Bermain bersama teman-teman mungkin sudah jarang dilakukan oleh anak-anak saat ini, karena di era sekarang anak-anak jarang bermain bersama teman-teman seusia mereka. Mengapa demikian? Karena anak-anak saat ini hampir tidak mengenal permainan tradisional.

Abrasi, itulah kata yang tepat untuk permainan­-permainan tradisional Aceh pada saat ini. Tidak bisa kita pungkiri bahwa derasnya gelombang teknologi telah menggerus permainan-permainan tradisional di Aceh. Banyak yang lebih memilih untuk menghabiskan waktu sendiri untuk bermain dengan permainan yang ada di gadget atau dunia online.

Padahal, permainan tradisional sangat bermanfaat dalam perkembangan kecerdasan sosial dan moral. Permainan tradisional membangun sikap sosial di mana anak mampu menjalin kerjasama, membangun sportivitas, saling percaya dan tolong-menolong. Selain itu juga mengembangkan sikap pribadi, seperti percaya diri dan menguatkan mental anak menghadapi tekanan sosial, termasuk mengelola emosi yang dapat diterima kelompok.

Permainan tradisional juga mengembangkan moralitas, di mana anak belajar menilai mana yang baik dan tidak baik. Misalnya, ada anak yang bermain curang pasti teman-temannya akan memberi hukuman moral dengan tidak mengikutkan anak yang curang dalam permainan.

Geulayang Tunang

Geulayang Tunang terdiri dari dua kata yaitu geulayang yang berarti layang-layang dan tunang yang berarti pertandingan. Jadi geulayang tunang adalah pertandingan layang-layang atau adu layang yang diselenggarakan pada waktu tertentu. Permainan ini sangat digemari di berbagai daerah di Aceh. Mengenai nama permainan ini kadang-kadang juga ada pula yang menyebutnya adu geulayang. Kedua istilah yang disebutkan terakhir sama artinya, hanya lokasinyalah yang berbeda.
Pada zaman dahulu permainan ini diselenggarakan sebagai pengisi waktu setelah mereka panen padi. Sebagai pengisi waktu, permainan ini sangat bersifat rekreatif.

Peh Kayee

Meuen Peh Kayee disebut juga meuen gok atau meuen sungkeet. Para pemain adalah anak-anak yang sudah bisa berhitung, karena untuk mengakhiri permainan dengan hitungan. Perlengkapan yang dibutuhkan sebuah gagang sepanjang lebih kurang 60 cm yang dipergunakan sebagai alat untuk memukul dan sebuah anak kayu sepanjang lebih kurang 10 sampai 15 cm untuk dipukul oleh pemain, juga dibutuhkan lapanga yang luas. Gagang dan anak kayu biasanya dari pelepah rumbia yang telah dipotong-potong dan dibulatkan dengan maksud tidak mencederai bagi pemain karena ringan.

Dalam permainan peh kayee ada beberapa istilah, yaitu boh sungkeet, boh peh, dan boh jeungki. Boh sungkeet adalah bola pertama dalam memulai permainan dengan menyungkit anak yang telah diletakkan diatas lubang yang telah disediakan dengan gagang sekuat mungkin ke arah lawan. Boh peh adalah bola kedua di mana anak diumpamakan sebagai bola sesudah dilambung ke atas kemudian dipukul sekuat mungkin ke arah lawan. Boh jeungki adalah bola ketiga di mana anak diletakkan secara membujur yang sebagian berada di dalam lubang dan kemudian dipukul bagian atas sampai naik, setelah naik diusahakan untuk dipukul secara lemah beberapa kali, seandainya tidak dapat dipukul secara lemah barulah dipukul yang kuat ke arah lawan.

Geudeue-Geudeue

Geudeue-geudeue atau ada yang menyebutnya due-due adalah per­mainan ketangkasan yang terdapat di daerah Pidie. Di samping ketang­kasan, kegesitan, keberanian, dan ke­tabahan, pemain geudeue-geudeue harus bertubuh tegap dan kuat serta memiliki otot yang meyakinkan. Permainan ini kadang-kadang berba­haya, karena merupakan permainan adu kekuatan.

Permainan ini dilakukan oleh se­orang yang berbadan tegap. Mulanya dia tampil di arena menantang dua orang lain yang juga bertubuh tegap. Pihak pertama mengajak pihak kedua yang terdiri atas dua orang supaya menyerbu kepada yang menantang. Ketika terjadi penyerbuan, pihak per­tama memukul dan menghempaskan penyerangnya (pok), sedangkan pihak yang pihak kedua menghempaskan pihak yang pertama.Dalam tiap permainan, bertindak empat orang juru pemisah yang disebut ureueng seumubla (juri), yang berdiri selang-seling mengawasi setiap pemain. Permainan ini mirip dengan olahraga sumo Jepang, be­danya hanya pada jumlah pemain.

permainan tradisional aceh lainnya seperti Meuen Galah, Silat Pelintau, Gatok (Katok), Lomba Perahu tradisional, Panca, Gasing, Sipak Raga, Galumbang, Geuntut (Engrang), Patok Lele, Sepangkal, King Kingan, Tempi, Auh-auh, Bebilun, Cebunih, Gegeli, Mumueng-rimueng, Menduwo, Meukreung-krueng, Somsom Batee, Meuheneb, Nebang kayu, Lateb, Lehong, Dabioih, Nandong, Jejorosen, Barenep Empan,,Berkukuren, Bebaningen, Kededes, Asak-asakan, Lelumpeten, kude Mandi, Pangkal, Dukung, Gedung Skupang, Pak kemiri, Terompah Bambu dan Batok, Beciken, Rangkam, Pepilo, Cak Meng, Cangkerek, Teng-teng Iyek, Berkekucingen, Itik-itiken, Merah Mege, Inin Maskerning, Atu Belah dll.

Dari sekian bnayak permainan tradisional di Aceh hanya beberapa permainan yang masih eksis keberadaannya. Kebanyakan  dari permainan-permainan tersebut sekarang  hanya diketahui oleh kalangan-kalangan orang tua dan sedikit dari kalangan dewasa saja. Sudah  jarang kita temukan permainan-permainan tradisional dimainkan oleh klangan anak-anak maupun remaja  

Kita sebagai orang tua atau masyarakat yang mencintai kebudayaan Aceh harus bijaksana dalam menyeimbangkan permainan tradisional dan permainan modern. Anak-anak memang harus mengikuti perkembangan jaman karena biar bagaimanapun juga itu sudah menjadi tuntutan yang ada untuk saat ini, perkembangan teknologi terus berkembang, tetapi nilai-nilai kebudayaan dan permainan tradisional tidak boleh dilupakan.

Upaya melestarikan permainan tradisional tidak hanya menjadi tugas orang tua, namun menjadi tugas kita sebagai warga Aceh. Sebenarnya kebudayaan yang masih bertahan dapat menjadi daya tarik dalam hal pariwisata di Aceh. Kebudayaan Aceh, baik tarian, permainan tradisional, rumah adat dapat menjadi penyumbang pendapatan jika berbagai kebudayaan tersebut dijadikan sebagai objek wisata. Oleh karena itu, pemerintah sebagai pengawas sekaligus pembimbing harus lebih aktif dalam menekankan pendidikan tentang budaya-budya tradisi. Mata pelajaran yang berkaitan dengan kebudayaan dan bahasa daerah tidak boleh dihilangkan atau diganti dengan mata pelajaran baru. Pendidikan karakter diperlukan dan harus diterapkan. Generasi muda harus segera disadarkan bahwa budaya dari luar yang negatif dapat menghancurkan negara kita sendiri. Selain itu cara pendidikan tentang budaya harus dengan cara yang menarik agar generasi muda menjadi tertarik untuk mempelajarinya.

Oleh sebab itu mari kita bersama-sama memperkenalkan dan melestarikan pemaian tradisiona di Acehl. Walaupun sepertinya sulit karena sudah tergerus oleh permainan modern, tapi semoga saja para generasi muda kita masih bisa melihat bahkan memainkan permainan tradisional.[]

Dikirim oleh Anjas Hermi