BANDA ACEH — Budayawan Aceh Barlian AW mengatakan, Aceh tidak bisa dibangun dengan kekerasan. Melainkan dengan kejenakaan-kejenakaan. Dalam konteks ini ia mengatakan, Amir Husin Al-Mujahid merupakan sosok yang sangat jenaka.

“Maka dia punya jaringan yang sangat banyak, mulai saat zaman pra-kemerdekaan, saat prang Cumbok, hingga pada masa DI/TII,” ujar Barlian AW dalam peluncuran dan bedah buku “Jenderal Mayor Amir Husin Al-Mujahid – Aku Tetap Konsisten Terhadap Pesan Khusus Sultan Aceh Terakhir-” karya DR. Ahmad Fauzi, M. Ag di Ruang Senat Rektor Unsyiah, Senin, 2 Oktober 2017.

Kejenakaan Amir Husin digambarkan Barlian dalam sepenggal kisah di tahun 1979. Saat itu ia menemani salah satu mahasiswa asal Aceh Besar untuk bertemu dengan Amir Husin. Mahasiswa tersebut ingin menggali cerita mengenai peristiwa perang Cumbok sebagai bahan skripsinya. Salah satu pertanyaan yang ditanyakan mahasiswa tersebut adalah mengapa Amir Husin menangkap T. Nyak Arif?

Meunye tanyoe ureung ubeut harus tadrop ureung rayek,” kata Barlian mengutip jawaban Amir Husin di hadapan mahasiswa tersebut berpuluh tahun silam.

Baca: Alkaf: Perlu Membaca Kembali Peran Amir Husin Al-Mujahid Secara Jernih dan Arif

Barlian AW menggambarkan Amir Husin Al-Mujahid sebagai sosok yang sangat logis, hebat dan berkesenian tinggi. Ia sangat menguasai ilmu mantik. Bahkan namanya ditabalkan dalam penggalan radad atau syair dalam tari Seudati yaitu “… laen si mad usen lah…”

“Tapi satu hal, bahwa kita sering melupakan orang. Betapa hebatnya Husin Mujahid, tapi kita nggak punya buku, selain cerita miring. Maka ini menjadi apresiasi untuk Ahmad Fauzi selaku penulis,” kata Barlian.

Gubernur Aceh ke-18 Abdullah Puteh, yang turut menjadi pembicara dalam bedah buku ini punya kenangan tersendiri mengenai Amir Husin semasa hidupnya. Ketika Abdullah Puteh masih kecil, ia pernah menyaksikan bagaimana Amir Husen menegur seseorang di Masjid Keude Dua, Idi Rayek, karena cara berwudunya yang salah. Tanpa sungkan Amir Husin menunjukkan bagaimana cara mencuci kaki yang benar sebagai rangkaian terakhir dalam berwudu kepada orang tersebut.

Kejenakaan tersebut juga digambarkan oleh Rektor Unsyiah Prof. Samsul Rizal dalam sambutannya dalam buku setebal 96 halaman tersebut. Suatu ketika saat sedang salat Jumat di sebuah masjid di Idi Rayek, sang khatib membawakan khutbah yang dinilai melenceng. Dikhawatirkan bisa berdampak pada memecah belah persatuan anak negeri. Amir Husin lantas menegurnya dengan cara yang 'jenaka'.

Ia tidak menegur langsung melainkan melempar atap masjid dengan batu. Dengan dalih mengusir jin yang bergentayangan di masjid. Konon kabar ini sampai ke telinga Ali Hasjmy yang ketika itu masih di Padang Panjang, Sumatera Barat. Namun akibat perbuatannya ini Husin Al-Mujahid dikirim ke Bireuen berdasarkan keputusan sidang Uleebalang.

Amir Husin Al-Mujahid lahir di Idi pada 1900 Masehi. Ayahnya Amir Sulaiman bin Amir Abbas bin Amir Aminullah bin Amir Hidayat berasal dari Persia (Iran). Sedangkan ibunya Cut Manyak binti Muhammad Yusuf bin Syeikh Yakub binti Syeikh Abdussalam memiliki darah Yaman. Tak heran bila Amir Husin memiliki postur dan raut wajah yang berbeda dengan masyarakat di sekitarnya ketika itu. Ia meninggal dunia sekitar tahun 80-an.[]