BANDA ACEH – Ketua Program Studi Sejarah FKIP Universitas Syiah Kuala, Mawardi Umar, mengatakan peristiwa tsunami dan penandatangan MoU Helsinki adalah dua peristiwa besar yang telah mengubah Aceh dari berbagai perspektif.

“Sulit memisahkan antara MoU dan tsunami karena dua peristiwa ini punya hubungan paralel yang bergerak bersama. Yang jelas, MoU dan tsunami adalah peristiwa sejarah besar yang telah mengubah Aceh,” ucap Mawardi saat dihubungi portalsatu.com, Selasa, 16 Agustus 2016.

Konflik bersenjata yang telah terjadi puluhan tahun membuat Aceh lelah dan trauma. Ia mengatakan konflik telah membawa dampak terhadap berbagai Aceh. Mulai dari ekonomi, pembangunan, sosial dan psikologis rakyat Aceh.

Akan tetapi dengan munculnya musibah tsunami maka berbagai pihak sadar untuk menghentikan konflik. Ia mengatakan kedua peristiwa ini telah membawa Aceh ke era baru.

“Kalau konflik tidak berhenti karena MoU mungkin saja bantuan akan sulit datang ke Aceh. Dapat dibayangkan bagaimana menderitanya korban tsunami kala itu,” kata Mawardi.

Ia mengatakan kedua peristiwa sejarah itu haruslah menjadi pelajaran berharga bagi rakyat Aceh. Kalau Aceh sudah aman, inilah saatnya kembali harus berjuang untuk menjadi lebih baik. Dua peristiwa tersebut setidaknya menjadi titik baru untuk memulai era baru.

“Kedua peristiwa itu menjadi sejarah besar dan harus menjadi pelajaran bagi kita semua,” kata dia.[](tyb)