Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaPeunutohBerdarmawisata ke Sabang...

Berdarmawisata ke Sabang Bersama Capella Honda Aceh

Berdarmawisata ke Sabang Bersama Capella Honda Aceh

Oleh: Thayeb Loh Angen
Jurnalis Portalsatu.com, Penyair dari Sumatra.

“Kami duduk dikursi atas lantai kayu, dikelilingi air, beratap langit berbintang, diterpa angin laut malam.”

Berdarmawisata ke Sabang bersama Capella Honda Aceh. Ini adalah acara rutin dilaksanakan setahun sekali, dengan tempat tujuan berbeda.

Pagi itu, Rabu, 5 Juni 2024. Matahari terlihat dari celah daun cemara pingggir jalan di tepian Krueng Aceh. Setelah melaksanakan kebiasaan pagiku, aku menuju Pelabuhan Penyeberangan Banda Aceh-Sabang, Ulee Lheue.

Hari itu, aku mengikuti rombongan Capella Honda Aceh, yang dipimpin oleh Public Relations (PR) Main Dealer Capella Honda Aceh, Khairun Nisa, akrab disapa Yana.

Sesampai di Pelabuhan, Yana dan timnya, seorang pemuda dan seorang pemudi, telah menunggu bersama beberapa rekan dari video blogger (vlogger) dan rekan dari media.

Kami menunggu beberapa orang yang tengah menuju pelabuhan. Ada empat belas orang semuanya.

Kapal ke Sabang

Sekira pukul 8:00 WIB, kami sudah berada di dalam “kapal lambat”, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Aceh Hebat 2. Kapal ini berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, ke Pelabuhan Balohan, Sabang, berjarak tempuh sekira 16 mil atau sekira 30 kilometer. Kecepatan rata-rata 11 knot atau 20, 3 kilometer per jam.

Kendaraan-kendaraan roda dua, roda empat dan lebih, berbaris rapi memenuhi geladak dasar, ruang bawah. Para penumpang berjalan di celah dinding kapal dan kedaraan yang semua mesinnya dipadamkan, menuju tangga ke lantai penumpang di geladak antara dan geladak utama.

Beberapa saat kemudian, petugas di pelabuhan melepaskan tali sauh, pintu kapal ditutup. Kapten mengumumkan kapal berangkat di pagi itu. Di dalam kapal, pengunjung terlihat memenuhi bangku. Kami memilih duduk di barisan bangku di ruangan tengah.

Sebagian penumpang berada di lantai atap kapal, membiarkan diri mereka diterpa angin laut dan disengat sinar dari langit pagi. Matahari bertahta di langit timur, berkuasa sendirian di angkasa atas laut.

Perjalanan pada pagi itu berjalan lancar sesuai harapan. Tidak ada penumpang yang muntah atau menderita di dalam perjalanan itu. Sekira satu jam empat puluh menit setelahnya, kapal yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, dengan menempuh jarak sekira enam belas mil atau sekira tiga puluh kilometer, itu pun tiba di Pelabuhan Balohan, Kota Sabang, dengan selamat.

Kami pun turun bersama ratusan penumpang lainnya. Walaupun penumpang penuh, tidak ada yang berdesakan.

Air Terjun Pria Laot

“Selamat datang di Sabang,” kata Yana.

Kami menuju tiga mobil minibus warna hitam yang telah disediakan di tempat parkir pelabuhan. Perjalanan darat pun berlangsung dengan tenang.

Setelah beberapa puluh menit melintasi jalan utama Pulau Weh, kami pun melintasi jalan yang jarang dilalui kendaraan di tepian bagian Selatan Pulau Weh. Tempat pertama yang dituju adalah Air Terjun Pria Laot, Gampong (Desa) Batee Shoek, Kecamatan Sukakarya, Kota Sabang, Aceh.

Setelah sekira setengah jam berkendara dari Pelabuhan Balohan, rombongan kami pun sampai di lekuk tebing antara dua bukit, tempat letak kendaraan menuju air terjun. Kami berjalan kaki sejauh sekira satu kilometer di pebukitan hutan lindung itu sehingga tibalah di Air Terjun Pria Laot.

Jalan setapak agak mendaki. Gemericik air, desau dedaunan, kicau burung, terdengar dari sumbernya, alam liar yang dilindungi. Kami berada di hutan lindung. Di  sana tidak terdengar hiruk pikuk kota, tidak pula suara deru mesin.

Kami kembali ke alam sejenak, mendengarkan secara seksama, menghayati suara-suara dan aroma asli hutan. Batu besar, dedaunan kering dan reranting berserakan, tanah lembab, dan semak belukar di tebing curam.

Beberapa orang di antara kami ada yang ikut mandi di kolam dangkal tempat terjatuhnya air terjun setinggi sekira lima belas meter itu bersama beberapa orang anak setempat. Sebagian lagi, sepertiku, hanya melihat-lihat pemandangan dan merasakan hawa sejuk pegunungan.

Setelah merasa cukup menikmati sejuknya air terjun, kami menuruni lagi jalan di antara himpitan bukit itu, menyusuri jalan setapak, sampai di tempat letak kendaraan.

Berjalan kaki sejauh itu cukup membuat tubuh kami memanas dan mengeluarkan keringat. Kami memasuki kendaraan kembali seraya mengistirahatkan badan.

Tugu Nol Kilometer

Kendaraan pun melaju menuju sebuah tempat makan dan penginapan, yang terletak di sisi selatan Pulau Weh. Kami makan siang dan salat Zuhur di sana. Itu sejalur dengan arah Gua Sarang, Tugu Nol Kilometer, yang kami tuju setelahnya. Ketika tiba di depan jalan menuju Gua Sarang, tidak ada seorang pun yang berninat turun.

Tugu Nol Kilometer. Gathering Media dan Vlogger Capella Honda Aceh, 5-6 Juni 2024, di Sabang. @Capella Honda Aceh

“Olahraga pagi kami rasakan sudah cukup saat ke air terjun tadi.”

Kendaraan terus melaju. Jalanan sepi. Jarang terlihat kendaraan lain melintas di sana. Setelah beberapa puluh menit, kami sampai di Tugu Nol Kilometer. Setelah berfoto bersama, Yana mengajak kami duduk makan rujak Aceh di kedai kayu, yang menghadap samudra raya di bawah ujung bukit Iboih berkerangka batu gunung penahan tugu.

Penginapan Dekat Pulau Rubiah

Setelah makan rujak dan lainnya di terpaan semilir angin laut itu, Yana pun mengajak kami menunju penginapan. Itu sebuah bangunan berlantai tiga, di tebing bukit turunan tugu, sebuah penginapan yang menghadap air bening tempat snorkeling, menghadap Pulau Rubiah. Ini adalah tempat tertutup, khusus untuk rombongan.

Di penginapan ini, aku diberikan kamar di lantai dua, berdinding kaca bening di dua sisi, yang kedua-duanya menghadap laut dan pantai berpasir putih. Hanya kamar ini yang memiliki pemandangan dua sisi.

Dari kamar ini terlihat perahu-perahu yang biasa disewakan untuk pengunjung yang ingin melihat lumba-lumba, mengapung (snorkening), menyelam.

Pada sore itu, aku mandi dan salat asar di kamar. Setelah itu, aku tertidur beberapa saat sampai menjelang magrib.

Makan Malam

Seusai salat agrib, aku turun, duduk di kedai makanan penginapan. Setelah menunggu beberapa saat, makanan yang berlauk utama dari laut itu pun siap disajikan.

Yana memilih makan malam bersama di balai-balai kayu yang dipasang dari lantai beranda kedai makanan penginapan, menjurus ke laut sejauh sekira dua puluh meter.

Kami duduk di kursi atas lantai kayu, dikelilingi air, beratap langit berbintang, diterpa angin laut malam.

Kami pun menyantap makanan yang disediakan. Setelah perjalanan seharian dengan mobil terpisah, di sini berkumpul semuanya. Acara gathering Capella Honda Aceh bersama media dan vlogger ini berjalan dengan penuh keakraban.

Makan malam. Gathering Media dan Vlogger Capella Honda Aceh, 5-6 Juni 2024, di Sabang. @Capella Honda Aceh

Seusai makan malam, kami bertukar cerita tentang tugas di perusahaan atau kegiatan masing-masing. Ada beragam kisah diperdengarkan. Kisah perjalanan, sampai menjadi rekanan media Capella Honda Aceh.

Pada kesempatan itu, Yana memberikan penghargaan kepada tiga media yang terbanyak menyiarkan siaran dari Capellla Honda Aceh. Sebelum tengah malam, kami tertidur. Perjalanan sepanjang hari membuat tidur lebih nyenyak.

Matahari dari Balik Kamar Pagi

Pagi tiba. Hidup baru pun dimulai. Segala puji bagi Allah Ta’ala yang masih memberikan akan kita hidup yang menakjubkan. Seusai salat subuh, senam adalah kebiasaan pagiku.

Ketika matahari terbit dari balik Pulau Rubiah, cahaya perkasa dari lazuardi timur itu menerpa kamarku. Pemandangan yang diwarnai cahaya keemasan pagi terlihat dari kedua dinding kaca bening kamar.

Terpampang di depanku, laut bening, Pulau Rubiah, ujung Pulau Weh sebelah kota, Pantai Kasih, dan samudra raya. Itu pemandangan yang tidak akan didapatkan setiap hari, kecuali penginapan ini kubeli, atau aku membeli sebuah kapal pesiar kecil dan menjadikannya sebagai rumah terapung di perairan bawah sana. He he.

Sekira tahun 2000-an, aku pernah membaca sebuah buku, tidak kuingat lagi penulis dan judulnya—itulah kesalahan pembaca–mungkin karya Ziz Ziglar atau John C Maxwel, penulis dan motivator dari Amerika Serikat.

Di buku itu, penulisnya meminta kepada orang-orang, supaya tatkala setiap dari mereka bangun pagi, mereka meneriakkan dengan lantang, kata-kata yang kira-kira begini,

“Aha, ini pagi yang indah untuk menikmati hal menakjubkan yang ditawarkan dunia.”

Saat itu, aku sudah suka membaca dan mencari cara untuk tetap berpikir optimis. Sementara keadaan Aceh, terutama di sekitar kami, di Paloh, Lhokseumawe, saat itu adalah kawasan perang. Tidak ada yang indah. Siapapun tidak berani memastikan akan hidup esok.

Saat itu, usiaku dua puluh tahunan, tinggal di perkampungan. Aku mencoba memahami–memaksa diri untuk memahami–kalimat yang disebutkan di dalam buku itu.

Namun, pikiran mudaku–yang tinggal di lingkungan yang seribu peratus berbeda dengan lingkungan penulis buku itu– tidak benar-benar memahami hal tersebut.

Saat itu, keadaannya kira-kira begini,

“Bagaimana bisa hari itu indah, sementara pada malamnya kita mendengar suara tembakan bertalu-talu, dari dua pihak yang bertempur, memperebutkan tanah Aceh. Tidak ada apapun yang indah dalam perang. Jangankan pihak yang kalah, bahkan pemenang pun kehilangan banyak hal.”

Aku baru memahami kalimat di buku itu setelah dua puluh tahun, sekira beberapa bulan lalu, pada awal tahun 2024, tatkala aku berhasil memisahkan pikiranku dari keadaan yang berkembang, ketika aku berhasil menemukan pemikiranku sendiri dalam hidup ini.

Aku baru memahami keindahan yang dimaksudkan. Semua itu dari pikiran kita sendiri. Bahwa sesungguhnya pikiran kita adalah aset paling berharga di muka bumi ini.

“Ini adalah pagi yang indah untuk mengambil keajaiban yang ditawarkan oleh Allah Ta’ala.”

Sekarang, setiap pagi, aku meyakininya.

Sekira pukul 7:00 WIB, aku turun ke kedai makanan penginapan. Satu per satu rekan rombongan pun muncul dan kami makan bersama.

Menonton Lumba-lumba

Setelah makan pagi itu, Yana meminta kami menaiki dua perahu motor sangkut yang telah disediakan. Perahu yang kami tumpangi melaju dengan kecepatan tinggi, mengejar kawanan lumba-lumba yang mulai menjauh.

Setiap harinya, lumba-lumba mengelilingi pulau Weh. Sekira pukul 7:00 WIB mereka berada tepat di seputar Pulau Rubiah, sekira beberapa ratus meter sampai satu kilometer di hadapan kawasan penginapan kami. Namun, ini sudah pukul 8:00 WIB, kawanan ikan purba yang bersahabat dengan manusia dan suka beratraksi ketika melihat kapal atau perahu itu sudah sampai di ujung lain pulau, jauh di timur laut Pantai Kasih.

Ada kawan di perahu merasa tidak nyaman dengan benturan perahu yang melaju dengan kecepatan tinggi pada air yang bergelombang setinggi sekira satu meter di sepanjang perjalanan. Itu hantaman keras sebanyak puluhan kali. Dengan kecepaan tersebut dan mendapatkan hantaman sekeras itu, jika ini adalah perahu kayu, maka mungkin tidak akan bertahan lama.

“Kalau begini resikonya, kita usah melihat lumba-lumba, tidak sebanding,” celetuk seorang rekan yang ketakutan. Sementara rekan yang lain bersorak keriangan begitu perahu menghantam air. Kuperhatikan pengemudi perahu. Terlihat wajahnya masih memasang raut datar sebagaimana saat perahu berangkat tadi.

Aku membatin dalam keheranan, “Berarti, hantaman sekeras itu adalah hal biasa dalam perjalanan ini.”

Aku yang sebenarnya juga takut pun mengubah pendapatku sehingga menganggapnya sebagai sebuah permainan balap perahu. Namun, sebenarnya, itu bukan lagi permainan. Kami sudah menjauh sekira sepuluh kilometer dari penginapan dan lebih lima kilometer dari daratan Pulau Weh, sebelah timur laut bahu Pantai Kasih. Tidak seorang pun dari kami yang sanggup berenang sejauh itu ke daratan.

Setelah mencari-cari selama puluhan menit, kami menemukan kawanan dua keluarga besar lumba-lumba. Mereka terdiri dari bayi lumba-lumba sampai lumba-lumba dewasa aneka ukuran.

Lebih dari lima menit, kehadiran kami di antara kawanan akrobator laut itu, seperti tidak ada. Mereka mengabaikan kami. Tidak ada atraksi yang mereka berikan, selain mempelihatkan sebagian badan mereka secara serentak dan menyelam kembali di kedalaman.

Pengemudi perahu mengajar kawanan itu, begitu kawanan telihat, mesin perahu dipadamkan. Begitu kawanan lumba-lumba itu menghilang ke dalam air biru, pengemudi kembali menghidupkan perahu dan mengejar ke arah lain seraya mematikan lagi mesin perahu jika kawanan ikan akrobator itu terlihat kembali.

Ini seperti bermain cangkeucubét (petak umpet) dengan lumba-lumba. Begitu lumba-lumba menghilang, pengemudi menghidupkan lagi mesin perahu motor sangkutnya dan memburu kembali ke arah yang diperkirakannya lumba-lumba akan muncul lagi di sana. Begitulah terjadi berulang-ulang selama beberapa kali.

Aku membatin,

“Mengapa ikan purba ini tidak melomat-lompat, apakah mereka sengaja bercanda supaya kami harus menunggu lama. Perahu ini tidak didesain untuk bertahan lama. Mungkin mereka memang ingin bermain cangkeucubét dengan kami karena kami telat muncul. Lumba-lumba memang pandai. He he.”

Setelah kami bertahan hampir sekira sepuluh menit di tepian perairan internasional (samudera raya) itu, satu dua ekor lumba-lumba baru memperlihatkan lompatannya.

Seluruh anggota rombongan berteriak gembira ria begitu melihat lumba-lumba itu. Hilang sudah ketakutan karena kapal membentur air saat ombak beralun melambung tadi. Kami bagaikan sekelompok anak kecil yang mendapatkan gula-gula kesukaan. Jiwa kanak-kanak kami kembali di permukaan lautan dalam itu. Kesenangan tersebut dibiarkan berlangsung selama beberapa puluh menit.

Setelah beberapa kali beratraksi selama puluhan menit, lumba-lumba itu pun menghilang lagi, pengemudi tidak mengejarnya kembali. Yana meminta kami kembali dan singggah ke tempat mengapung (snorkeling) untuk melihat ikan berenang di Pantai Pulau Rubiah, di seberang penginapan.

Mengapung di Air Meilihat Ikan Berenang

Setelah dihempas angin laut selama sekira satu hingga dua jam lebih, kami mendarat di Pantai Pulau Rubiah. Setelah mendapatkan alat mengapung lengkap, kami menjuju perairan khusus untuk snorkeling, yang telah ditandai dengan tali besar. Hanya boleh snorkeling dalam lingkaran tali itu ke pantai.

Setelah mendapatkan petunjuk dari pemandu, kami pun mengapung. Beberapa orang dari kami sempat meneguk air asin sebanyak beberapa kali. Ada yang berenang mengapung ke air sedalam beberapa meter, ada yang sekedar mengapung di air setinggi pinggang. Ada juga yang berfoto dengan kamera yang ditaruh di dalam air sehingga telihat pengapung bersama ikan karang beraneka warna yang dilindungi.

Kembali ke Banda Aceh

Sekira pukul 11:00 WIB kami menuju sebuah ke pantai di dekat penginapan. Kami memungut sampah-sampah yang berserakan. Kemudian, kami kembali ke penginapan, mandi, memakai baju khusus gathering media dan vlogger Capella Honda Aceh.

Setelah mengemasi semua barang bawaan, kami berkendara menuju tempat makan siang, di sebuah restoran yang berada di jalur jalan ke Pelabuhan Balohan. Usai makan siang, Yana membuat sejenis permainan dan membagikan beberapa hadiah. Setelah itu perjalanan dilanjutkan.

Kami singgah di tepi sebuah pantai berkarang runcing berwarna hitam yang berbaris menjadi bahu pantai sejauh ratusan meter. Setelah itu, kami menuju Pelabuhan Balohan.

Setelah membeli barang hadiah di gerai-gerai cendera mata di dekat pelabuhan, kami naik ke kapal Aceh Hebat 2 yang telah disesaki penumpang. Semua kursi penumpang terisi penuh, geladak utama dan beranda samping kiri dan samping kanan juga penuh. Kendaraan juga penuh di geladak dasar. Ada banyak rombongan yang berlibur ke Sabang pekan itu.

Di dalam kapal lembali ke Banda Aceh, suhu badan para penumpang yang menyesaki kapal tidak dapat diturunkan. Pengatur udara di ruangan itu tidak mampu menurunkan suhu ruangan ke dejajat biasa. Kelebihan jumlah penumpang.

Setelah menempuh perjalanan laut yang aman dan lancar selama satu jam empat puluh menit di sore yang cerah itu, kami sampai di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.

Kami pun kembali ke kediaman masing-masing dengan berbagai kesan yang tersimpan di ingatan. Terima kasih, Yana, dan tim Capella Honda Aceh.[]

Baca juga: