak mesti terdaftar, belum terdaftar juga bisa. Hanya membawa KTP dan KK, langsung terdaftar,” ujarnya.[]

Baca juga: