BANDA ACEH – Museum Tsunami Aceh melangsungkan Pameran Temporer bertema ‘Nelayan dan Tsunami Aceh’ dengan judul “Kehidupan Nelayan pasca Tsunami 2004” malam ini 3 Mei 2017.

Koordinator Museum Tsunami Aceh, Almuniza Kamal, STTP,. M.Si, mengatakan, pameran tersebut menampilkan kurang lebih 32 jenis koleksi berkenaan dengan kehidupan nelayan, video saksi hidup nelayan yang selamat dari musibah tsunami, sejarah mengenai panglima laot, dan media edukatif mitigasi bencana gempa dan tsunami.

“Pameran ini mengkisahkan tentang jejak Panglima Laot sejak zaman Pemerintahan Samudera Pasai dan Aceh Darussalam, dari abad ke 14 dengan menghadirkan empat tokoh Amirul Bahri (Panglima Laot), di antaranya Syahbandar Mu’tabar Khan (1734), Teuku Umar (1854) , Syahbandar Gieging (1879), dan Teuku Maharaja Teluk Samawi (1880),” kata Almuniza.

Selain itu, Pameran Foto Pesona Aceh yang diprakarsai oleh Birokrat Fotografer Club (BFC) dan Museum Trip at Night (museum dibuka khusus pada malam hari) turut diselenggarakan bersamaan dengan berlangsungnya pembukaan Pameran Temporer ini.

“Tadi dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh, disertai dengan beberapa penampilan seni budaya dan gunting pita peresmian pameran yang dimulai malam ini sampai 14 Mei 2017 nanti,” kata Almuniza.

“Kami mengundang seluruh masyarakat untuk turut hadir memeriahkan pameran temporer ini sekaligus menikmati trip kunjungan Museum Tsunami Aceh,” tambah Almuniza.

“Sekarang ini Aceh telah bangkit dari segala luka dan kesedihan. Begitu juga dengan nelayan Aceh, mereka telah bangkit dari musibah tsunami 2004. Saat ini Aceh sedang bergerak untuk melangkah dan menata kembali kehidupan yang pernah hancur dalam kesedihan dan kedukaan yang cukup dalam. Bukan hanya untuk mengembalikan yang lama, tetapi juga sekaligus membangun yang baru dengan lebih baik. Untuk itu perlu kita tampilkan kisah-kisah mereka agar menjadi pembelajaran bagi generasi muda untuk lebih siap menghadapi bencana yang mungkin akan datang kapan dan dimana saja,” tambahnya.[]